BPIP: Pendidikan Pancasila Bangkit Lagi Setelah Vakum Sejak Reformasi

- Pendidikan Pancasila kembali menjadi mata pelajaran mandiri setelah vakum sejak Reformasi, dengan tujuan menghidupkan kembali penanaman nilai-nilai dasar negara kepada generasi muda.
- Kurikulum baru menekankan 70 persen praktik lapangan dan 30 persen teori agar siswa dapat mengaktualisasikan nilai Pancasila melalui kegiatan nyata di masyarakat.
- Pramono Anung mendorong pembelajaran Pancasila yang relevan dengan isu terkini dan dilakukan secara menyenangkan agar siswa memahami makna ideologi bangsa secara mendalam.
Jakarta, IDN Times - Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi, mengatakan, Pendidikan Pancasila kini kembali dikukuhkan sebagai mata pelajaran mandiri setelah sempat tidak menjadi fokus utama dalam kurikulum pendidikan nasional selama era Reformasi.
"Sejak tahun 1998, setelah reformasi, itu kan sempat vakum. Semoga kegiatan ini menjadi akselerasi pemanfaatan Buku Teks Utama Pendidikan Pancasila pada seluruh jenjang satuan pendidikan serta mengembalikan eksistensi nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan," ujar Yudian di Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).
Dia mengatakan, langkah ini diambil untuk mengembalikan eksistensi nilai-nilai dasar negara yang sempat mengalami kekosongan selama hampir tiga dekade terakhir.
1. Komposisi kurikulum berbasis praktik lapangan

Yudian mengatakan, skema pendidikan pancasila mulai menerapkan pembagian porsi materi yang lebih menitikberatkan pada aspek implementasi di luar ruangan. Secara teknis, kurikulum ini dirancang dengan komposisi 30 persen aspek pengetahuan teoritis dan 70 persen praktik aktualisasi di lapangan.
Yudian mengatakan, pendekatan kognitif tetap diberikan sebagai dasar, tetapi porsi terbesar diarahkan pada penugasan yang membuat siswa terjun langsung ke lingkungan masyarakat. Dengan perbandingan tersebut, peserta didik diharapkan dapat menghayati nilai-nilai Pancasila melalui aksi nyata, seperti kegiatan menjaga lingkungan hingga perilaku antikorupsi.
2. Pramono Anung minta endidikan Pancasila di sekolah dikaitkan dengan isu terkini

Tak hanya itu, Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menginstruksikan agar pengajaran Pancasila di lingkungan sekolah tidak lagi sebatas teori tekstual, melainkan harus diintegrasikan dengan isu terkini.
"Saya sungguh berharap bahwa Pancasila itu hadir di dalam ruang diskusi yang hidup di kelas. Jangan bersifat dogmatis dengan mengaitkan proses pembelajaran para siswa dengan hal-hal aktual apa yang terjadi pada masyarakat saat ini," ujar Pramono.
Dia mengatakan, nilai-nilai ideologi bangsa perlu dihadirkan dalam ruang diskusi yang relevan agar para siswa dapat memahami perannya di tengah perkembangan zaman.
3. Penerapan metode pembelajaran yang menyenangkan

Selain itu, Pramono mendorong agar para guru menjadikan proses pengenalan ideologi bangsa sebagai sesuatu yang bermakna dan tidak sekadar menjadi hafalan bagi para siswa.
Metode yang menyenangkan dianggap lebih kuat dalam membentuk karakter anak didik dibandingkan dengan cara-cara konvensional yang kaku.
“Jadikan proses pembelajaran ini yang menyenangkan dan bermakna, jangan sekadar hanya menjadi hafalan. Kalau hafalan pasti saya yakin di ruang ini semuanya hafal Pancasila, tetapi (buat) menjadi menyenangkan,” kata Pramono.
Menurut Pramono, hal ini bertujuan agar siswa tidak hanya menghafal sila-sila Pancasila, tetapi juga merasakan kebermanfaatannya dalam interaksi sosial sehari-hari.


















