- Pusat Komunikasi Badan Intelijen Negara (Puskom Belneg) sebanyak 257 orang
- Resimen Induk Daerah Militer Jaya (Rindam Jaya) 222 orang
- Pusat Pendidikan Kesehatan TNI Angkatan Darat (Pusdikes Puskesad) 453 orang
- Brigade Infanteri 1 Pasukan Marinir 1 (Brigif 1 Pasmar 1) 280 orang
- Pusat Bahasa Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Udara (Pusbahasa Kodiklatau) 270 orang
- Wing Pendidikan 500/Umum Atang Sendjaja (Wingdik 500 Atang Sendjaja) 291 orang.
Menhan Sjafrie Minta Pelatih Komcad Hindari Kontak Fisik dengan ASN

Jakarta, IDN Times - Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, menitipkan sejumlah pesan kepada ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang lolos gelombang pertama untuk mengikuti pendidikan dasar latihan militer selama 45 hari.
Pesan itu dibacakan Kepala Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan, Letnan Jenderal TNI Gabriel Lema, ketika memimpin upacara pembukaan latsar militer. Total ada 1.773 ASN yang mengikuti pendidikan dasar militer Komcad.
Sjafrie berpesan agar ribuan ASN bersikap tertib, disiplin, dan kondusif di lembaga pendidikan selama program Komcad berjalan.
"Kedua, tumbuhkan rasa bangga sebagai aparatur sipil negara (ASN) baik dari kementerian atau lembaga, sekaligus bagian dari TNI serta perkuat kecintaan dan pengabdian kepada Indonesia," ujar Gabriel di Baseops, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (22/4/2026).
Pesan ketiga yaitu agar ribuan ASN mengikuti pendidikan dasar militer secara tertib, sesuai kurikulum dan ketentuan yang berlaku. Sjafrie juiga berpesan kepada para pelatih dari unsur militer agar tidak bersikap arogan.
"Kepada para pelatih, agar mengutamakan pendekatan yang humanis dan edukatif. Hindari sikap arogan maupun kontak fisik yang tidak perlu. Serta memberikan pembinaan yang mendidik dan menjadi teladan dalam sikap dan penampilan," tutur dia.
Pesan kelima, agar ribuan ASN menjaga nama baik Komcad di mana pun mereka berada.
1. Target 2.000 ASN di gelombang pertama tak terpenuhi

Kepala Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan, Letnan Jenderal TNI Gabriel Lema mengakui target Kemhan untuk menghadirkan 2.000 ASN pada gelombang pertama Komcad tidak terpenuhi. Sebab, gelombang pertama Komcad hanya diikuti 1.773 ASN.
"Gelombang pertama ini belum memenuhi 2.000 (ASN). Tetapi, nanti akan kami lengkapi di gelombang kedua (program Komcad)," kata jenderal bintang tiga itu.
Pada gelombang selanjutnya, Kemhan harus menghadirkan 2.227 ASN agar bisa genap 4.000 ASN yang ikut program Komcad pada 2026. Gabriel mengatakan program Komcad bagi ASN akan berlangsung selama 45 hari. Kemudian, mereka akan dinyatakan resmi sebagai anggota Komcad pada 5 Juni 2026.
Usai menuntaskan program Komcad, ribuan ASN itu akan kembali bekerja di instansi masing-masing. Gabriel berharap pendidikan mental dan disiplin yang diperoleh di dalam program Komcad bisa ikut terbawa ke instansi asal.
"Kami berharap ada nilai tambah dalam rangka untuk memantapkan bagaimana kebersamaan bisa menjawab dan melaksanakan program di lingkup kerja masing-masing," tutur dia.
2. Daftar tempat latihan dasar militer bagi ribuan ASN

Berdasarkan keterangan dari Kemhan, total ada 1.927 ASN yang telah mengikuti sejumlah rangkaian seleksi, tetapi yang dinyatakan lulus hanya 1.773 orang. Sebanyak 150 orang dinyatakan tidak lulus.
Ribuan ASN yang lulus kemudian mengikuti pelatihan Komcad di enam lokasi terpisah yakni:
3. Konsep wajib militer di Komcad dianggap sudah usang

Sementara, dalam pandangan Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia (AII), Usman Hamid, meski ditepis, tetapi konsep Komcad bagi ASN sudah mirip wajib militer. Konsep itu, kata Usman, sudah tak lagi relevan dalam paradigma pertahanan modern saat ini.
"Pemerintah seperti terpaku pada imajinasi perang konvensional di masa lalu yang memang membutuhkan mobilisasi massa secara fisik. Padahal, ancaman modern saat ini lebih canggih dan kompleks. Misalnya ancamannya lebih bersifat hybrida, termasuk perang yang mengandalkan kecakapan teknologi," ujar Usman ketika dihubungi, Rabu (8/4/2026).
Yang dibutuhkan, kata Usman, bukan lagi perkara kecakapan dalam baris-berbaris dan kekuatan fisik. Ia memberikan contoh serangan militer Israel ke Gaza atau Rusia ke Ukraina. Komponen cadangan tak mungkin ditempatkan dalam situasi perang aktif.
Usman justru khawatir lewat program Komcad malah akan melemahkan pertahanan Indonesia. Di sisi lain, Usman turut menyoroti tujuan Komcad bagi ASN yakni memperkuat rasa nasionalisme.
"Seolah-olah rasa nasionalisme para aparatur sipil negara ini dipertanyakan. Lagipula ASN yang sudah di tingkat eselon I dan II sudah pernah mendapatkan pendidikan semi militeristik. Rasa cinta terhadap negara itu dibangun dengan menanamkan nilai anti terhadap perilaku korupsi," tutur dia.

















