Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Ribuan Warga Gaza ‘Lenyap’ dalam Serangan Senjata Termobarik Israel

Serangan udara Israel yang menargetkan Jalur Gaza selama perang 2023-2025 (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Serangan udara Israel yang menargetkan Jalur Gaza selama perang 2023-2025 (Jaber Jehad Badwan, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
Intinya sih...
  • 2.842 warga Palestina 'lenyap' dan tak ditemukan setelah serangan di Gaza
  • Dugaan penggunaan senjata termobarik oleh Israel dalam operasi militer di Gaza
  • Rangkaian pelanggaran Israel terhadap warga Palestina selama bertahun-tahun
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Konflik di Gaza kembali menjadi sorotan setelah sejumlah laporan media internasional menyebut ribuan warga sipil diduga tewas dalam serangan berdaya ledak tinggi. Beberapa laporan bahkan menggunakan istilah “vaporised” untuk menggambarkan korban yang jasadnya tidak lagi ditemukan setelah ledakan besar di wilayah padat penduduk di Gaza.

Benarkah Israel menggunakan senjata dengan sistem amunisi khusus yang menyebabkan ribuan orang korban di Gaza 'lenyap'?

Investigasi sebut 2.842 korban 'lenyap' dan tak ditemukan

Dampak dari serangan udara Israel di Kota Gaza, Palestina pada 9 Oktober 2023, yang menyebabkan kerusakan meluas di wilayah Rimal.  ( Palestinian News & Information Agency (Wafa) in contract with APAimages, Public domain, via Wikimedia Commons)
Dampak dari serangan udara Israel di Kota Gaza, Palestina pada 9 Oktober 2023, yang menyebabkan kerusakan meluas di wilayah Rimal. ( Palestinian News & Information Agency (Wafa) in contract with APAimages, Public domain, via Wikimedia Commons)

Laporan investigasi dari Al Jazeera menyebut sekitar 2.842 warga Palestina tercatat tidak lagi ditemukan setelah serangan di berbagai titik di Gaza, Palestina. Data tersebut merujuk pada dokumentasi tim penyelamat lokal yang membandingkan jumlah penghuni sebelum dan sesudah serangan udara. Istilah evaporated digunakan untuk menggambarkan kondisi korban yang tidak ditemukan sisa jasadnya di lokasi.

Pemberitaan serupa juga dimuat oleh Anadolu Agency yang menyebut ribuan warga diduga tewas dalam serangan yang melibatkan amunisi berdaya ledak tinggi. Media itu menyoroti laporan lapangan yang menyatakan sejumlah korban tidak dapat diidentifikasi karena dampak ledakan yang sangat kuat.

Dugaan penggunaan senjata termobarik

Anak-anak laki-laki menyelamatkan bangunan yang hancur akibat serangan Israel di Jalur Gaza, tahun 2009. (Shareef Sarhan, CC BY-SA 3.0 IGO, via Wikimedia Commons)
Anak-anak laki-laki menyelamatkan bangunan yang hancur akibat serangan Israel di Jalur Gaza, tahun 2009. (Shareef Sarhan, CC BY-SA 3.0 IGO, via Wikimedia Commons)

Dalam laporannya, Middle East Eye menyoroti dugaan penggunaan senjata termobarik dalam operasi militer di Gaza. Senjata jenis ini dikenal menghasilkan suhu dan tekanan ekstrem saat meledak, terutama di ruang tertutup, sehingga dapat menghancurkan struktur bangunan sekaligus menimbulkan dampak fatal pada manusia di sekitarnya.

Sementara itu, The Times of India juga mengangkat laporan mengenai bom termobarik yang diduga digunakan dalam serangan tersebut. Media tersebut menjelaskan bahwa efek panas dan gelombang tekanan dari senjata ini dapat menyebabkan tubuh korban sulit ditemukan secara utuh.

Rangkaian pelanggaran Israel terhadap warga Palestina

Anak-anak berjalan melewati masjid yang hancur di Jalur Gaza tahun 2009 (Shareef Sarhan, CC BY-SA 3.0 IGO, via Wikimedia Commons)
Anak-anak berjalan melewati masjid yang hancur di Jalur Gaza tahun 2009 (Shareef Sarhan, CC BY-SA 3.0 IGO, via Wikimedia Commons)

Di luar laporan terbaru soal dugaan penggunaan senjata termobarik, konflik Israel–Palestina selama bertahun-tahun juga diwarnai berbagai tudingan pelanggaran terhadap warga sipil Palestina. Sejumlah organisasi hak asasi manusia internasional menyoroti beberapa isu berikut:

  • Serangan udara di wilayah padat penduduk Gaza yang menyebabkan tingginya korban sipil.
  • Blokade berkepanjangan di Gaza yang membatasi akses terhadap listrik, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya.
  • Ekspansi permukiman Israel di Tepi Barat, yang dinilai banyak pihak melanggar hukum internasional.
  • Penggusuran dan pembongkaran rumah warga Palestina di Yerusalem Timur dan wilayah lain.
  • Penahanan administratif terhadap warga Palestina tanpa proses pengadilan yang jelas, yang sering dikritik kelompok HAM.

Israel secara konsisten menyatakan bahwa operasi militernya ditujukan untuk melawan kelompok bersenjata seperti Hamas dan menegaskan memiliki hak membela diri. Namun, berbagai laporan dan investigasi independen terus memicu perdebatan global mengenai proporsionalitas penggunaan kekuatan serta dampaknya terhadap warga sipil.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Latest in News

See More

Kirim Bantuan ke Kuba, Rusia Ngaku Bukan Cari Gara-gara dengan AS

14 Feb 2026, 15:40 WIBNews