Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gelapkan Dana Sumbangan Kuil, Biksu Senior Thailand Ditangkap

Gelapkan Dana Sumbangan Kuil, Biksu Senior Thailand Ditangkap
ilustrasi penangkapan (unsplash.com/niu niu)
  • Biksu senior Phra Wachirayan Wi dan Punyavee Rungrueang ditahan di Thailand atas dugaan penggelapan serta pencucian dana sumbangan Wat Phutthaisawan senilai 92 juta baht.
  • Polisi menyita aset senilai 215 juta baht dari enam properti, termasuk uang tunai, 16 kilogram emas, perhiasan, dan 28 sertifikat tanah.
  • Pengadilan Saraburi menolak jaminan kedua tersangka dan menetapkan penahanan awal 12 hari, sementara kasus ini memicu tuntutan pengawasan keuangan kuil lebih ketat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Kepolisian Thailand menahan seorang biksu Buddha senior beserta seorang rekan perempuannya pada Jumat (11/9/2026). Penahanan ini dilakukan setelah keduanya diduga menggelapkan dana sumbangan kuil bersejarah dalam jumlah yang fantastis.

Pengungkapan kasus korupsi tersebut sontak mengguncang tatanan institusi keagamaan di Thailand. Peristiwa ini memicu desakan publik agar pemerintah segera memperketat pengawasan tata kelola keuangan tempat ibadah di seluruh penjuru negeri.

  1. 1. Kepala biara diduga gelapkan dana sumbangan Rp48,95 miliar

    Kepala biara Wat Phutthaisawan, Phra Wachirayan Wi (66), ditangkap di Provinsi Ayutthaya atas tuduhan penggelapan aset dan pencucian uang. Mantan pimpinan kuil kuno tersebut diduga menyalahgunakan dana sumbangan umat senilai sekitar 92 juta baht (Rp48,95 miliar).

    Polisi menemukan fakta bahwa uang donasi untuk renovasi biara dan hasil penjualan benda-benda suci tidak pernah disetorkan ke rekening resmi kuil.

    "Uang dari kedua sumber dana tersebut sama sekali tidak masuk ke rekening kuil, tidak sepeser pun," tegas Komandan Divisi Penindakan Kejahatan Kepolisian Thailand, Pattanasak Bupphasuwan, dikutip dari The Guardian.

    Selain itu, polisi turut menahan Punyavee Rungrueang (47) yang didakwa membantu tersangka menyamarkan uang hasil kejahatan. Setelah ditangkap, mantan kepala biara tersebut langsung menjalani ritual pencopotan jubah kebiksuan sebelum digiring ke markas penyidik kriminal di Bangkok.

  2. 2. Polisi sita ratusan juta baht dan simpanan emas batangan

    Tim penyidik kemudian menggeledah enam properti yang tersebar di kawasan Ayutthaya, Pathum Thani, Bangkok, hingga Buri Ram. Dari operasi terkoordinasi tersebut, kepolisian menyita sejumlah aset senilai 215 juta baht (Rp114,4 miliar) yang diduga kuat bersumber dari tindak pidana kedua tersangka.

    Barang bukti yang disita meliputi uang tunai 144 juta baht (Rp76,6 miliar), 16 kilogram emas batangan beserta perhiasan, serta 28 sertifikat hak milik tanah. Aparat penegak hukum kini tengah melakukan verifikasi untuk memisahkan harta pribadi tersangka dari aset resmi milik biara.

    Guna mencegah penipuan serupa, kepolisian mengimbau masyarakat untuk lebih teliti saat menyalurkan donasi.

    "Masyarakat harus memastikan dana hanya ditransfer ke rekening bank resmi atas nama kuil yang terintegrasi dengan sistem donasi elektronik milik kementerian," ujar Kepala Biro Investigasi Pusat, Jenderal Polisi Natthasak Chaowanasai.

  3. 3. Pengadilan Saraburi tolak permohonan jaminan para tersangka

    Pengadilan Kriminal Pusat untuk Kasus Korupsi dan Pelanggaran Jabatan di Provinsi Saraburi secara resmi menolak permohonan pembebasan bersyarat bagi kedua tersangka. Hakim menetapkan masa penahanan awal selama 12 hari guna melengkapi pemberkasan perkara.

    Keputusan penolakan jaminan ini diambil berdasarkan pertimbangan beratnya ancaman hukuman dan kekhawatiran tersangka akan melarikan diri atau memanipulasi kasus.

    Mencuatnya kasus penyelewengan dana di Wat Phutthaisawan ini kian meningkatkan tekanan dari masyarakat agar pemerintah mereformasi sistem pembukuan keuangan seluruh kuil di Thailand. Transparansi pengelolaan aset keagamaan dinilai sangat mendesak demi memulihkan kembali kepercayaan umat terhadap institusi monastik nasional.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More