Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Legislator PDIP: Prabowo Harus Dorong Palestina Dilibatkan Dalam BoP

Legislator PDIP: Prabowo Harus Dorong Palestina Dilibatkan Dalam BoP
Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin (IDN Times/Aryodamar)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Anggota DPR TB Hasanuddin mendesak Presiden Prabowo mendorong Palestina dilibatkan dalam forum Board of Peace agar proses pengambilan keputusan berlangsung adil dan sesuai komitmen konstitusi Indonesia.
  • Jusuf Kalla menilai efektivitas BoP harus diuji dari kontribusinya terhadap perdamaian Palestina, serta menegaskan pentingnya pengakuan terhadap Palestina sebagai langkah menuju penyelesaian konflik yang adil.
  • Guru besar Universitas Padjadjaran menyerukan evaluasi keanggotaan Indonesia di BoP dan menegaskan perlunya konsistensi kebijakan luar negeri bebas aktif di tengah ketegangan geopolitik global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, mendorong Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah diplomatik agar Palestina dilibatkan dalam forum Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) jika organisasi tersebut benar-benar bertujuan untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Menurut dia, keterlibatan Palestina dalam forum BoP sangat penting agar proses pengambilan keputusan dapat berlangsung secara adil dan setara. Dengan begitu, Palestina dapat duduk bersama dalam forum internasional tersebut untuk menyampaikan kepentingannya secara langsung.

Sebab, tanpa kehadiran Palestina, ikhtiar untuk membicarakan masa depan dan hak-hak rakyat bangsa Palestina dikhawatirkan tidak akan mencerminkan keadilan yang sesungguhnya.

"Jika tujuan forum ini adalah untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan menghadirkan keadilan, maka Palestina harus diberi ruang untuk ikut serta dan berdiskusi secara setara,” ujar TB Hasanuddin kepada wartawan, Minggu (8/3/2026).

1. Langkah diplomatik terkait Palestina harus sesuai konstitusi

Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin (IDN Times/Amir Faisol)
Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin (IDN Times/Amir Faisol)

Ia menegaskan, Indonesia sejak lama memiliki komitmen kuat untuk mendukung kemerdekaan Palestina sesuai amanat konstitusi. Oleh karena itu, berbagai langkah diplomasi yang ditempuh Indonesia di tingkat internasional harus tetap konsisten dengan prinsip tersebut.

Pelembagaan BoP sejak awal diinisiasi oleh Amerika Serikat dan disetujui melalui Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 2803 pada November 2025. Dalam perkembangannya, keanggotaan BoP ditentukan oleh Amerika Serikat sebagai inisiator melalui mekanisme undangan resmi.

Namun hingga saat ini, tidak terdapat undangan yang diberikan kepada perwakilan Palestina. Sebenarnya keberadaan BoP membuat pembagian besar negara-negara.

Ada yang menerima undangan dan ikut, ada pula yang menerima undangan dan menyatakan tak ikut. Adapun daftar negara yang ikut BoP, di antaranya Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Armenia, Azerbaijan, Bahrain, Bulgaria, El Salvador, Hungaria, dan Indonesia.

Kemudian, Israel, Kazakstan, Kosovo, Mongolia, Maroko, Pakistan, Paraguai, Qatar, Turki, Uni Emirat Arab (UEA), Uzbekistan, dan Yordania ikut bergabung di dalam forum itu.

2. Jusuf Kalla: kalau BoP untuk dukung Israel buat apa?

Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Wakil Presiden ke-10 dan 12, Jusuf Kalla (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, menilai, pembentukan Board of Peace perlu dilihat dampaknya terhadap upaya menciptakan perdamaian, khususnya bagi Palestina.

Pernyataan tersebut disampaikan JK kepada wartawan usai menghadiri diskusi tokoh lintas generasi di kawasan Jakarta Selatan, Sabtu (7/3/2026).

“Ya kita lihat dulu apa yang dilakukan beberapa bulan akan datang. Kalau BOP itu bisa membuat kedamaian di Palestina, contohnya, oke kita dukung,” kata JK.

