Disebut Hubungannya Retak, Netanyahu: Israel Punya Teman Selain AS

- Netanyahu menegaskan hubungan Israel-AS tetap solid meski ada perbedaan pandangan dengan Trump soal Iran, dan keduanya berkomitmen mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
- Ia membantah anggapan bahwa Israel hanya bergantung pada AS, menyebut India dan sejumlah negara lain juga menjadi mitra penting di bidang pertahanan dan teknologi.
- Netanyahu menilai Lebanon berpotensi menjalin perdamaian jika pengaruh Hizbullah melemah, serta mengklaim beberapa kelompok di sana ingin bekerja sama dengan Israel.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu membantah adanya keretakan hubungan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di tengah perbedaan pandangan mengenai nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Washington dan Teheran yang mengakhiri perang Iran-Israel.
Netanyahu menegaskan dirinya dan Trump tetap memiliki tujuan yang sama, yakni memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir. Meski demikian, ia mengatakan, Israel akan tetap mengambil langkah yang diperlukan apabila pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran tidak menghasilkan kesepakatan.
“Kami ingin melihat Iran menghentikan program senjata nuklirnya. Kami ingin material uranium yang diperkaya dipindahkan. Kami ingin fasilitas pengayaan nuklir dibongkar. Kami memiliki tujuan yang sama,” kata Netanyahu, dilansir dari Times of Israel, Senin (6/7/2026)
Ia kemudian menambahkan, “Kesepakatan atau tidak ada kesepakatan, selama saya menjadi perdana menteri, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir.”
1. Netanyahu tegaskan hubungan dengan Trump tetap erat

Pernyataan Netanyahu muncul setelah sejumlah komentar publik Trump memicu spekulasi mengenai memburuknya hubungan kedua pemimpin tersebut. Dalam beberapa pekan terakhir, Trump sempat melontarkan kritik keras kepada Netanyahu terkait perkembangan konflik dengan Iran maupun Hizbullah di Lebanon.
Meski demikian, Netanyahu menepis anggapan tersebut. Ia mengatakan, hubungan Israel dan Amerika Serikat (AS) tetap menjadi aliansi terdekat, sementara perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar di antara dua negara sekutu.
“Amerika tidak memiliki sekutu yang lebih besar daripada Israel, dan Israel tidak memiliki sekutu yang lebih besar daripada Amerika Serikat,” ujarnya.
Menurut Netanyahu, Trump sebagai Presiden AS akan mengutamakan kepentingan negaranya, sementara dirinya berkewajiban melakukan hal yang sama bagi Israel.
“Trump adalah pemimpin Amerika Serikat dan melakukan apa yang terbaik bagi Amerika. Saya adalah pemimpin Israel dan melakukan apa yang terbaik bagi Israel. Sembilan puluh sembilan persen waktu kami memiliki pandangan yang sama, tetapi seperti dalam keluarga atau persahabatan yang dekat, terkadang ada perbedaan pendapat. Kami membicarakannya secara terbuka dan biasanya menyelesaikannya,” tutur dia.
Netanyahu juga mengungkapkan dirinya dan Trump akan kembali bertemu di Washington dalam waktu dekat untuk membahas sejumlah isu strategis, termasuk perkembangan situasi Iran.
2. Netanyahu bantah Israel hanya punya satu sekutu

Dalam wawancara tersebut, Netanyahu juga menanggapi pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance yang sebelumnya menyebut Trump sebagai satu-satunya pemimpin dunia yang masih mendukung Israel. Netanyahu mengakui Trump merupakan salah satu sahabat terbesar Israel di Gedung Putih, tetapi menolak anggapan bahwa negaranya hanya memiliki satu sekutu.
“Donald Trump adalah sahabat terbesar yang pernah kami miliki di Gedung Putih, tetapi kami juga memiliki banyak sekali sahabat lainnya,” ujarnya.
Ia mencontohkan, India sebagai salah satu negara yang menurutnya memberikan dukungan besar kepada Israel. “India memiliki 1,4 miliar penduduk dan kami mendapatkan dukungan yang luar biasa di sana,” kata Netanyahu.
Selain itu, ia mengklaim banyak pemimpin dunia tetap menjalin komunikasi dengan Israel meski menghadapi tekanan opini publik di negaranya masing-masing.
“Banyak pemimpin menghubungi saya dan mengatakan bahwa mereka menghadapi tekanan opini publik, tetapi mereka tetap menghormati Israel dan ingin bekerja sama, baik di bidang pertahanan, kecerdasan buatan maupun keamanan siber,” ujarnya.
3. Sebut Lebanon ingin lepas dari pengaruh Hizbullah

Selain membahas Iran, Netanyahu juga menyinggung situasi di Lebanon setelah tercapainya kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat. Ia menilai masih terdapat peluang untuk memperluas perdamaian di kawasan, termasuk melalui normalisasi hubungan dengan Lebanon apabila pengaruh Hizbullah berhasil dikurangi.
Netanyahu bahkan mengklaim sejumlah kelompok masyarakat di Lebanon menginginkan perlindungan dari Israel.
“Bukan hanya umat Kristen di Lebanon yang meminta perlindungan kami. Ada juga kelompok Druze, Muslim Sunni, bahkan sebagian Muslim Syiah yang ingin membebaskan Lebanon dari Hizbullah. Saya berharap akan ada lebih banyak perjanjian damai,” katanya.
Meski demikian, ia tidak menyebutkan bukti ataupun rincian mengenai klaim tersebut. Di akhir wawancara, Netanyahu juga mengakui dukungan terhadap Israel di Amerika Serikat, terutama di kalangan generasi muda, mulai mengalami penurunan. Namun, ia optimistis hubungan kedua negara tidak akan terganggu.
“Saya yakin selama hubungan kami dibangun atas kepentingan bersama dan nilai-nilai bersama, aliansi ini akan tetap kuat,” ujar Netanyahu.


















