Timnas AMIN Kritik Bansos Dipolitisasi demi Kepentingan Keluarga

Jakarta, IDN Times - Tim Nasional Pemenangan Anies-Muhaimin (Timnas AMIN) menyampaikan kritikan capres nomor urut 1, Anies Baswedan terhadap pemerintah terkait penyaluran bantuan sosial (bansos) sangat sesuai dengan kondisi yang terjadi saat ini.
Jubir Timnas AMIN, M Ramli Rahim mengatakan, bansos yang disalurkan akhir-akhir ini dipandang sarat akan politisasi demi kepentingan keluarga.
"Itu sangat betul apa yang disampaikan Pak Anies. Pemberian bantuan sosial itu menekankan kepada apa manfaat yang diterima oleh si pemberi, bukan kepada manfaat yang diterima oleh si penerima sebagaimana seharusnya," ujarnya kepada jurnalis, Senin (5/2/2024).
1. Penyaluran bansos tidak pernah maksimal

Beras untuk program bantuan sosial (bansos) pemerintah. (dok. Bapanas) Ramli mengatakan, penyaluran bansos selama ini tidak pernah maksimal. Belum lagi penyalurannya diserahkan tidak sesuai dengan jadwal sebagaimana yang dibutuhkan oleh keluarga penerima manfaat (KPM). Ini kemudian memunculkan istilah bansos tanpa pamrih.
"Dan perlu dipahami, apa yang disampaikan Pak Anies sangat betul, bahwa keberhasilan bansos itu sebetulnya bukan pada semakin banyak diberikan, tetapi sebaliknya," kata dia.
"Apabila semakin sedikit bansos berarti pemerintah makin sukses menekan kemiskinan dan juga berarti kesejahteraan makin baik, sebaliknya, makin banyak bansos berarti pemerintah gagal membangun kesejahteraan," imbuhnya.
2. Timnas AMIN klaim performa Anies di debat terakhir lebih unggul dari Prabowo-Ganjar

Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar memberikan keterangan pers usai mengikuti debat capres pamungkas di JCC, Jakarta Pusat pada Minggu, 4 Februari 2024. (IDN Times/Santi Dewi) Di sisi lain, Ramli memuji performa Anies dalam debat terakhir yang tampil sangat baik dan fokus terhadap subtansi debat. Menurut dia, Anies lebih unggul dibandingkan dua rivalnya, Prabowo dan Ganjar.
"Secara keseluruhan Anies jauh dibandingkan dengan dua kandidat lain. Jadi Pak Anies ini betul-betul fokus ke subtansi persoalan dan fokus pada penyelesaian masalah secara kompeherensif. Beda dengan Prabowo yang hanya solutif di ujung. Pak Anies justru berpikir dimulai dari sejak awal sampai akhir," tuturnya.
"Misalnya soal kesehatan, itu disampaikan mulai dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan atau promotif, pencegahan penyakit atau preventif, penyembuhan penyakit atau kuratif dan pemulihan kesehatan atau rehabilitatif, sementara Prabowo hanya membahas solusi dengan penyediaan dokter saja" tambah dia.
3. Anies kritik penyaluran bansos oleh pemerintah jelang pemilu

Konferensi pers pasangan capres cawapres nomor urut 1, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar, usai debat capres kelima yang digelar di JCC, Minggu (4/2/0224). (youtube.com/tvOne Digital TV POOL) Sebelumnya, Anies mengkritik penyaluran bansos yang disebar pemerintah saat ini. Menurut dia, bansos harusnya difokuskan untuk para penerimanya dan bukan pemberinya, sehingga pemberiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan.
"Maka bansos diberikan sesuai dengan kebutuhan penerima, kalau penerima butuhnya bulan ini, ya diberikan bulan ini. Kalau 3 bulan lagi, ya 3 bulan lagi. Jangan menghilangkan semua, dijadikan sesuai kebutuhan. Itu yang disebut bansos tanpa pamrih," kata Anies.
Selain itu, Anies juga mengkritik cara pembagian bansos, yang menurutnya, harus sesuai dengan data. Ini dapat dilakukan dengan melibatkan mekanisme-mekanisme yang memasukkan warga yang benar-benar membutuhkan di dalamnya.
"Informasi data akurat dan mekanisme pemberian melalui jalur birokrasi bukan dibagi di pinggir jalan," ujarnya.




















