Survei Ungkap Generasi Muda Jepang Paling Pesimistis soal Masa Depan

- Survei Nippon Foundation menunjukkan hanya 16% remaja Jepang yakin masa depan negaranya akan membaik, menjadikannya yang paling pesimistis dibandingkan enam negara lain.
- Hanya 62% anak muda Jepang memiliki mimpi pribadi untuk masa depan, angka terendah di antara negara peserta, mencerminkan menurunnya rasa percaya diri dan tujuan hidup.
- Pandangan pesimis turut memengaruhi sikap terhadap pendidikan, pekerjaan, hingga pernikahan; banyak remaja Jepang merasa peluang sukses terbatas dan minat berkeluarga menurun.
Menjadi anak muda biasanya identik dengan semangat besar, mimpi tinggi, dan optimisme soal masa depan. Banyak orang menganggap usia belasan hingga awal 20-an adalah masa paling ideal untuk membangun harapan dan merancang hidup. Akan tetapi, kondisi itu ternyata gak dirasakan oleh semua generasi muda di berbagai negara.
Survei terbaru justru menunjukkan bahwa anak muda di Jepang memiliki tingkat optimisme paling rendah dibandingkan negara lain. Mereka bukan hanya pesimistis terhadap masa depan pribadi, tapi juga terhadap masa depan negaranya sendiri.
Kondisi ini menarik perhatian karena Jepang dikenal sebagai negara maju dengan sistem pendidikan dan ekonomi yang kuat. Namun di balik kemajuan itu, banyak anak muda merasa kurang yakin terhadap peluang hidup mereka ke depan.
Pandangan ini juga berpengaruh pada cara mereka melihat pendidikan, pekerjaan, bahkan pernikahan. Kalau dibiarkan terus, pesimisme seperti ini bisa berdampak besar pada masa depan sosial Jepang.
1. Harapan terhadap masa depan negara sangat rendah

Dilansir The Japan Times, survei dari Nippon Foundation yang melibatkan 1.000 responden usia 17 sampai 19 tahun di Jepang, Amerika Serikat, China, Korea Selatan, Inggris, dan India menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan. Hanya sekitar 16 persen responden muda di Jepang yang percaya bahwa masa depan negaranya akan menjadi lebih baik. Angka ini menjadi yang paling rendah dibandingkan seluruh negara peserta survei.
Sebagai perbandingan, India berada di posisi tertinggi dengan sekitar 62 persen, disusul China sebesar 55 persen. Amerika Serikat, Inggris, dan Korea Selatan juga masih berada jauh di atas Jepang. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak anak muda Jepang tumbuh dengan rasa ragu terhadap arah masa depan negaranya sendiri, meski hidup di negara maju.
Rasa pesimis ini bisa muncul dari banyak faktor, mulai dari tekanan sosial, persaingan kerja yang ketat, hingga kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi jangka panjang. Ketika anak muda merasa negaranya gak menjanjikan masa depan yang cerah, motivasi untuk berkembang pun bisa ikut menurun. Akibatnya, semangat untuk berkontribusi pada masyarakat juga bisa semakin melemah.
2. Mimpi pribadi juga semakin menurun

Bukan hanya soal negara, pandangan terhadap masa depan diri sendiri juga menunjukkan pola serupa. Dalam survei yang sama, hanya sekitar 62 persen anak muda Jepang yang mengatakan bahwa mereka memiliki mimpi untuk masa depan mereka. Lagi-lagi, angka ini menjadi yang paling rendah dibandingkan lima negara lainnya.
India kembali menjadi negara dengan angka tertinggi, yakni sekitar 86 persen. Selisih lebih dari 20 poin ini menunjukkan perbedaan besar dalam cara generasi muda memandang hidup mereka. Banyak anak muda Jepang tampaknya gak terlalu yakin dengan tujuan jangka panjang yang ingin mereka capai.
Hal ini juga terlihat dari jawaban mereka pada pernyataan seperti “Saya memiliki sesuatu yang bisa saya tekuni,” baik itu belajar, pekerjaan, maupun hobi. Persentase Jepang menjadi yang paling rendah untuk hampir semua pertanyaan serupa. Termasuk juga pada pernyataan bahwa mereka merasa dibutuhkan oleh orang lain.
Ketika seseorang merasa gak punya tujuan atau merasa dirinya kurang berarti, rasa percaya diri biasanya ikut turun. Situasi ini bisa memengaruhi kesehatan mental dan semangat menjalani kehidupan sehari-hari. Jika terjadi secara luas, dampaknya tentu gak hanya dirasakan individu, tapi juga masyarakat secara keseluruhan.
3. Sikap terhadap pendidikan dan pekerjaan ikut berubah

