Flu Burung H5N1 Tewaskan 13 Ribu Anak Anjing Laut di Australia

- Wabah flu burung H5N1 menewaskan lebih dari 13 ribu anak anjing laut gajah selatan di Kepulauan Heard dan McDonald, menjadi kasus pertama virus ini terdeteksi di wilayah luar Australia.
- Virus varian 2.3.4.4b ditemukan pada enam jenis satwa liar termasuk penguin dan burung laut, diduga menyebar melalui hewan migrasi dari Kepulauan Crozet menuju kawasan sub-Antartika.
- Tim ilmuwan menggunakan drone untuk memantau penyebaran wabah tanpa mengganggu koloni satwa, sementara pemerintah Australia memastikan daratan utamanya masih bebas dari flu burung H5 yang sangat menular.
Jakarta, IDN Times – Wabah flu burung H5N1 menyebabkan kematian massal anak anjing laut gajah selatan di Kepulauan Heard dan McDonald, wilayah terpencil milik Australia di Samudra Selatan. Ini menjadi kali pertama virus flu burung yang sangat menular terdeteksi di wilayah luar Australia.
Para ilmuwan melaporkan lebih dari 13 ribu anak anjing laut mati akibat infeksi virus itu. Kondisi ini turut memunculkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap satwa liar lain di kawasan sub-Antartika.
1. Lebih dari 13 ribu anak anjing laut mati

Tim peneliti menemukan ribuan bangkai anak anjing laut saat melakukan ekspedisi ke Pulau Heard pada Oktober 2025. Hasil survei terbaru yang dilakukan dari darat dan udara mencatat sebanyak 13.359 anak anjing laut gajah selatan mati karena wabah tersebut.
Jumlah itu setara dengan sekitar 76 persen dari total populasi anak anjing laut yang mencapai 17.364 ekor. Di beberapa tempat berkembang biak, tingkat kematian bahkan mencapai 97 persen.
Ilmuwan Riset Senior, Jarrod Hodgson, mengatakan timnya sudah memperkirakan kemungkinan munculnya wabah ini.
"Ini sangat menyedihkan, tapi kami sudah bersiap-siap sejak awal menghadapi kemungkinan ini," kata Hodgson, dikutip ABC News Australia. Para peneliti juga mencatat bahwa kematian satwa masih terus berlangsung meski masa pengamatan di lapangan telah selesai.
2. Virus terdeteksi pada sejumlah jenis satwa liar

Hasil uji laboratorium memastikan adanya virus flu burung H5N1 varian 2.3.4.4b pada bangkai satwa yang ditemukan di pulau tersebut.
Peneliti menemukan infeksi pada setidaknya enam jenis satwa liar, yaitu anjing laut bulu Antartika, penguin raja, penguin gentoo, burung skua, dan South Georgia diving petrel. Selain anjing laut, ratusan penguin raja dewasa juga mati dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya. Meski begitu, angka itu masih tergolong kecil dibanding total populasi penguin raja di kawasan tersebut.
Para ilmuwan menduga virus masuk ke Pulau Heard melalui hewan yang bermigrasi dari Kepulauan Crozet pada Agustus 2025.
"Temuan flu burung di Pulau Heard dan Pulau McDonald ini merupakan yang pertama di wilayah luar Australia, dan menunjukkan bahwa virus ini terus bergerak ke arah timur di sekitar kawasan sub-Antartika," ujar Biolog Satwa Liar, Dr. Julie McInnes, dilansir Bangkok Post.
3. Drone dipakai memantau penyebaran wabah

Tim ilmuwan menerbangkan drone sebanyak 120 kali dengan total jarak tempuh lebih dari 1.600 kilometer untuk memantau kondisi satwa liar di Kepulauan Heard dan McDonald.
Cara ini membuat peneliti bisa menghitung jumlah kematian satwa tanpa mengganggu koloni yang masih hidup. Drone juga membantu menjangkau wilayah tebing dan pulau-pulau kecil yang sulit didatangi manusia.
Hasil pemantauan udara menunjukkan bahwa kematian tertinggi terkonsentrasi di bagian tenggara Pulau Heard. Sementara itu, pemerintah Australia menyatakan bahwa daratan utama negara itu masih bebas dari penyebaran flu burung H5 yang sangat menular.
"Untuk saat ini kita memang bebas dari flu burung H5 yang ganas dan mudah menular. Tapi melihat penyebarannya yang terus meluas secara global, kita harus realistis bahwa suatu saat virus ini bisa sampai ke sini," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Air Australia, Murray Watt.














