Panglima Usamah bin Zaid: Perdebatan Utusan Muda Rasulullah ke Palestina

- Rasulullah SAW memerintahkan misi terakhir sebelum wafat, yaitu pengiriman pasukan ke perbatasan Al-Balqa' dan Ad-Darum di Palestina dengan Usamah bin Zaid sebagai panglima muda.
- Penunjukan Usamah sempat menuai perdebatan karena usianya yang muda, namun Rasulullah menegaskan kelayakannya sebagaimana ayahnya, Zaid bin Haritsah, juga pernah dipercaya memimpin pasukan.
- Khalifah Abu Bakar melanjutkan mandat Rasulullah dengan memberangkatkan pasukan Usamah ke wilayah Syam dan Palestina meski situasi umat Islam saat itu tengah genting akibat gelombang kemurtadan.
Jakarta, IDN Times - Misi terakhir yang diperintahkan Rasulullah salallahu'alaihiwasallam sebelum wafat adalah pengiriman pasukan ke wilayah Palestina, tepatnya ke perbatasan Al-Balqa' dan Ad-Darum. Beliau menunjuk Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan tersebut, meskipun saat itu Usamah masih sangat muda.
Mengutip Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam (edisi lengkap), Usamah adalah putra dari Zaid bin Haritsah, sosok yang sangat dicintai Rasulullah salallahu'alaihiwasallam. Pria bernama lengkap Zaid bin Haritsah bin Syurahbil itu adalah laki-laki kedua yang memeluk Islam setelah Ali bin Abi Thalib.
Pria asal kabilah Kalb itu awalnya adalah budak milik Khadijah yang kemudian dihibahkan kepada Rasulullah sebelum masa kenabian. Rasulullah memerdekakannya dan mengangkatnya sebagai anak, sehingga ia sempat dipanggil "Zaid bin Muhammad" sebelum turunnya larangan menggunakan nama belakang "bin" yang bukan ayah asli dalam Al-Qur'an.
Saking cintanya kepada Rasulullah, Zaid lebih memilih tinggal bersama Nabi daripada pulang bersama ayah kandungnya saat dijemput.
1. Peran militer Zaid bin Haritsah dalam berbagai pertempuran

Zaid bin Haritsah terjun dalam berbagai pertempuran besar, termasuk Perang Badar. Ia dipercaya memimpin berbagai ekspedisi penting (sariyah), seperti ekspedisi Al-Qaradah.
Zaid bin Haritsah juga dipercaya Rasulullah menjadi panglima pertama dalam pasukan yang dikirim ke Mu'tah. Zaid juga gugur sebagai syahid dalam Perang Mu'tah, saat memegang panji perang kaum Muslimin.
2. Peran militer Usamah bin Zaid ke Palestina

Misi terakhir yang diperintahkan Rasulullah sebelum wafat adalah pengiriman pasukan ke wilayah Palestina, tepatnya ke perbatasan Al-Balqa' dan Ad-Darum. Beliau menunjuk Usamah bin Zaid sebagai panglima pasukan tersebut, meskipun saat itu Usamah masih sangat muda.
Penunjukan ini sempat menimbulkan perdebatan di kalangan kaum Muslimin yang mempertanyakan kepemimpinan Usamah dibandingkan para sahabat senior. Menanggapi hal tersebut, Rasulullah yang saat itu sedang sakit memberikan pembelaan tegas dari atas mimbar. Beliau menyatakan Usamah sangat pantas mengemban amanah tersebut, sebagaimana ayahnya, Zaid bin Haritsah, juga pantas menjadi pemimpin sebelumnya.
Pasukan kemudian berangkat dan sempat memancangkan tenda di Al-Jurf, sekitar satu farsakh dari Madinah, atau sekitar 5,5 hingga 6 kilometer. Namun, perjalanan tidak dilanjutkan karena kondisi kesehatan Rasulullah yang semakin kritis, sehingga pasukan memilih menunggu perkembangan takdir Allah bagi beliau. Akhirnya, Rasulullah wafat sebelum pasukan tersebut benar-benar melintasi perbatasan Palestina.
3. Usamah bin Zaid berhasil menyelesaikan mandat Rasulullah ke Palestina

Khalifah Abu Bakar merealisasikan misi tersebut dengan berpegang teguh pada wasiat terakhir Rasulullah. Meskipun situasi saat itu sangat sulit karena wafatnya Nabi memicu gelombang murtad di berbagai suku Arab, Abu Bakar tetap memprioritaskan keberangkatan pasukan ini.
Meskipun penunjukan Usamah sempat dipersoalkan karena usianya yang masih sangat muda, Abu Bakar mengikuti keputusan Rasulullah yang sebelumnya telah menegaskan di atas mimbar bahwa Usamah sangat pantas mengemban amanah tersebut.
Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar terpilih sebagai khalifah secara aklamasi, dan ia segera menunaikan mandat tersebut sebagai tugas pertama kepemimpinannya.
Di tengah ujian berat berupa munculnya nabi palsu dan gerakan murtad, Abu Bakar menjadi sosok yang menghimpun kembali kekuatan kaum Muslimin, dan memastikan instruksi strategis Rasulullah ke Palestina tetap berjalan.
Usamah bin Zaid sendiri sempat ikut serta dalam prosesi memandikan jenazah Rasulullah bersama Ali bin Abu Thalib dan Al-Abbas, sebelum akhirnya berangkat memimpin pasukannya.
Usamah memimpin pasukan berkuda menuju wilayah Syam--Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon, tepatnya hingga mencapai perbatasan Al-Balqa' dan Ad-Darum di wilayah Palestina.
Instruksi militer Rasulullah kepada Usamah bin Zaid akhirnya berhasil. Beliau memerintahkan Usamah untuk "menjejakkan kuda-kudanya" (menyerbu/menginjakkan kaki) ke wilayah tersebut sebagai bentuk tekanan militer di sana. Pasukan yang dipimpin Usamah saat itu terdiri dari sejumlah Muhajirin generasi awal, serta sahabat-sahabat utama dari kalangan Muhajirin dan Anshar.
Pengiriman pasukan ke Palestina ini merupakan salah satu dari tiga wasiat terakhir Rasulullah sebelum beliau wafat. Meskipun dalam buku ini tidak merinci detail pertempuran taktis di Palestina, ekspedisi ini dicatat sebagai misi ke-38 dalam daftar sariyah (pasukan tempur) Rasulullah.
















