Kekerasaan Meningkat, Militer Haiti Siaga Penuh

- Militer Haiti menetapkan siaga maksimum Kondisi D untuk menghadapi lonjakan kekerasan dan aktivitas geng kriminal yang meningkat di berbagai wilayah negara tersebut.
- Kebijakan siaga ini menangguhkan izin personel, memperketat kontrol akses pangkalan, serta memastikan kesiapan penuh seluruh unit militer dalam operasi lapangan.
- Haiti menerima pasukan perdamaian dari Chad sebagai bagian dari Gang Suppression Force PBB, meski jumlah pasukan yang tiba masih di bawah 40 persen dari target.
Jakarta, IDN Times - Komando Tinggi Militer Haiti menetapkan siaga maksimum Kondisi D di semua unit militer mulai Senin (6/4/2026). Keputusan ini dalam menghadapi lonjakan kekerasan di Haiti dalam beberapa pekan terakhir.
“Penetapan siaga maksimum dan transisi Kondisi D ini adalah untuk mengantisipasi operasi militer di lapangan dalam melawan geng kriminal,” ungkap Komando Militer Haiti, dikutip dari EFE.
Beberapa tahun terakhir, situasi keamanan di Haiti masih belum kondusif usai kasus pembunuhan mantan Presiden Jovenel Moise. Bahkan, geng kriminal semakin berkuasa dengan menduduki sejumlah area di Haiti.
1. Izin personel militer Haiti akan ditangguhkan
Kebijakan siaga maksimum diberlakukan untuk mengecek barak dan kesediaan penuh dari setiap personel yang berjaga. Semua izin untuk tidak hadir akan ditangguhkan sementara waktu hingga pemberitahuan berikutnya.
“Peningkatan kesiapsiagaan ini termasuk kontrol kendaraan dan personel untuk mengakses titik penting dalam pangkalan akan ditingkatkan. Selain itu, akan dibangun mempertahankan rekor penjagaan serta persiapan dari dokumentasi dari setiap operasional acara,” tutur Komando Militer Haiti.
2. Sebanyak 70 orang tewas imbas serangan geng kriminal Haiti
Pekan ini, diketahui sebanyak 70 orang tewas dan 30 lainnya mengalami luka-luka imbas serangan geng kriminal di Artibonite. Organisasi penegak hak asasi manusia (HAM) menyebut bahwa jumlah ini kemungkinan lebih besar dari yang dilaporkan.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengecam keras serangan tersebut. Menurutnya, korban tewas diperkirakan mencapai puluhan orang.
“Serangan ini menggarisbawahi gravitasi situasi keamanan yang dihadapi oleh rakyat Haiti. Kami mendesak diadakan investigasi penuh untuk mengungkap dalang kasus pembunuhan massal ini,” katanya, dilansir Deutsche Welle.
3. Haiti menerima pasukan perdamaian dari Chad
Pada Rabu (1/4/2026), Haiti sudah menerima kedatangan pasukan penjaga perdamaian baru dari Chad. Pasukan tersebut akan tergabung dalam Gang Suppression Force (GSF) yang dibentuk oleh PBB pada 2025.
Dilansir France24, kekuatan pasukan GSF mencapai 5.500 pasukan yang sudah disetujui tahun lalu. Namun, pasukan gabungan yang tiba di Haiti baru di bawah 40 persen dari target yang disetujui. Pada tahun ini kurang dari 1.000 pasukan yang berasal dari Kenya dan beberapa negara Amerika Tengah dan Karibia.



