Pandangan pesimis ini ternyata juga memengaruhi cara anak muda Jepang melihat pendidikan dan pekerjaan. Saat ditanya alasan utama mereka belajar di sekolah, hampir 20 persen responden Jepang menjawab gak memiliki alasan khusus. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan lima negara lain yang rata-rata hanya sekitar 2 persen.
Jawaban seperti ini menunjukkan bahwa banyak remaja Jepang menjalani pendidikan tanpa arah yang jelas. Mereka belajar karena rutinitas, bukan karena memiliki tujuan tertentu. Kondisi tersebut tentu membuat proses belajar terasa lebih berat dan kurang bermakna.
Hal serupa juga terlihat saat mereka ditanya tentang kualitas pekerjaan yang dianggap penting dan pekerjaan impian yang diinginkan. Banyak responden Jepang kembali memilih jawaban “gak ada yang khusus.” Ini menunjukkan adanya kebingungan atau bahkan ketidakpercayaan bahwa pekerjaan tertentu bisa benar-benar memberi kepuasan hidup.
Saat seseorang gak memiliki gambaran jelas soal masa depan kariernya, proses pengambilan keputusan jadi lebih sulit. Mereka bisa merasa terjebak dalam ketidakpastian yang panjang. Pada akhirnya, kondisi ini dapat memperkuat rasa pesimis yang sudah ada sejak awal.
4. Banyak yang merasa peluang suksesnya terbatas

Dibandingkan negara lain dalam survei, lebih banyak anak muda Jepang yang merasa bahwa faktor seperti kewarganegaraan, gender, orientasi seksual, dan disabilitas dapat membatasi kesuksesan mereka. Artinya, mereka merasa ada batas-batas sosial yang sulit ditembus, meski sudah berusaha keras.
Perasaan seperti ini bisa membuat seseorang cepat kehilangan motivasi. Jika sejak awal mereka merasa peluangnya kecil, semangat untuk mencoba pun bisa ikut berkurang. Bukan karena malas, tapi karena mereka merasa hasil akhirnya sudah bisa ditebak.
Pandangan tersebut juga memperlihatkan bahwa sebagian generasi muda Jepang merasa sistem sosial belum sepenuhnya adil. Mereka melihat ada hambatan struktural yang membuat perjalanan hidup terasa lebih berat. Ketika rasa tak adil ini terus tumbuh, optimisme terhadap masa depan tentu semakin sulit dipertahankan.
5. Minat menikah dan punya anak juga menurun

Survei ini juga menemukan bahwa Jepang menjadi negara dengan jumlah responden paling rendah yang menganggap menikah dan memiliki anak sebagai sesuatu yang diinginkan. Hanya sekitar 59 persen yang menganggap hal itu menarik untuk masa depan mereka. Angka ini berada di bawah China dan Korea Selatan yang masing-masing sekitar 62 persen dan 64 persen.
Sementara itu, Inggris mencatat angka tertinggi, yaitu sekitar 73 persen. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa banyak anak muda Jepang gak lagi melihat pernikahan dan keluarga sebagai tujuan utama hidup. Faktor ekonomi dan tekanan hidup diduga menjadi salah satu penyebab utamanya.
Biaya hidup yang tinggi, beban kerja besar, dan ketidakpastian masa depan membuat banyak orang menunda bahkan menghindari rencana berkeluarga. Dalam jangka panjang, kondisi ini ikut memperkuat masalah populasi menurun dan masyarakat menua yang sudah lama menjadi tantangan besar di Jepang.
Menariknya, dalam tiga negara Asia Timur seperti Jepang, China, dan Korea Selatan, penurunan populasi serta penuaan masyarakat dianggap sebagai masalah paling mendesak. Artinya, generasi muda sadar terhadap masalah itu, tapi belum tentu merasa siap menjadi bagian dari solusinya.
Pesimisme generasi muda Jepang bukan sekadar soal suasana hati, tapi mencerminkan kekhawatiran yang lebih dalam tentang masa depan hidup mereka. Ketika harapan terhadap diri sendiri, negara, pekerjaan, hingga keluarga terus menurun, dampaknya bisa terasa pada banyak aspek kehidupan sosial.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kemajuan ekonomi saja gak selalu cukup untuk menciptakan rasa optimis. Anak muda juga membutuhkan rasa aman, tujuan hidup, dan keyakinan bahwa usaha mereka punya arti. Sebab pada akhirnya, masa depan sebuah negara sangat bergantung pada seberapa besar generasi mudanya masih percaya pada hari esok.


















