Israel Gempur Lebanon Selatan, Tewaskan Satu Orang

- Serangan drone Israel di Bint Jbeil tewaskan satu orang dan menyebabkan evakuasi mendadak di desa Kfar Hatta.
- Gencatan senjata rapuh antara Israel dan Hizbullah terus diuji, dengan klaim pelanggaran kesepakatan dari kedua belah pihak.
- Polemik pelucutan senjata Hizbullah di selatan Sungai Litani memunculkan ketegangan antara Lebanon dan Israel, meningkatkan kekhawatiran akan pecahnya perang baru.
Jakarta, IDN Times - Militer Israel kembali melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Lebanon selatan pada Minggu (11/1/2026). Serangan ini menewaskan satu orang dan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang signifikan di berbagai titik.
Israel mengklaim operasi militer tersebut menargetkan anggota dan infrastruktur senjata milik kelompok Hizbullah. Eskalasi ini menandai pelanggaran terbaru terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sebenarnya telah berlaku sejak November 2024.
1. Serangan drone di Bint Jbeil tewaskan satu orang

Sebuah drone Israel menembakkan peluru kendali ke arah sebuah mobil di kota Bint Jbeil yang menewaskan satu orang. Israel mengklaim target serangan tersebut adalah seorang anggota aktif Hizbullah.
Selain itu, tentara Israel mengeluarkan perintah evakuasi mendadak bagi penghuni kompleks perumahan di desa Kfar Hatta, distrik Sidon. Sekitar 10 bangunan di area tersebut diperintahkan untuk dikosongkan sebelum jet tempur menjatuhkan bom ke lokasi yang diklaim sebagai infrastruktur Hizbullah.
Serangan udara Israel juga menghantam wilayah Mahmoudiyeh, Damshqiyah, dan Al-Breij di pinggiran Jbaa. Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan lebih dari 10 serangan udara menghantam wilayah Iqlim al-Tuffah dalam kurun waktu kurang dari satu jam.
“Baru saja, sebagai tanggapan atas pelanggaran terus-menerus Hizbullah terhadap kesepakatan gencatan senjata, IDF menyerang seorang teroris Hizbullah di daerah Bint Jbeil,” ujar pihak militer Israel dalam pernyataannya, dilansir Al Jazeera.
2. Klaim pelanggaran kesepakatan gencatan senjata

Gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Hizbullah terus diuji dengan berbagai insiden lintas perbatasan dalam beberapa pekan terakhir. Israel menuduh Hizbullah menggunakan fasilitas sipil untuk menyimpan senjata dan mencoba membangun kembali kekuatan militernya di selatan.
Sebaliknya, pihak Lebanon menilai Israel terus melanggar kedaulatan mereka meskipun perjanjian damai telah ditandatangani akhir tahun lalu. Pasukan Israel diketahui masih mempertahankan kehadiran militer di lima pos perbatasan di wilayah Lebanon selatan.
Israel berdalih serangan terbaru ini menyasar terowongan dan fasilitas yang digunakan untuk menimbun persenjataan di situs militer Hizbullah. Namun, serangan tersebut sering kali berdampak langsung pada area permukiman warga dan infrastruktur publik.
Konflik berkepanjangan ini telah menelan korban jiwa yang sangat besar di pihak Lebanon sejak perang di Gaza meletus. Tercatat lebih dari 4 ribu orang tewas dan 17 ribu lainnya mengalami luka-luka akibat agresi militer Israel di wilayah tersebut.
3. Polemik pelucutan senjata Hizbullah di selatan Sungai Litani

Pemerintah Lebanon sebenarnya telah berkomitmen untuk melucuti senjata kelompok Hizbullah di wilayah selatan Sungai Litani sebagai bagian dari rencana nasional. Militer Lebanon baru saja mengumumkan bahwa fase pertama rencana tersebut telah selesai dilaksanakan guna memenuhi tuntutan internasional.
Namun, Israel menganggap langkah tersebut belum cukup. Tel Aviv menuntut pembongkaran total infrastruktur militer Hizbullah di seluruh wilayah Lebanon, bukan hanya di perbatasan selatan.
“Gencatan senjata menyatakan dengan jelas bahwa Hizbullah harus dilucuti sepenuhnya. Upaya yang dilakukan pemerintah Lebanon dan angkatan bersenjata adalah awal yang baik, tetapi masih jauh dari cukup,” kata kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dilansir France24.
Hizbullah sendiri menolak menyerahkan senjata mereka sepenuhnya kepada pemerintah pusat di Beirut. Mereka menilai persenjataan tersebut diperlukan untuk pertahanan diri mengingat Israel terus melakukan pelanggaran wilayah dan serangan udara.
Sementara itu, militer Israel dilaporkan telah menyelesaikan persiapan untuk potensi serangan skala besar jika upaya diplomatik gagal. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran akan pecahnya kembali perang terbuka yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
















