Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

75 Tenaga Medis di Kongo Terinfeksi Ebola, 17 Meninggal Dunia

75 Tenaga Medis di Kongo Terinfeksi Ebola, 17 Meninggal Dunia
ilustrasi penanganan pasien dengan virus berbahaya (unsplash.com/Mufid Majnun)
Intinya Sih
  • Sebanyak 75 tenaga medis di Kongo terinfeksi Ebola sejak Mei 2026, dengan 17 di antaranya meninggal dunia, menandakan situasi wabah yang berkembang cepat dan serius.
  • Pemerintah DRC mencatat 896 kasus infeksi dan 232 kematian akibat Ebola, sementara Uni Afrika menjanjikan hampir 1 miliar dolar AS untuk membantu penanganan darurat.
  • Epidemi Ebola di timur DRC belum mencapai puncaknya; keterbatasan fasilitas medis dan penolakan masyarakat terhadap protokol kebersihan memperlambat upaya pengendalian wabah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Seorang pejabat senior Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan sedikitnya 75 tenaga medis di Republik Demokratik Kongo (DRC) telah tertular virus Ebola sejak wabah tersebut diumumkan pada 15 Mei 2026. Sebanyak 17 di antaranya telah meninggal dunia.

“Wabah ini masih tergolong serius dan berkembang sangat cepat. Ini adalah harga yang sangat mahal yang harus dibayar oleh sistem, sistem layanan kesehatan, karena kita tidak memiliki cukup tenaga kesehatan di DRC,” kata direktur darurat WHO, Marie Roseline Belizaire, pada Jumat (19/6/2026) melalui video dari pusat wabah di wilayah timur DRC.

1. 896 orang terinfeksi virus Ebola di DRC

ilustrasi virus Ebola
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Menurut data terbaru pemerintah, wabah Ebola telah menewaskan 232 orang dan menginfeksi 896 lainnya di 31 zona kesehatan di DRC. Negara-negara anggota Uni Afrika telah menjanjikan dana hampir 1 miliar dolar AS (sekitar Rp17,8 triliun) untuk merespons keadaan darurat di wilayah timur DRC dan Uganda, yang telah mengonfirmasi 19 kasus dan 2 kematian.

Para pejabat kesehatan meyakini bahwa strain Bundibugyo, pemicu wabah Ebola saat ini, telah menyebar selama beberapa bulan sebelum pemerintah secara resmi mengumumkan wabah tersebut. Akibatnya, dokter, perawat dan tenaga medis lainnya terpapar sebelum mereka mengetahui adanya virus tersebut.

Hingga saat ini, peralatan pelindung dasar masih terbatas. Beberapa fasilitas medis bahkan kesulitan mendapatkan sarung tangan, masker dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk membatasi penularan.

2. DRC kekurangan tenaga medis

ilustrasi petugas medis (unsplash.com/Piron Guillaume)
ilustrasi petugas medis (unsplash.com/Piron Guillaume)

Dilansir Al Jazeera, DRC merupakan salah satu negara dengan rasio tenaga kesehatan terhadap populasi terendah di dunia. Menurut data WHO, negara itu hanya memiliki sekitar 11 tenaga kesehatan untuk setiap 10 ribu orang.

Belizaire mengatakan, China dan Uganda membantu mengirimkan tim medis untuk mendukung respons penanganan wabah di DRC. Selain itu, WHO juga memberikan dukungan psikologis kepada tenaga medis yang takut merawat pasien Ebola usai melihat rekan mereka jatuh sakit.

“Ketika mereka menjelaskan kepada Anda bagaimana mereka mengalaminya, bagaimana mereka terinfeksi, itu bisa mematahkan hati Anda,” ujar Belizaire.

3. Wabah Ebola masih belum mencapai puncaknya

ilustrasi virus Ebola
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Menurut Bruno Michon, manajer operasi Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), epidemi Ebola di wilayah timur DRC masih belum mencapai puncaknya.

“Kami khawatir diperlukan waktu hingga 1 tahun untuk mengakhiri wabah ini,” katanya pada Selasa (16/6/2026), seperti dikutip CNN.

Upaya penanganan wabah terhambat oleh kurangnya pusat perawatan dan penolakan masyarakat terhadap penerapan protokol kebersihan yang ketat. Michon mengatakan bahwa tim IFRC, yang turut membantu membangun keterlibatan masyarakat dan menangani pemakaman korban Ebola secara aman dan bermartabat, kerap menghadapi pelecehan verbal, ancaman hingga serangan dari warga.

Sebagai informasi, jenazah korban Ebola masih dapat menularkan virus. Penguburan secara tradisional, yang melibatkan kontak langsung dengan jenazah tanpa alat pelindung diri yang memadai, menjadi salah satu faktor utama penularan penyakit tersebut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More