Jadi Khotib, Mahfud MD Singgung Korupsi-Kekerasan Nodai Negara

- Mahfud MD menjadi khotib salat Idul Fitri 1447 H di Masjid UAI Jakarta, dihadiri sejumlah tokoh nasional seperti Jusuf Kalla, Anies Baswedan, dan Jimly Asshiddiqie.
- Dalam khotbahnya, Mahfud menyoroti maraknya korupsi dan kekerasan yang dianggap menodai fitrah bangsa serta mengingatkan bahwa perilaku memakan uang haram menyengsarakan pelakunya sendiri.
- Ia mengajak masyarakat menjadikan Idul Fitri sebagai momen kembali ke fitrah dengan meningkatkan ketaqwaan dan kesadaran akan pengawasan Tuhan dalam setiap perbuatan.
Jakarta, IDN Times - Eks Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, menjadi khotib dalam pelaksanaan sholat Idul Fitri 1447 Hijriyah di Masjid Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Jakarta Selatan, Sabtu (21/3/2026).
Dalam pelaksanaan sholat Idul Fitri itu, sejumlah pejabat dan tokoh di Indonesia hadir. Ada Wakil Presiden (Waores) ke-10 dan 12 Republik Indonesia (RI), Jusuf Kalla alias JK; mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan; Putra Presiden Prabowo Subianto, Didit Prabowo; dan Ketua Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar sekaligus mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie.
Mahfud menyampaikan khotbah kurang lebih 25 menit. Ada beberapa isu yang dia soroti, salah satunya tindak pidana yang menodai negara.
“Sekarang ini negara kita sudah banyak noda. Yang melakukannya berbagai pihak. Ya masyarakatnya, ya pejabat. Banyak korupsi dan banyak kekerasan, banyak kesewenang-wenangan di tengah masyarakat. Ini semua menodai fitrah,” kata Mahfud MD.
1. Beberkan perilaku yang menyengsarakan diri

Mahfud mengatakan, korupsi alias memakan uang haram adalah perilaku yang tak hanya menyengsarakan orang lain, tapi juga diri pelaku itu sendiri.
“Jangan dikira orang-orang yang makan uang haram dengan seenaknya korupsi, memungkut riba dengan suka-suka, sewenang-wenang mengambil hak masyarakat itu hidupnya enak,” kata Mahfud.
Mahfud pun mengutip Hadis Riwayat (HR) Tirmidzi dan Thabrani yang menekankan hukuman bagi umat Allah yang memakan uang haram.
“Barang siapa yang makan barang-barang haram, maka neraka menjadi hak baginya,” ucap Mahfud.
2. Mengajak masyarakat menjadikan Idul Fitri sebagai momen kembali ke fitrah

Mahfud pun mengajak masyarakat menjadikan momen Hari Raya Idul Fitri sebagai ajang kembali ke fitrah, yang artinya kembali menjadi manusia yang suci, yang lurus.
“Hari ini adalah hari Idul Fitri, yang salah satu artinya adalah kembali ke asal kejadian atau kembali ke fitrah,” ujar Mahfud.
3. Jalani fitrah dengan ketaqwaan

Untuk kembali ke fitrah, dibutuhkan ketaqwaan alias dengan berhati-hati. Maksudnya, menjalankan keseharian dengan merasa terus diawasi Tuhan Yang Maha Esa, sehingga bisa dijauhkan dari perbuatan tercela.
“Itulah taqwa. Selalu berkonsultasi dengan syariah, selalu merasa diawasi oleh Allah, sehingga kita tidak akan berbuat salah karena kita tahu bahwa kita sedang diawasi oleh Allah,” ujar Mahfud.

















