Houthi Klaim Serang Dua Kapal Tanker Arab Saudi di Laut Merah

- Kelompok Houthi mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah menggunakan rudal dan drone, menyebabkan kebakaran di kapal Encelia namun seluruh awak berhasil selamat.
- Houthi menutup akses Selat Bab al-Mandeb bagi kapal menuju pelabuhan Saudi, memicu perubahan rute puluhan tanker dan meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global hingga 25 persen.
- Militer AS melancarkan serangan udara ke-12 ke wilayah Iran untuk menekan ancaman terhadap pelayaran, sementara Iran memperingatkan akan membalas jika infrastruktur negaranya kembali diserang.
Jakarta, IDN Times - Kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi di Laut Merah pada Rabu (22/7/2026). Serangan ini menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone hingga memicu kebakaran di salah satu kapal.
Aksi tersebut menjadi serangan pertama sejak Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi pekan ini. Insiden ini berisiko memperluas eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang kian memanas.
1. Kapal Saudi sempat terbakar akibat serangan

Dua kapal tanker yang menjadi sasaran serangan Houthi bernama Encelia dan Layla. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menyatakan serangan dilakukan karena kedua kapal melanggar blokade.
Kapal Encelia dilaporkan terkena hantaman proyektil di sisi kanan hingga memicu kebakaran saat berada sekitar 130 kilometer di barat daya Al-Shuqaiq. Kapten kapal mengirimkan sinyal darurat dan seluruh awak sempat berjuang memadamkan api.
Otoritas Transportasi Umum Arab Saudi mengonfirmasi bahwa kapal Encelia memang terkena serangan di Laut Merah. Namun, seluruh awak kapal dipastikan berada dalam kondisi selamat. Sementara itu, klaim serangan terhadap kapal Layla belum dapat dikonfirmasi secara independen.
2. Houthi tutup Selat Bab al-Mandeb untuk kapal Saudi

Serangan terhadap tanker minyak ini terjadi beberapa hari setelah Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Kelompok tersebut menutup akses Selat Bab al-Mandeb bagi kapal-kapal yang menuju pelabuhan Saudi.
Akibat ancaman tersebut, hampir 10 kapal tanker memilih mengubah haluan dan memutar balik untuk menghindari kawasan rawan. Penutupan jalur ini memotong rute alternatif ekspor minyak Saudi yang sebelumnya digunakan untuk menghindari Selat Hormuz.
Selat Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia dengan lebar hanya 29 kilometer. Gangguan di selat ini bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz berisiko menghentikan aliran 25 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Houthi menegaskan blokade ini merupakan balasan atas tindakan Arab Saudi yang dianggap mengisolasi Yaman. Langkah ini dikhawatirkan akan memicu lonjakan harga energi global.
3. AS luncurkan serangan malam ke-12 ke wilayah Iran

Di saat bersamaan, militer Amerika Serikat (AS) melancarkan gelombang serangan udara malam ke-12 ke wilayah Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi ini bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial.
Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik di Iran untuk setiap serangan terhadap kapal di Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran juga menyatakan pihaknya siap membalas serangan AS.
"Jika keamanan kami tidak dijamin, tidak ada infrastruktur yang akan aman," tutur kepala juru runding Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, dilansir Al Jazeera.
Eskalasi militer ini terus memakan korban jiwa dari kedua belah pihak. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan puluhan warga sipil tewas sejak serangan berlanjut akhir bulan lalu.





















