6 Orang Tewas dan 28 Terluka akibat Penembakan di Gereja Yordania

- Penembakan oleh tiga pria bersenjata di Gereja Ortodoks Yunani, Desa Hamoud, Karak, Yordania, menewaskan enam orang dan melukai 28 pelayat pada 23 Oktober 2026.
- Sekitar 150–200 orang menghadiri pemakaman saat pelaku menembak selama lima menit lalu kabur. Otoritas memburu tersangka, sementara belum ada pihak mengaku bertanggung jawab.
- Pemerintah Yordania menggelar rapat keamanan darurat dan membatasi publikasi investigasi. Raja Abdullah II mengecam serangan, menyampaikan belasungkawa, serta menjanjikan tindakan tegas terhadap pelaku.
Jakarta, IDN Times - Sekelompok pria bersenjata tak dikenal melepaskan tembakan ke arah prosesi pemakaman di Gereja Ortodoks Yunani di Desa Hamoud, Kegubernuran Karak, Yordania, pada Jumat (23/10/2026). Serangan di wilayah yang berjarak sekitar 177 kilometer di selatan ibu kota Amman tersebut menewaskan enam orang dan melukai 28 lainnya.
Pasukan keamanan telah dikerahkan ke lokasi kejadian untuk memburu para pelaku yang langsung melarikan diri usai beraksi. Rekaman setelah serangan memperlihatkan bercak darah berceceran di lantai dekat pintu masuk gereja di tengah kepanikan warga. Hingga kini, belum ada pihak atau kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas penembakan tersebut.
1. Pelaku menembak ke arah pelayat selama lima menit

ilustrasi penembakan. (unsplash.com/Maxim Hopman) Rekaman kamera pengawas (CCTV) yang disiarkan stasiun televisi pemerintah, Al-Mamlaka, memperlihatkan tiga pelaku berpakaian santai mendekati gereja dari arah jalan raya. Para pelaku yang membawa pistol dan senapan laras panjang itu sempat bersembunyi di balik pepohonan serta tembok rendah di trotoar. Mereka kemudian berlari merangsek maju ke arah pintu masuk utama gereja sembari melepaskan tembakan.
Para pelaku dilaporkan turun dari sebuah mobil sebelum menyerang kerumunan warga. Saat insiden berlangsung, sekitar 150 hingga 200 orang sedang berada di dalam dan di luar area gereja untuk mengikuti prosesi pemakaman.
Saksi mata menyebutkan para pelaku menembak tanpa henti ke arah pelayat selama sekitar lima menit sebelum kabur. Mayoritas korban dalam peristiwa berdarah ini berusia antara 50 hingga 70 tahun.
2. Pemerintah Yordania gelar rapat darurat dan batasi publikasi

ilustrasi bendera Yordania. (unsplash.com/Yazan obeidat) Juru Bicara Direktorat Keamanan Publik Yordania, Amer Sartawi, menetapkan penembakan ini sebagai insiden kriminal. Pihak berwenang saat ini tengah memeriksa tempat kejadian perkara dan melacak keberadaan para tersangka.
"Penyelidikan sedang berlangsung dengan kecepatan penuh, dan kami akan memberikan pembaruan mengenai temuan tersebut begitu tersedia," ujar Sartawi, dilansir Anadolu Agency.
Menteri Komunikasi Pemerintah Yordania, Mohammed Al-Momani, mengecam aksi keji ini dan mengumumkan bahwa perdana menteri akan memimpin rapat Dewan Keamanan bersama seluruh menteri. Sementara itu, Jaksa Agung Amman, Hassan Abdallat, menerbitkan larangan publikasi terkait kasus dan proses investigasi ini bagi seluruh media cetak, penyiaran, maupun media sosial, kecuali media resmi pemerintah. Pelanggar aturan tersebut terancam dikenai sanksi hukum.
3. Raja Abdullah II kecam serangan dan berjanji akan menindak tegas pelaku

Raja Yordania, Abdullah II (CC-BY-4.0:© European Union 2019 – Source: EP, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons) Raja Yordania, Abdullah II, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga para korban dan mendoakan kesembuhan bagi warga yang terluka melalui platform X. Ia menyatakan pemerintah akan menindak para pelaku teror tersebut dengan tegas.
"Serangan teroris terhadap Karak akan dihadapi dengan pembalasan paling keras. Mereka yang menganggap bahwa peluru mereka dapat memecah belah rakyat Yordania tidak punya peluang di hadapan persatuan kita," kata Raja Abdullah II, dikutip dari The Straits Times.
Kecaman juga datang dari Menteri Wakaf dan Urusan Islam Yordania, Mohammad Khalayleh, para anggota parlemen, serta Presiden Lebanon, Joseph Aoun, yang menilai terorisme hanya bertujuan merusak kerukunan umat beragama.
Kegubernuran Karak sendiri merupakan rumah bagi komunitas signifikan umat Kristen yang berstatus minoritas di Yordania. Serangan terhadap rumah ibadah sangat jarang terjadi di negara kerajaan yang relatif stabil tersebut. Sebelumnya, militan ISIS pernah menyerang kantor polisi dan Kastel Karak hingga menewaskan belasan orang pada 2016.






















