China Disebut Ungguli Eropa dalam Inovasi dan Riset Obat Baru

- China kini memimpin riset kanker global dengan 40 persen kontribusi, menghasilkan 28 obat inovatif pada 2024 dan menyalip Eropa yang hanya meluncurkan 18 obat baru.
- Asia menarik investasi karena uji klinis lebih cepat dan murah, sementara Eropa dikritik atas birokrasi serta pemangkasan anggaran kesehatan yang menghambat inovasi farmasi.
- Sebagai respons, AS meluncurkan Operation TrialBlazer dan Uni Eropa menyiapkan UU Bioteknologi untuk mempercepat riset serta menyaingi dominasi China di sektor kesehatan.
Jakarta, IDN Times - Para petinggi industri farmasi dunia bertemu di Brussels, Belgia, pada Selasa (23/6/2026). Pertemuan ini membahas peta persaingan riset kesehatan global yang kini semakin dipimpin oleh negara di kawasan Asia.
Forum yang dihadiri pemimpin perusahaan farmasi besar dan organisasi internasional ini bertujuan merumuskan langkah taktis. Semua dilakukan untuk merespons pergeseran investasi penelitian klinis yang mengalir deras ke Asia.
1. China kuasai 40 persen penelitian kanker di dunia
Penelitian kanker di Asia Timur tumbuh pesat dan mulai menggeser posisi negara-negara Barat. Kemajuan ini didukung oleh infrastruktur riset yang kuat serta ekosistem bioteknologi dalam negeri yang ditopang regulasi yang mendukung.
Chief International Commercial Officer Pfizer, Alexandre de Germay, mengungkapkan bahwa pergeseran ini membuat laboratorium global semakin memprioritaskan pasar Asia.
"Saat ini, 40 persen dari seluruh penelitian kanker di dunia dilakukan di China. Jumlah inovasi yang lahir dari perusahaan bioteknologi di sana benar-benar luar biasa," ujar De Germay, dilansir Investing.
Kesenjangan riset ini terlihat dari data obat baru di pasar dunia. Pada tahun 2024, dari 81 obat inovatif yang diluncurkan, 28 berasal dari China, sementara Eropa hanya menghasilkan 18 obat.
2. Biaya lebih murah dan uji klinis lebih cepat jadi daya tarik Asia
Selain jumlah inovasi yang besar, kecepatan dan biaya yang lebih murah menjadi alasan utama investor riset memilih Asia. Ini memberi keuntungan bagi produsen karena bisa mempersingkat waktu peluncuran obat ke pasar.
Menurut De Germay, uji klinis di China bisa berjalan tiga kali lebih cepat dengan biaya sekitar setengahnya dibandingkan di Eropa.
Di sisi lain, pemangkasan anggaran kesehatan dan lambatnya negosiasi harga obat di Eropa dikritik tajam oleh pelaku industri. Direktur Jenderal Federasi Industri Farmasi Eropa (EFPIA), Nathalie Moll, menilai kebijakan itu sebagai langkah ekonomi yang keliru.
"Mengutamakan hal lain di luar anggaran kesehatan dan obat-obatan adalah keputusan ekonomi yang merugikan diri sendiri. Kita mengorbankan kesejahteraan jangka panjang demi keuntungan sesaat," kata Moll, dilansir EU News.
Untuk membalikkan keadaan, Presiden EFPIA, Stefan Oelrich, mendesak adanya reformasi aturan yang radikal di Eropa. Menurutnya, Eropa harus menciptakan lingkungan yang mendukung inovasi tanpa birokrasi berbelit agar masyarakat tidak sulit mengakses pengobatan terbaru.
3. AS dan Eropa siapkan aturan baru untuk menyaingi China
Kemajuan pesat Asia memicu negara-negara Barat bergerak cepat karena persaingan teknologi kesehatan kini dianggap sebagai isu geopolitik penting. Pfizer menekankan bahwa ancaman persaingan dari China harus dihadapi bersama.
Pemerintah Amerika Serikat langsung meluncurkan program reformasi uji klinis bernama Operation TrialBlazer. Program dari Kementerian Kesehatan AS ini bertujuan memangkas waktu persetujuan riset tahap awal hingga satu tahun penuh demi menarik kembali arus investasi.
Sementara itu, Uni Eropa sedang merampungkan rancangan Undang-Undang Bioteknologi untuk menyederhanakan birokrasi uji klinis. Keberhasilan aturan baru ini akan menentukan kemampuan negara-negara Barat dalam mengejar ketertinggalan teknologi medis dari Asia.










![[QUIZ] Tebak Nama Presiden Negara Peserta Piala Dunia 2026 Saat Ini, Bisa Jawab?](https://image.idntimes.com/post/20260626/upload_eb303502a2c25570fd881db56061c870_42c4a4ab-ef89-471a-80da-777dc3f4c599.jpg)







