Dino Patti Djalal: Dunia Amburadul, Civil Society Penyeimbangnya

- Dunia semakin tidak waras, tanpa standar dan norma yang jelas
- Kekerasan dinormalisasi, kemanusiaan terpinggirkan
- Civil Society menjadi penyeimbang utama untuk menjaga kewarasan dunia
Jakarta, IDN Times - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menilai dunia saat ini tengah bergerak ke arah yang semakin tidak rasional, tanpa standar, norma, dan etika yang jelas. Dalam kondisi tersebut, civil society dinilai menjadi satu-satunya penyeimbang yang mampu menjaga kewarasan tatanan global.
Pernyataan itu disampaikan Dino saat menerima penghargaan Inspiring Newsmaker in Public Diplomacy Literacy Leadership dalam acara Semangat Awal Tahun 2026 yang digelar IDN Times.
1. Dunia amburadul tanpa norma

Dino menggambarkan situasi global saat ini sebagai dunia yang ‘semakin tidak waras’, ditandai dengan tindakan-tindakan ekstrem dan tidak masuk akal dalam politik internasional.
Ia menyinggung contoh penculikan Presiden Venezuela, pengakuan sepihak Presiden Amerika Serikat sebagai Presiden Venezuela, hingga klaim wilayah negara lain yang sebelumnya tidak pernah disengketakan.
“Kalau sekarang Indonesia mengklaim Texas, itu tidak masuk akal. Tapi itulah realitas hari ini,” kata Dino, Kamis (15/1/2026).
Menurutnya, dunia kini berjalan tanpa standar, norma, etika, maupun moralitas yang disepakati bersama.
2. Kekerasan dinormalisasi, kemanusiaan terpinggirkan

Dino juga menyoroti tragedi kemanusiaan di Gaza, di mana puluhan ribu warga sipil tewas namun dianggap sebagai hal biasa oleh sebagian masyarakat dunia.
“Enam puluh ribu orang dibantai di Gaza, dianggap biasa saja,” ujarnya. Ia menilai normalisasi kekerasan tersebut sebagai tanda serius runtuhnya nurani global.
3. Civil Society jadi penjaga kewarasan

Dalam kondisi dunia yang semakin tidak stabil, Dino menegaskan, penyeimbang utama bukanlah negara besar atau kekuatan geopolitik tertentu, melainkan civil society. Namun, ia mengingatkan tidak semua civil society otomatis membawa kebaikan.
“Civil society bisa menjadi bad civil society, bisa juga menjadi good civil society. Dan itu yang harus kita jaga,” tegasnya.
Agar civil society berfungsi sebagai kekuatan positif, Dino menekankan pentingnya menjadikan akal sehat, logika, nalar, dan perdebatan yang sehat sebagai nilai dominan di masyarakat.
















