Zelenskyy Pecat Panglima Militer Ukraina Buntut Demo Besar Pemecatan Menhan

- Presiden Zelenskyy mencopot Oleksandr Syrskyi dan menunjuk Mykhailo Drapatyi sebagai panglima baru setelah demo besar menuntut kembalinya Mykhailo Fedorov ke pemerintahan.
- Drapatyi, jenderal berpengalaman sejak konflik Donbas 2014, ditugaskan memperbarui strategi pertahanan nasional serta melanjutkan serangan drone terhadap target strategis Rusia.
- Pergantian panglima terjadi di tengah meningkatnya serangan udara Ukraina-Rusia yang menewaskan lebih dari 1.300 warga sipil dalam enam bulan pertama 2026 menurut laporan PBB.
Jakarta, IDN Times ā Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mencopot Oleksandr Syrskyi dari jabatan panglima tertinggi militer dan menunjuk Mykhailo Drapatyi sebagai penggantinya. Keputusan itu diambil setelah enam hari demonstrasi di ibu kota Kiev yang dipicu oleh pemecatan Menteri Pertahanan, Mykhailo Fedorov.
Zelenskyy juga mengumumkan akan membawa kembali Fedorov ke dalam pemerintahan. Namun, belum dipastikan jabatan baru yang akan diemban Fedorov setelah posisinya sebagai menteri pertahanan diisi oleh mantan komandan pasukan operasi khusus, Yevhen Khmara.
Pada Selasa (21/7/2026), Zelenskyy bertemu dengan Fedorov dan menawarkan posisi yang disebutnya sebagai jabatan terhormat dalam pemerintahan yang akan menyatukan sektor teknologi Ukraina. Namun, hingga kini belum diketahui apakah Fedorov menerima tawaran tersebut.
Perombakan besar di tubuh militer itu diharapkan dapat meredakan aksi protes yang menuntut pencopotan Syrskyi. Sebelumnya, para demonstran memberikan tenggat waktu hingga Jumat untuk mengembalikan Fedorov ke kabinet dan mengancam akan menggelar demonstrasi tanpa batas waktu apabila tuntutan mereka diabaikan, dikutip dari The Guardian.
1. Drapatyi merupakan tokoh yang dihormati di Ukraina

Drapatyi dikenal sebagai salah satu jenderal yang dihormati di lingkungan militer Ukraina sekaligus memiliki citra positif di mata publik. Dia juga dipandang sebagai sekutu dekat Fedorov yang selama ini mendorong modernisasi angkatan bersenjata melalui pemanfaatan teknologi dan data.
Mayor jenderal tersebut telah terlibat dalam perang melawan Rusia sejak upaya pencaplokan wilayah Donbas pada 2014. Drapatyi dikenal luas setelah menerobos barikade milisi pro-Moskow menggunakan kendaraan tempur infanteri di Mariupol.
Zelenskyy mengatakan dirinya telah sepakat dengan Drapatyi untuk melanjutkan serangan drone jarak jauh terhadap sejumlah sasaran strategis Rusia, termasuk kilang minyak. Pemimpin Ukraina itu menjanjikan transisi kepemimpinan yang lancar dan terkoordinasi setelah pencopotan Syrskyi.
Selain memimpin operasi militer, Drapatyi juga ditugaskan untuk memperbarui strategi pertahanan nasional serta mereformasi struktur angkatan bersenjata. Salah satu tantangan terbesarnya adalah meningkatkan mobilisasi militer ketika semakin sedikit warga Ukraina yang bersedia menjadi sukarelawan setelah hampir lima tahun perang berskala penuh.
2. Fedorov menuding Syrskyi menghalangi upaya reformasi militer Ukraina

Fedorov berupaya mempercepat inovasi drone dan meningkatkan penggunaan teknologi dalam operasi militer. Fedorov menuduh Syrskyi menghambat agenda reformasi tersebut dan mengatakan bahwa Syrskyi perlu diganti jika Ukraina ingin mengalahkan invasi Rusia.
Dilansir NBC News, Syrskyi dikenal sebagai komandan bergaya konvensional yang mengandalkan infanteri dan artileri. Sebaliknya, Fedorov dipandang sebagai tokoh pembaru yang menitikberatkan pada inovasi teknologi, terutama dalam perang drone yang berkontribusi terhadap sejumlah serangan Kiev ke wilayah Rusia.
Bagi banyak demonstran di Ukraina, Syrskyi menjadi simbol pendekatan militer bergaya Soviet yang dinilai sudah tidak relevan. Sementara itu, Fedorov dianggap mewakili generasi baru yang ingin mengalahkan Moskow melalui inovasi teknologi.
3. Ukraina dan Rusia saling mengintensifkan serangan

Pergantian panglima terjadi ketika Ukraina dan Rusia saling meningkatkan intensitas serangan udara dalam beberapa bulan terakhir. Kedua negara terus menargetkan infrastruktur vital, sementara pembicaraan damai yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) masih mengalami kebuntuan, dengan fokus Washington sebagian besar beralih ke perang melawan Iran.
Mengutip laporan Al Jazeera, Rusia terus menggunakan rudal balistik untuk menyerang Ukraina. Di sisi lain, Kiev dilaporkan mulai kekurangan amunisi pencegat Patriot yang menjadi sistem pertahanan utama untuk menghadapi serangan tersebut. Ukraina meningkatkan serangan ke wilayah Rusia dengan fokus pada depot-depot minyak.
Kepala Misi Pemantauan HAM PBB di Ukraina, Danielle Bell, mengatakan pihaknya mencatat 1.396 warga sipil tewas dan 7.978 lainnya terluka di Ukraina selama enam bulan pertama 2026. Jumlah itu meningkat 37 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dan hampir dua kali lipat dibandingkan dengan dokumentasi pada 2024.




















