Israel Hancurkan Pemakaman Pasukan Penjaga Perdamaian Kanada di Gaza

- Pasukan Israel menghancurkan Pemakaman Perang Gaza yang menjadi tempat peristirahatan 22 tentara Kanada, dengan bukti citra satelit menunjukkan kerusakan parah akibat operasi militer dan aktivitas alat berat.
- Militer Israel mengaku menggali area pemakaman hingga 30 meter untuk menghancurkan terowongan Hamas tanpa perlindungan khusus bagi jenazah, sementara keluarga penjaga makam terpaksa mengungsi.
- Pemerintah Kanada menyatakan keprihatinan atas kerusakan situs bersejarah itu dan menegaskan pentingnya pelestarian memorial, meski belum menjelaskan langkah konkret terhadap pemerintah Israel.
Jakarta, IDN Times - Pasukan Israel telah menghancurkan kompleks pemakaman di Jalur Gaza yang menjadi tempat peristirahatan terakhir 22 tentara Kanada yang gugur dalam misi penjaga perdamaian pertama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1956.
Pemakaman Perang Gaza di distrik Tuffah, Kota Gaza, dilaporkan telah berulang kali mengalami kerusakan akibat operasi militer Israel. Hasil citra satelit menunjukkan bahwa pasukan Israel secara bertahap menghancurkan batu-batu nisan di area pemakaman, menggali tanggul tanah menggunakan alat berat, serta menempatkan tank dan kendaraan lapis baja lainnya di sekitar lokasi tersebut. Selain itu, terdapat juga bekas ledakan yang menyebabkan sebagian area makam rusak.
"Rasanya seperti tidak ada lagi batu nisan di sana. Yang terlihat sekarang hanya tanah, kerikil, dan pasir,” kata Lia Bons kepada CBC. Saudara laki-lakinya, Adriann, termasuk di antara tentara Kanada yang dimakamkan di lokasi tersebut.
1. Tentara Israel gali area pemakaman untuk hancurkan terowongan Hamas

Seorang perwira militer Israel mengakui bahwa pasukannya menggali hingga kedalaman 20–30 meter di area pemakaman tersebut untuk menghancurkan terowongan kelompok Hamas pada Februari 2026. Namun, tidak ada langkah khusus yang diambil untuk melindungi jenazah para tentara yang dimakamkan di sana karena operasi dilakukan dalam situasi pertempuran.
Hingga kini, belum ada perwakilan pemerintah Kanada maupun Commonwealth War Graves Commission (CWGC), pengelola pemakaman tersebut, yang dapat mengunjungi lokasi itu. Sementara itu, keluarga Jaradeh yang telah merawat pemakaman tersebut selama empat generasi telah mengungsi akibat kedatangan pasukan Israel.
Menurut laporan, para tentara Kanada yang dimakamkan di sana gugur dalam misi penjaga perdamaian pertama PBB setelah invasi Israel ke Mesir pada 1956. Mereka merupakan kelompok terakhir tentara Kanada yang dimakamkan di luar negeri.
2. Keluarga minta pemerintah Kanada lindungi makam tersebut

Pihak keluarga telah mendesak pemerintah Kanada untuk berbuat lebih banyak guna melindungi jenazah para tentara yang dimakamkan di lokasi tersebut. Sebagian dari mereka ingin jenazah anggota keluarga mereka dipulangkan kembali ke Kanada.
Marguerite Picard sendiri berharap jenazah saudara laki-lakinya, Paul, dapat dipulangkan agar dapat dimakamkan di samping ayah dan ibunya.
"Saya sangat yakin orang tua saya menginginkan saudara laki-laki saya dipulangkan. Saya akan memakamkannya di samping ibu dan ayah, serta menuliskan namanya pada batu nisan agar orang-orang tahu bahwa dia ada di sana," kata Picard.
3. Kanada mengaku prihatin atas laporan kerusakan tersebut

Pejabat Kanada menyatakan bahwa pemerintah sangat prihatin dengan laporan mengenai kerusakan pada Pemakaman Perang Gaza. Namun, pihaknya tidak mengungkapkan langkah-langkah apa yang telah diambil terhadap pemerintah Israel terkait insiden tersebut.
"Kanada menegaskan dengan sekuat-kuatnya pentingnya memastikan situs-situs bersejarah dan memorial yang didedikasikan bagi mereka yang telah mengabdi tetap dilestarikan dengan penghormatan setinggi-tingginya," kata Brittany Fletcher dari Global Affairs Canada.
Ia menambahkan bahwa departemennya telah menjalin komunikasi dengan pihak berwenang terkait, tetapi tidak merinci siapa pihak yang dimaksud.
















