AS Selidiki Insiden Bom Sekolah Dasar di Iran, Untuk Apa?

- AS sedang menyelidiki serangan udara terhadap sekolah dasar putri di Minab, Iran, yang menewaskan 175 orang dan melukai 95 lainnya saat hari pertama serangan gabungan AS-Israel.
- Sekolah Shajareh Tayyebeh dilaporkan terkena dua kali serangan rudal, menyebabkan banyak korban anak-anak sulit diidentifikasi dan dimakamkan secara massal setelah tes DNA dilakukan.
- Pemantau HAM menegaskan bahwa anak-anak dan staf pengajar tetap dilindungi hukum humaniter internasional, serta menyerukan akuntabilitas atas dugaan pelanggaran serius dalam insiden tersebut.
Jakarta, IDN Times - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth, pada Rabu (4/3/2026), mengatakan bahwa Washington sedang menyelidiki serangan udara terhadap sebuah sekolah dasar putri di Iran selatan, yang dilaporkan menewaskan 175 orang dan melukai 95 lainnya.
Sekolah Shajareh Tayyebeh di kota Minab dibom saat hari pertama serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026). Otoritas Iran menyebut sebagian besar korban tewas adalah anak perempuan berusia 7-12 tahun. Teheran menuduh AS dan Israel bertanggung jawab atas pengeboman itu, tapi militer Israel mengaku tidak mengetahui adanya serangan Israel maupun AS di wilayah tersebut.
“Yang bisa saya katakan adalah kami sedang menyelidikinya,” kata Hegseth kepada wartawan saat ditanyai mengenai serangan tersebut. Ia menambahkan bahwa militer AS tidak pernah menargetkan situs sipil.
1. Sekolah Shajareh Tayyebeh dihantam dua kali serangan

Dilansir dari Middle East Eye, petugas tanggap darurat dan salah satu orang tua korban tewas menuturkan bahwa sekolah Shajareh Tayyebeh terkena dua serangan, dengan rudal kedua menewaskan para penyintas yang sedang berlindung.
“Saat bom pertama menghantam sekolah, salah seorang guru dan kepala sekolah memindahkan sekelompok siswa ke aula doa untuk melindungi mereka. Kepala sekolah menelepon para orang tua dan memberitahu mereka untuk datang menjemput anak-anak mereka. Namun, bom kedua juga menghantam area itu. Hanya sebagian kecil dari mereka yang berlindung yang selamat," kata seorang tenaga medis Palang Sabit Merah.
Rohollah, bukan nama sebenarnya, mengatakan bahwa putrinya selamat dari serangan pertama dan dipindahkan ke musala. Namun, serangan kedua terjadi sebelum ia sempat menjemput putrinya dari sekolah.
“Putri kecil saya terbakar habis. Tidak ada yang tersisa darinya. Kami hanya dapat mengidentifikasi dia dari tas sekolahnya, yang masih dipegangnya. Dia terbakar habis," tuturnya.
Serangan ganda pada sasaran yang sama biasa disebut sebagai "double-tap", terutama jika ada jeda singkat antara serangan pertama dan kedua sehingga petugas medis dan warga sipil yang datang membantu ikut menjadi korban. Taktik ini dilaporkan pernah digunakan Israel di Jalur Gaza dan termasuk ke dalam kejahatan perang.
2. Beberapa jenazah belum dapat diidentifikasi

Para korban dimakamkan secara massal di Minab pada Selasa (3/3/2026). Foto-foto yang beredar menunjukkan ribuan orang memenuhi jalan untuk memberikan penghormatan terakhir.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Pendidikan mengatakan kerusakan yang terjadi begitu parah hingga 69 siswi belum dapat diidentifikasi. Jenazah mereka saat ini sedang menjalani tes DNA.
Tenaga medis menggambarkan puluhan anggota tubuh yang terputus berserakan di sekitar halaman sekolah. Beberapa anak juga mengalami luka bakar yang begitu parah sehingga sangat sulit untuk diidentifikasi.
“Beberapa orang tua hanya bisa mengenali anak-anak mereka dari gelang emas yang mereka kenakan,” kata tenaga medis Bulan Sabit Merah.
3. Anak-anak dan staf pengajar termasuk orang yang dilindungi menurut hukum humaniter internasional

Beberapa situs web dan akun media sosial yang terkait dengan Israel mengklaim bahwa sekolah Shajareh Tayyebeh merupakan bagian dari basis Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Namun, analisis terhadap citra satelit selama lebih dari satu dekade, cuplikan video terbaru, laporan berita, dan pernyataan dari sumber resmi Iran, mengungkap bahwa sekolah tersebut jelas terpisah dari situs militer di dekatnya.
Dilansir dari Al Jazeera, sekolah Shajareh Tayyebeh merupakan bagian dari jaringan luas sekolah yang secara struktural dan administratif terkait dengan Angkatan Laut IRGC. Sekolah-sekolah ini tergolong lembaga nirlaba dan ditujukan terutama untuk memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak anggota Angkatan Laut IRGC.
Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Med menyebut serangan terhadap sekolah itu sebagai kejahatan mengerikan dan bukti runtuhnya perlindungan sipil. Mereka menegaskan bahwa keberadaan fasilitas atau pangkalan militer di dekat sekolah tidak mengubah status sipilnya, dan tidak membebaskan pasukan AS maupun Israel dari kewajiban hukum untuk memverifikasi dengan cermat sifat sasaran sebelum menyerangnya.
Dalam keadaan apa pun, anak-anak dan staf pengajar disebut tetap merupakan orang-orang yang dilindungi menurut hukum humaniter internasional. Adapun setiap serangan terhadap mereka merupakan pelanggaran serius.


















