Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kunjungi China, Kim Jong Un Resmikan Jembatan Perbatasan Baru

3 min read
Kunjungi China, Kim Jong Un Resmikan Jembatan Perbatasan Baru
Kim Jong-un (https://commons.wikimedia.org/The Presidential Press and Information Office)
  • Kim Jong Un mengunjungi Dandong, China, untuk meresmikan Jembatan Sungai Yalu Baru dan menegaskan komitmen memperluas kerja sama dengan Beijing.
  • Jembatan sepanjang 3 kilometer yang menghubungkan Dandong dan Sinuiju resmi beroperasi setelah tertunda 12 tahun, melayani lalu lintas barang dua arah selama 24 jam.
  • Kunjungan ini mencerminkan upaya Pyongyang memperkuat hubungan dengan China dan Rusia, sambil menjaga posisi tawar menghadapi tekanan AS dan sekutunya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, mengunjungi China untuk meresmikan jembatan perbatasan baru sekaligus memperluas kerja sama kedua negara, pada Sabtu (24/10/2026). Lawatan perdana Kim dalam setahun terakhir ini menunjukkan langkah kebijakan luar negeri Korea Utara yang makin aktif.

Kunjungan ke kota perbatasan Dandong tersebut menegaskan upaya Pyongyang untuk menyamakan langkah dengan Beijing dan Moskow dalam menghadapi pengaruh Amerika Serikat (AS). Kedatangan Kim melalui jembatan baru ini pun telah dikonfirmasi oleh Kementerian Unifikasi Korea Selatan dan pemerintah China.

  1. 1. Komitmen penguatan kerja sama kedua negara di Dandong

    Kim memasuki wilayah Dandong dengan iring-iringan mobil melewati Jembatan Sungai Yalu Baru. Kedatangannya disambut langsung oleh Ketua Majelis Konsultatif Politik Rakyat China, Wang Huning, serta Menteri Luar Negeri China, Wang Yi. Dalam pertemuan itu, Wang Huning menyampaikan salam hangat dari Presiden China, Xi Jinping, kepada Kim.

    Setelah pertemuan, mereka mendampingi Kim meninjau pabrik mobil dan Monumen Peringatan Perang Melawan Agresi AS dan Membantu Korea. Kunjungan ini bertepatan dengan peringatan pengiriman tentara China dalam Perang Korea 1950–1953.

    "Korea Utara siap bekerja sama dengan China untuk meneruskan persahabatan bersejarah dan memperluas kerja sama nyata, sehingga memberi manfaat langsung bagi rakyat kedua negara," ujar Kim Jong Un, dilansir Hindustan Times.

    Kim juga bertekad mempererat persahabatan yang telah terbentuk sejak masa perang. Menanggapi hal itu, Wang Huning menyatakan kesiapan China memanfaatkan jembatan baru tersebut untuk meningkatkan kunjungan warga, kerja sama ekonomi, dan keamanan kawasan demi menjaga kedaulatan kedua negara.

  2. 2. Pengoperasian Jembatan Sungai Yalu Baru setelah tertunda 12 tahun

    Jembatan Sungai Yalu Baru sepanjang 3 kilometer ini menghubungkan Kota Dandong di Provinsi Liaoning, China, dengan Kota Sinuiju di Korea Utara. Meski jembatan empat lajur yang dibiayai penuh oleh China ini telah rampung sejak 2014, pembukaannya sempat tertunda selama 12 tahun. Penundaan ini dipicu oleh masalah politik perbatasan dan sikap hati-hati Pyongyang agar tidak terlalu bergantung pada perdagangan luar negeri.

    Jalur darat yang resmi dibuka pada pertengahan Oktober 2026 ini beroperasi selama 24 jam penuh untuk melayani lalu lintas barang dua arah. Jembatan tersebut dirancang khusus bagi truk muatan berat dan peti kemas yang mengangkut pasokan energi, bahan baku industri, serta alat berat.

    "Jembatan ini pasti akan menjalankan tugas bersejarahnya dengan baik dalam menghubungkan kedua negara serta menyatukan hati masyarakat kedua bangsa," tegas Kim Jong Un saat meninjau jembatan tersebut.

    Pakar hubungan kedua negara dari Akademi Ilmu Sosial Liaoning, Lu Chao, menilai beroperasinya jembatan ini mampu mengatasi hambatan pengiriman barang yang selama bertahun-tahun membatasi perdagangan. Kehadiran Kim yang melintasi jembatan dengan mobil dinilai menjadi sinyal dukungan politik tertinggi untuk membuka kembali perdagangan perbatasan secara luas.

  3. 3. Langkah strategis Korea Utara dalam menghadapi tekanan AS

    Lawatan Kim ke China bertujuan memperkuat kerja sama tiga pihak antara Pyongyang, Beijing, dan Moskow untuk menghadapi tekanan AS beserta sekutunya. Peresmian jembatan di China ini hanya berselang sebulan setelah Korea Utara dan Rusia membuka jembatan jalan raya pertama di atas Sungai Tumen pada awal September 2026.

    Meski hubungan militernya dengan Rusia makin erat lewat pengiriman ribuan tentara dan senjata ke medan perang Ukraina, Pyongyang tetap menjadikan Beijing sebagai mitra dagang utama. Melalui pembukaan jalur darat dengan kedua negara tetangganya itu, Kim berupaya menjaga posisi tawar agar negaranya tidak bergantung pada satu pihak saja.

    Penguatan hubungan ini juga berbarengan dengan langkah Korea Utara yang menolak ajakan perundingan pelucutan senjata nuklir dari Presiden AS, Donald Trump. Menjelang KTT APEC di Shenzhen, Pyongyang menegaskan tidak akan berunding selama Washington belum mencabut kebijakan yang dinilai memusuhi mereka. Sementara itu, Korea Utara terus mengandalkan dukungan ekonomi dari China dan Rusia untuk memperkuat ketahanan dalam negerinya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More