Israel Keluarkan Spanyol dari Pusat Koordinasi Gaza

- Israel mengeluarkan Spanyol dari Pusat Koordinasi Sipil-Militer (CMCC) di Kiryat Gat setelah menuduh Madrid melakukan perang diplomatik dan mencemarkan nama baik Pasukan Pertahanan Israel.
- PM Benjamin Netanyahu dan Menlu Gideon Saar menilai pemerintahan Pedro Sanchez memiliki bias anti-Israel yang parah, sehingga dianggap tidak layak menjadi mitra dalam urusan kawasan.
- Hubungan Spanyol dengan Israel dan AS memburuk akibat kritik Madrid terhadap operasi militer mereka, termasuk penarikan duta besar serta larangan penggunaan wilayah udara dan pangkalan militer.
Jakarta, IDN Times- Pemerintah Israel mengeluarkan Spanyol dari Pusat Koordinasi Sipil-Militer (CMCC) yang berlokasi di Kiryat Gat. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menuduh Spanyol telah mengobarkan perang diplomatik terhadap negaranya.
Pengusiran diumumkan secara langsung melalui sebuah video di platform X pada hari Jumat (10/4/2026). Israel menilai Spanyol telah berulang kali bertindak memusuhi dan mencemarkan nama baik Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
1. CMCC berfungsi mengawasi gencatan senjata di Gaza

CMCC merupakan pusat koordinasi sipil-militer multinasional yang beroperasi di bawah kepemimpinan Amerika Serikat (AS). Pangkalan pemantauan ini secara resmi didirikan oleh Washington pada bulan Oktober lalu.
CMCC dibentuk sebagai bagian dari 20 poin rencana perdamaian Gaza yang diusulkan oleh Presiden AS Donald Trump. Operasional CMCC di Kiryat Gat jatuh di bawah wewenang Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).
Tugas utama pangkalan pengawasan ini adalah menjaga jalannya gencatan senjata secara menyeluruh di Jalur Gaza. Namun, Israel masih rutin menyerang Jalur Gaza, meskipun gencatan senjata telah mulai berlaku sejak tanggal 10 Oktober 2025.
Selain memantau urusan keamanan, CMCC berfungsi untuk memfasilitasi aliran pengiriman bantuan kemanusiaan harian ke wilayah tersebut. Para pejabat militer dan diplomat asing bekerja sama secara langsung dengan personel Israel di fasilitas ini.
2. Spanyol dinilai memiliki bias anti-Israel yang parah

Netanyahu menegaskan Israel tidak akan tinggal diam saat menghadapi pihak-pihak yang terus menyerang kedaulatan mereka. Langkah pengusiran diambil karena Spanyol dianggap berulang kali mengambil posisi yang merugikan keamanan Israel.
"Mereka yang menyerang Israel alih-alih rezim teroris tidak akan menjadi mitra kami mengenai masa depan kawasan ini. Saya tidak bermaksud membiarkan negara mana pun mengobarkan perang diplomatik terhadap kami tanpa menanggung konsekuensi langsung," tutur Netanyahu, dilansir Times of Israel.
Kritik terhadap Spanyol juga dilontarkan oleh Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar. Ia menuduh pemerintahan Perdana Menteri (PM) Pedro Sanchez selama ini memiliki bias anti-Israel yang sangat parah.
"Pemerintahan Sanchez telah melontarkan fitnah kejam terhadap Israel dan tentaranya. Bias anti-Israel yang obsesif dari Spanyol di bawah kepemimpinannya sangat mengerikan sehingga negara itu kehilangan kemampuannya untuk menjalankan peran konstruktif," ujar Saar, dilansir Al Jazeera.
3. Hubungan Spanyol dengan Israel dan AS memburuk

Hubungan Israel dan Spanyol terus memburuk sejak dimulainya perang di Jalur Gaza. Madrid bahkan telah menarik duta besarnya dari wilayah Israel pada pertengahan Maret lalu.
Spanyol juga kerap mengkritik kampanye militer AS dan Israel ke wilayah Iran. Pemerintah Spanyol telah memutuskan untuk menutup wilayah udaranya bagi pesawat tempur AS yang ingin menyerang Iran.
Lebih lanjut, Spanyol juga melarang AS menggunakan dua pangkalan militer utamanya di selatan negara itu. Presiden AS Donald Trump mengecam penolakan ini dengan mengancam akan memutuskan seluruh hubungan perdagangan dengan Spanyol.
Sanchez baru-baru ini mengutuk serangan mematikan Israel terhadap Hizbullah di Lebanon. Serangan udara Israel tercatat telah membunuh sedikitnya 200 orang dan melukai lebih dari seribu warga Lebanon lainnya.


















