Lima Peserta Latsarmil Kopdes Tewas, Pigai Desak Kemenhan Investigasi

- Natalius Pigai mendesak Kemenhan mengevaluasi total pelaksanaan Latsarmil Kopdes dan KNMP setelah lima peserta meninggal dunia selama program berlangsung.
- Pigai menilai pembentukan mental peserta tidak harus melalui pendekatan militer atau latihan fisik berlebihan, karena tujuan utama program adalah penguatan kapasitas sipil.
- Ia juga meminta investigasi profesional untuk mengungkap penyebab kematian lima peserta, termasuk korban terakhir Nola Dya Sari di Dodik Bela Negara Kalimantan.
Jakarta, IDN Times - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, meminta Kementerian Pertahanan (Kemenhan) mengevaluasi seluruh pelaksanaan latihan dasar militer (latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Permintaan itu disampaikan menyusul meninggalnya lima peserta selama mengikuti program tersebut.
Pigai menilai metode pembentukan karakter peserta perlu dikaji ulang. Menurut dia, penguatan mental tidak harus dilakukan melalui latihan fisik yang berlebihan, apalagi peserta merupakan warga sipil yang dipersiapkan untuk mengelola koperasi dan pembangunan ekonomi masyarakat.
"Saya juga merasa prihatin dengan kejadian ini dan kami turut berbelasungkawa. Saya sarankan sistem pendidikannya dievaluasi secara menyeluruh," ujar dia, dikutip Senin (29/6/2026).
1. Pembentukan mental tidak identik dengan pendekatan militer

Pigai menjelaskan, terdapat tiga aspek utama yang harus dibangun dalam pendidikan, yakni pengetahuan, keterampilan, dan mental. Namun, kata dia, pembentukan mental tidak identik dengan pendekatan militer.
"Bagian yang ketiga ini (mental) tidak harus ditanamkan dengan sistem militer, tetapi sifatnya yakni disiplin, tanggung jawab, cepat, tepat, dan jujur. Harus menghindari latihan fisik yang berlebihan," kata dia.
2. Mendesak penyelidikan profesional

Tak hanya meminta evaluasi sistem pelatihan, Pigai juga mendesak penyelidikan profesional atas meninggalnya lima peserta latsarmil. Menurut dia, investigasi penting dilakukan untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah sekaligus menjadi dasar perbaikan penyelenggaraan program ke depan.
"Lima peserta yang meninggal itu perlu diselidiki secara profesional untuk penyebabnya. Saya perintahkan staf untuk lakukan pemantauan di lapangan," ujar dia.
3. Korban kelima adalah Nola Dya Sari

Adapun korban kelima peserta latsarmil adalah Nola Dya Sari yang mengikuti pelatihan di Dodik Bela Negara Kalimantan. Sebelumnya, empat peserta lain juga meninggal di satuan pendidikan berbeda selama mengikuti rangkaian latsarmil dalam program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI).
Kementerian Pertahanan sebelumnya menyatakan seluruh peserta telah melalui seleksi kesehatan dan dinyatakan memenuhi syarat mengikuti pelatihan. Untuk korban terakhir, Nola Dya Sari, Kemhan menyebut yang bersangkutan memiliki catatan kelebihan berat badan saat seleksi kesehatan.
Kasus ini memicu sorotan terhadap pelaksanaan Latsarmil bagi calon manajer Kopdes dan KNMP.
















