Gempa Venezuela Tewaskan Hampir 2 Ribu Orang dan Rusak 58 Ribu Bangunan

- NASA dan tim peneliti memperkirakan lebih dari 58 ribu bangunan di Venezuela rusak akibat dua gempa besar bermagnitudo 7,2 dan 7,5 yang menewaskan hampir dua ribu orang.
- PBB mengerahkan bantuan internasional dengan 40 tim penyelamat dari 27 negara untuk mencari puluhan ribu korban hilang, sementara jutaan warga membutuhkan bantuan darurat.
- Pemerintah Venezuela dikritik karena lambat merespons bencana, sementara WHO memperingatkan potensi wabah penyakit akibat fasilitas medis rusak dan rendahnya cakupan vaksinasi.
Jakarta, IDN Times - NASA mengungkapkan bahwa lebih dari 58 ribu bangunan diperkirakan mengalami kerusakan atau hancur akibat dua gempa besar yang mengguncang Venezuela pekan lalu. Angka tersebut kemungkinan jauh lebih tinggi dibandingkan gambaran awal yang disampaikan pemerintah, melihat skala kerusakan yang jauh lebih luas.
Berdasarkan analisis awal citra satelit radar beresolusi tinggi dari satelit Sentinel-1 milik European Space Agency (ESA), tim peneliti dari Oregon State University memperkirakan jumlah bangunan yang terdampak mencapai 58.870. Jumlah tersebut masih bersifat sementara dan didasarkan pada perubahan permukaan tanah yang konsisten dengan kerusakan akibat gempa, mengutip The Guardian.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 yang mengguncang Venezuela pada Rabu lalu telah menewaskan sedikitnya 1.943 orang, melukai lebih dari 10.571 orang, dan menyebabkan puluhan ribu lainnya masih hilang di bawah reruntuhan. PBB memperkirakan 6,8 juta penduduk akan membutuhkan bantuan berupa tempat tinggal, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, serta kebutuhan pokok lainnya.
1. Tim penyelamat berpacu dengan waktu mencari korban yang masih tertimbun

Tim penyelamat dari berbagai negara terus berpacu dengan waktu untuk menemukan korban yang masih hidup di bawah reruntuhan. Pemerintah sementara Venezuela melaporkan korban tewas mencapai sekitar 1.700 orang meski otoritas internasional memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa sebenarnya jauh lebih tinggi.
Koordinator PBB untuk Venezuela, Gianluca Rampolla, mengatakan sebanyak 27 negara telah mengerahkan hampir 40 tim pencarian dan penyelamatan ke Venezuela. Misi internasional tersebut melibatkan lebih dari 2.000 personel dan lebih dari 160 anjing pelacak untuk membantu operasi evakuasi.
Rampolla mengatakan bahwa PBB juga menyiapkan 10 ribu kantong jenazah sebagai langkah antisipasi, meski berharap jumlah korban akhirnya tidak sebanyak yang diperkirakan. Dia menyebut PBB terus berkoordinasi dengan otoritas Venezuela untuk menangani peningkatan jumlah korban meninggal.
Selain itu, Koordinator Bantuan Darurat PBB, Tom Fletcher, mengatakan jumlah korban dipastikan masih akan terus bertambah. PBB memperkirakan sekitar 50 ribu orang masih dinyatakan hilang, sementara sekitar 16 ribu warga kehilangan tempat tinggal dan kini bertahan di berbagai lokasi pengungsian darurat, dilansir Anadolu.
2. Warga mengkritik lambannya respons pemerintah Venezuela

Pemerintah Venezuela menghadapi kritik karena dinilai lambat merespons bencana. Banyak warga terpaksa menggunakan beliung, sekop, hingga tangan kosong untuk membongkar puing-puing bangunan demi mencari anggota keluarga yang masih tertimbun, mengutip laporan CNN.
Alat berat yang seharusnya menjadi komponen utama dalam operasi penyelamatan juga dilaporkan tidak dapat beroperasi. Seorang operator ekskavator mengatakan alat tersebut berhenti digunakan karena tidak memiliki bahan bakar. Ironisnya, kondisi tersebut terjadi di Venezuela yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
Ketua parlemen Jorge Rodríguez mengatakan pemerintah telah menjalankan skema baru dengan membagi para relawan berdasarkan prioritas penanganan di lapangan. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Diosdado Cabello meminta masyarakat tetap mempercayai pemerintah dan ikut membantu pendataan korban agar proses pencarian dapat dilakukan secara lebih terarah.
3. WHO peringatkan ancaman wabah penyakit setelah gempa

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan ancaman krisis kesehatan setelah fasilitas medis di berbagai wilayah mengalami kerusakan dan kewalahan menangani lonjakan pasien. Juru bicara WHO, Christian Lindmeier, mengatakan layanan kesehatan saat ini beroperasi jauh melampaui kapasitas normal sehingga berisiko mengganggu pelayanan terhadap korban gempa.
WHO juga memperingatkan meningkatnya risiko penyebaran campak dan difteri karena rendahnya cakupan vaksinasi sebelum gempa terjadi. Selain itu, penyakit seperti demam kuning, malaria, demam berdarah dengue, chikungunya, dan Zika juga berpotensi meningkat di wilayah terdampak.
Lembaga tersebut turut mencatat berbagai kendala dalam penanganan korban, mulai dari layanan kesehatan yang semakin semrawut, ruang perawatan yang penuh sesak, antrean operasi yang terus bertambah, hingga kesulitan mendata korban meninggal dan melacak puluhan ribu orang yang masih dinyatakan hilang.


















