Mogok Massal Pengawas Udara Prancis Batalkan Ratusan Penerbangan

- Aksi mogok ATC Prancis di puncak musim liburan menuai kecaman keras dari berbagai pihak, membatalkan ratusan penerbangan dan mengganggu rencana perjalanan ribuan orang.
- Serikat pekerja tuntut perbaikan sistem dan manajemen karena kondisi kerja buruk, sementara DGAC gagal merespons tuntutan tersebut.
- O'Leary dari Ryanair mendesak reformasi penerbangan kepada Presiden Komisi Eropa untuk mengurangi dampak aksi mogok hingga 90 persen.
Jakarta, IDN Times - Mogok massal yang dilakukan oleh pengawas lalu lintas udara (ATC) di Prancis pada hari Kamis-Jumat (3-4/7/2025) telah menyebabkan kekacauan luas di seluruh Eropa.
Maskapai penerbangan berbiaya rendah di Eropa, Ryanair, terpaksa membatalkan lebih dari 170 penerbangan yang berdampak pada lebih dari 30 ribu penumpang, sementara EasyJet juga membatalkan 274 jadwal penerbangan.
1. Dikecam keras karena terjadi di puncak musim liburan
Aksi yang bertepatan dengan puncak musim liburan ini menuai kecaman keras dari berbagai pihak.
Kepala Eksekutif Ryanair, Michael O'Leary, mengatakan para pengawas lalu lintas udara yang mogok telah menjadikan keluarga Eropa sebagai tebusan.
"Ini sangat tidak adil bagi penumpang dan keluarga Uni Eropa yang sedang berlibur," keluhnya.
Kecaman serupa datang dari Airlines for Europe (A4E), badan industri penerbangan Eropa, yang menyebut pemogokan tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat ditoleransi, karena menyebabkan gangguan besar pada rencana perjalanan banyak orang.
Dalam unggahan akun X, Ryanair menyatakan bahwa 468 penerbangan telah dibatalkan dan jumlahnya akan terus bertambah. Sementara itu, komisi Uni Eropa belum bertindak.
2. Serikat pekerja tuntut perbaikan sistem dan manajemen
Pemogokan ini diserukan oleh serikat pekerja di Prancis, UNSA-ICNA, sebagai bentuk protes atas kondisi kerja yang buruk. Tuntutan utama mereka mencakup penyelesaian masalah kekurangan staf, perbaikan manajemen, dan modernisasi peralatan yang dinilai sudah usang.
"DGAC (Otoritas penerbangan sipil Prancis) gagal memodernisasi peralatan yang penting bagi pengontrol lalu lintas udara, meskipun terus berjanji bahwa semua sumber daya yang diperlukan sedang disediakan," kata UNSA-ICNA dalam sebuah pernyataan.
"Sistemnya sudah hampir rusak, dan badan (pengendali lalu lintas udara) terus meminta lebih banyak stafnya untuk mengimbangi kesulitannya," tambahnya.
Namun, DGAC tidak segera menanggapi tuntutan tersebut. Sebaliknya, DGAC justru meminta beberapa maskapai untuk memangkas hingga 40 persen jadwal penerbangan di bandara-bandara Paris, mempersiapkan gangguan yang diperkirakan akan lebih parah pada Jumat.
3. Maskapai Ryanair desak reformasi penerbangan saat aksi mogok
O'Leary dari Ryanair mendesak Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, untuk segera mengambil tindakan. Ia meminta perlindungan penerbangan lintas negara dan memastikan tingkat layanan minimum selama aksi mogok berlangsung, termasuk memastikan ATC memiliki staf yang lengkap saat gelombang pertama pada keberangkatan harian.
Menurut O'Leary, kedua reformasi itu akan mengurangi sebagian besar dampak dari aksi pemogokan sebesar 90 persen.
"Kedua reformasi yang luar biasa ini akan menghilangkan 90 persen dari semua penundaan dan pembatalan ATC, dan melindungi penumpang Uni Eropa dari gangguan ATC yang berulang dan dapat dihindari karena pemogokan ATC Prancis lainnya," tambahnya.