Menteri Israel Itamar Ben Gvir Diminta Tak Masuki Wilayah Polandia

- Menlu Polandia Radoslaw Sikorski meminta larangan masuk bagi Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir setelah video kontroversialnya mengejek aktivis armada bantuan Gaza viral.
- Polandia memprotes keras penahanan dua warganya dalam armada Global Sumud Flotilla dan menuntut pembebasan serta permintaan maaf resmi dari Israel.
- Itamar Ben-Gvir, politisi sayap kanan ekstrem dan pemimpin partai Jewish Power, dikenal dengan sikap anti-Palestina serta riwayat tindakan provokatif di wilayah Tepi Barat dan kompleks Al-Aqsa.
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Polandia, Radoslaw Sikorski, disebut ingin melarang Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memasuki negaranya. Hal ini terjadi setelah pejabat sayap kanan Israel itu mengunggah video dirinya mengejek para aktivis yang ditangkap dari armada bantuan menuju Gaza awal pekan ini.
Dalam video yang diunggah pada Rabu (20/5/2026), para aktivis tampak dipaksa berlutut dengan tangan diikat di belakang punggung, sementara lagu kebangsaan Israel diputar dengan keras. Pasukan Israel mencegat armada Global Sumud Flotilla (GSF) di perairan internasional pada Senin (18/5/2026) dan menahan semua aktivis di dalamnya. Armada tersebut, yang membawa 428 orang dari 44 negara, berangkat dari distrik Marmaris di Turki pada 14 Mei lalu dalam upaya menembus blokade Israel terhadap Gaza.
“Menteri Radosław Sikorski memutuskan untuk meminta kementerian dalam negeri mengeluarkan larangan bagi Menteri Itamar Ben-Gvir memasuki Republik Polandia karena tindakannya,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Polandia, Maciej Wewiór, dikutip dari The Straits Times.
1. Dua warga Polandia ditahan oleh Israel

Sebelumnya, Sikorski juga telah memanggil perwakilan diplomatik Israel untuk memprotes penahanan para aktivis GSF, termasuk dua warga Polandia. Ia menuntut pembebasan mereka sesegera mungkin dan permintaan maaf dari Israel.
“Poland dengan tegas mengecam perlakuan perwakilan otoritas Israel terhadap para aktivis Global Sumud Flotilla yang ditahan oleh tentara Israel, termasuk warga negara Polandia,” tulisnya di akun media sosial X.
Ia menambahkan bahwa Polandia ingin warganya diperlakukan sesuai standar internasional dan para pejabat konsuler tengah mengupayakan akses untuk menemui mereka.
Juru bicara kementerian kemudian menyampaikan bahwa dua warga Polandia tersebut akan dipulangkan pada Kamis (21/5/2026) malam.
2. Ben-Gvir dikritik di dalam maupun luar negeri

Selain Polandia, berapa negara lainnya seperti Prancis, Kanada, Spanyol, Portugal dan Belanda juga memanggil duta besar Israel untuk memprotes perlakuan Israel terhadap armada GSF. Presiden Dewan Eropa, Antonio Costa, juga mengaku terkejut perilaku Ben-Gvir dan menyebut tindakan itu tidak dapat diterima.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Italia, Antonio Tajani, menghubungi kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa (UE), Kaja Kallas, untuk meminta agar sanksi terhadap Ben-Gvir dibahas dalam pertemuan menteri luar negeri UE berikutnya.
Kritikan juga muncul dari dalam Israel. Namun, sebagian besar berfokus pada kekhawatiran bahwa video tersebut dapat merusak citra negara itu di mata dunia internasional.
"Israel berhak mencegah armada provokatif pendukung teroris Hamas memasuki perairan teritorial kami dan mencapai Gaza. Namun, cara Menteri Ben-Gvir menangani aktivis armada tersebut tidak sejalan dengan nilai dan norma Israel," kata Netanyahu.
3. Ben-Gvir terkenal dengan sikapnya yang anti-Palestina

Dilansir dari Al Jazeera, Ben-Gvir memimpin partai sayap kanan jauh Jewish Power (Otzma Yehudit) di Israel sejak 2019. Ia dilantik menjadi anggota kabinet setelah pemilu 2022 dan kemudian ditunjuk sebagai menteri keamanan nasional.
Sebagai pemukim di Kiryat Arba, salah satu permukiman paling radikal di tanah Palestina di Tepi Barat yang diduduki, Ben-Gvir pernah divonis atas kasus hasutan rasisme, perusakan properti, kepemilikan materi propaganda organisasi teroris dan mendukung organisasi teroris, yakni kelompok Kach pimpinan Meir Kahane. Pendiri kelompok tersebut menyerukan pengusiran non-Yahudi dari Israel, dan Ben-Gvir bergabung dengannya saat berusia 16 tahun.
Politisi berusia 50 tahun itu juga sering melakukan tindakan anti-Palestina, termasuk memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa, situs tersuci ketiga dalam Islam, bersama para pemukim Israel di bawah perlindungan pasukan keamanan. Ia kerap melakukan ibadah Yahudi di lokasi tersebut, sesuatu yang dilarang bagi non-Muslim berdasarkan pengaturan status quo yang berlaku sejak 1967. Ben-Gvir bahkan pernah menyatakan keinginannya membangun sinagoge Yahudi di lokasi tersebut.