JK juga menyebut sejumlah negara Islam pada prinsipnya memiliki keinginan untuk mendorong perdamaian di Palestina. Namun, ia menilai dinamika politik internasional sering kali menjadi hambatan dalam mewujudkan langkah konkret.

Salah satu faktor utamanya adalah penggunaan hak veto oleh negara besar seperti Amerika Serikat dalam berbagai forum internasional.

JK menilai, pengakuan terhadap Palestina merupakan salah satu kunci untuk mendorong penyelesaian konflik yang lebih adil.

“Cara mendamaikannya adalah dengan memberikan pengakuan kepada Palestina. Kalau tidak, hanya mendukung Israel, buat apa,” kata Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) itu.

3. Guru besar Unpad dorong Prabowo evaluasi keterlibatan RI di BoP

Prabowo hadiri pertemuan anggota BoP
Presiden Prabowo menghadiri pertemuan perdana Board of Peace (BoP) di Amerika Serikat (Youtube.com/Sekretariat Presiden)

Sejumlah guru besar dan civitas akademika Universitas Padjadjaran menyampaikan pernyataan sikap terkait dinamika kebijakan luar negeri Indonesia, yang dinilai tengah menghadapi berbagai tantangan global.

Pernyataan bertajuk “Seruan Padjadjaran” itu disampaikan di Bandung pada 5 Maret 2026. Dalam pernyataan tersebut, para akademisi menilai, posisi diplomasi Indonesia yang berlandaskan prinsip bebas aktif sedang menghadapi ujian di tengah berbagai perkembangan geopolitik internasional. Seruan ini diketahui oleh Ketua Dewan Profesor, Prof. Dr. Atwar Bajari hingga Ketua Senat Akademik, Por. Dr. Yoni Syukriani.

Beberapa dinamika yang disoroti antara lain keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk bergabung dalam BoP, penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang dinilai berpotensi merugikan Indonesia, hingga meningkatnya ketegangan geopolitik akibat agresi militer Israel terhadap Iran yang disebut mendapat bantuan Amerika Serikat.

"Para akademisi menegaskan bahwa prinsip kebijakan luar negeri Indonesia telah ditegaskan dalam Pembukaan UUD 1945. Dalam pembukaan tersebut dinyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan," ujar perwakilan melalui siaran pers dikutip IDN Times, Jumat (6/3/2026).

Menurut mereka, prinsip bebas aktif bukan berarti Indonesia bersikap tanpa sikap dalam konflik internasional. Kebijakan luar negeri yang aktif justru menuntut keberpihakan pada nilai kemanusiaan dan keadilan ketika terjadi pelanggaran terhadap hukum internasional.

Dalam pernyataan sikap tersebut, para guru besar dan civitas akademika Universitas Padjadjaran menyampaikan beberapa poin sikap sebagai berikut:

Kecaman keras terhadap agresi militer Israel terhadap Iran yang disebut mendapat bantuan Amerika Serikat. Serangan terhadap negara berdaulat dinilai sebagai eskalasi ekstrem yang melanggar hukum internasional, mengancam stabilitas kawasan, serta memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas.

Duka cita atas wafatnya para pemimpin Iran dan warga sipil yang menjadi korban. Tragedi ini dinilai bukan hanya menjadi kehilangan bagi bangsa Iran, tetapi juga dapat menjadi preseden berbahaya dalam praktik hubungan internasional jika pembunuhan politik terhadap kepala negara dinormalisasi sebagai instrumen kebijakan luar negeri.

Seruan kepada Pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas dan konsisten terhadap prinsip kebijakan luar negeri bebas aktif. Mereka juga meminta Presiden untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP).

Seruan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk melakukan kajian kritis terhadap Agreement on Reciprocal Trade (ART) serta keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP).

Seruan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan masyarakat internasional agar segera menghentikan segala bentuk agresi militer dan mendorong seluruh pihak kembali ke jalur diplomasi serta penyelesaian konflik berdasarkan prinsip hukum internasional.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More