“Kami mengalahkan mereka (Iran) sepenuhnya secara militer. Kita memiliki militer terkuat di dunia, jauh lebih unggul dari negara lain. Siapa lagi yang bisa melakukan blokade seperti itu? Saya pernah melakukan blokade angkatan laut di mana tidak satu pun kapal yang berhasil menerobos. Beberapa mencoba. (Namun), mereka gagal dan Anda tahu itu,” ujar Trump pada Kamis (18/6/2026), seperti dikutip Anadolu Agency.
Kesepakatan Damai Diraih, Trump Klaim Menang Telak atas Iran

- Donald Trump mengklaim kemenangan penuh atas Iran setelah negara itu setuju berdamai, menyebut kekuatan militer Iran telah hancur dan AS memiliki keunggulan mutlak di medan perang.
- Iran justru menilai kesepakatan damai sebagai kemenangan besar karena AS bersedia mencabut sanksi, membuka blokade, serta melepaskan aset Iran senilai Rp442,2 triliun.
- Kesepakatan damai resmi ditandatangani di KTT G7 Prancis pada 17 Juni 2026 setelah negosiasi panjang yang dimediasi Pakistan sejak Mei dan sempat tertunda akibat ketegangan regional.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim menang telak atas Iran. Trump mengatakan, Iran akhirnya bersedia menyepakati perdamaian dengan AS karena kekuatan militer mereka sudah hancur total. Hal ini membuat negara mayoritas Islam Syiah itu tidak mampu melanjutkan perang sehingga kemenangan sepenuhnya jadi milik AS.
1. Iran mengklaim menang besar atas AS

Di sisi lain, Iran justru mengklaim sudah menang besar atas AS. Sebab, usai negosiasi alot yang dilakukan sejak April lalu, AS akhirnya bersedia menyepakati perdamaian dengan mereka. Iran juga menyebut kesepakatan damai dengan AS sebagai kemenangan besar bagi mereka.
Iran menilai kesepakatan damai dengan AS sangat menguntungkan. Sebab, dalam kesepakatan itu, AS bersedia melepaskan aset Iran yang sudah mereka bekukan senilai Rp442,2 triliun, membantu rekonstruksi kerusakan perang, menghentikan sanksi ekonomi, dan menghentikan blokade terhadap semua pelabuhan dan kapal milik Iran di Selat Hormuz.
2. Klaim Iran membuat partai pendukung Trump marah

Klaim Iran soal kesepakatan damai dengan AS tadi akhirnya terdengar oleh partai pendukung Trump, Partai Republik. Sejumlah anggota partai itu menilai kesepakatan damai dengan Iran adalah kebijakan luar negeri terburuk yang pernah dibuat AS. Sebab, setelah melihat detailnya, mereka menilai kesepakatan itu hanya menguntungkan Iran saja.
Sebagian besar anggota Partai Republik kecewa dengan Trump karena ia lebih memilih berdamai dengan Iran. Padahal, mereka ingin AS terus menyerang Iran sampai mereka menyerah. Sejumlah anggota Partai Republik juga menilai kesepakatan damai dengan Iran menunjukkan bahwa AS telah menyerah terhadap Iran.
3. AS dan Iran resmi menandatangani kesepakatan damai di KTT G7 Prancis

Kesepakatan damai AS dan Iran sendiri resmi dicapai pada Minggu (14/6/2026) pekan lalu. Kesepakatan ini akhirnya diraih usai kedua negara menjalani negosiasi alot yang dimediasi Pakistan sejak Mei. Pada awal Juni, Iran sebetulnya sempat menghentikan negosiasi damai dengan AS. Keputusan ini dilakukan sebagai protes karena Israel terus menyerang Lebanon. Namun, Teheran akhirnya bersedia kembali melanjutkan negosiasi dengan Washington.
Awalnya, perjanjian damai AS dan Iran akan ditandatangani di Swiss pada Jumat (19/6/2026) waktu setempat. Resort Burgenstock jadi tempat yang dipilih Washington dan Teheran untuk meneken perjanjian sakral tersebut. Namun, AS dan Iran akhirnya memilih untuk menandatangani kesepakatan damai di KTT G7 yang dihelat di Evian, Prancis, pada Rabu (17/6/2026). Oleh karena itu, pertemuan di Swiss kemungkinan besar tidak akan dilaksanakan.
“Pertemuan hari Jumat telah dikonfirmasi hingga beberapa jam yang lalu. Namun, ketika diputuskan bahwa presiden dari kedua belah pihak (Iran dan AS) akan menandatangani perjanjian tersebut, diputuskan untuk menunda pertimbangan pertemuan hari Jumat untuk sementara waktu,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismaeil Baghaei, dilansir Times of Israel.
















