Nikaragua Bebaskan 40 Tahanan Politik, Tetap Dikontrol Polisi

- 40 tahanan politik dibebaskan, tetap diwajibkan melapor ke polisi
- Penindasan terhadap lawan politik, aktivis, jurnalis, dan tokoh keagamaan
- Taktik rezim untuk memperbaiki citra di mata dunia dengan pembebasan massal
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Nikaragua membebaskan sekitar 40 tahanan politik berdasarkan keterangan dua aktivis, pada Sabtu (29/11/2025). Mereka menyatakan bahwa para tahanan tidak akan memperoleh kebebasan penuh setelah keluar dari penjara.
Pembebasan ini menambah daftar panjang langkah pemerintah yang menuai sorotan terkait dugaan represi politik. Otoritas setempat juga menetapkan kewajiban baru bagi para tahanan setelah pembebasan itu diberlakukan.
1. 40 tahanan diwajibkan melapor secara rutin ke polisi
Dua aktivis di Nikaragua mengatakan bahwa pemerintah melepaskan sekitar 40 orang yang dianggap tahanan politik.
Meskipun dibebaskan dari penjara, para tahanan politik itu tidak otomatis memperoleh kebebasan penuh. Mereka akan tetap berada dalam tahanan rumah dan diwajibkan melapor secara rutin ke polisi.
Para aktivis menekankan bahwa meskipun ada pembebasan, kontrol ketat masih berlaku, menunjukkan bahwa kebebasan mereka bersifat terbatas, bukan bebas sepenuhnya.
2. Penindasan terhadap lawan politik, aktivis, jurnalis, dan tokoh keagamaan
Selama beberapa tahun terakhir, pemerintahan Daniel Ortega dan pasangannya Rosario Murillo, telah dituding melakukan penindasan terhadap lawan politik, aktivis, jurnalis, dan tokoh keagamaan.
Menurut laporan tahun 2024, setidaknya 229 tahanan politik di Nikaragua telah mengalami penyiksaan dan perlakuan kejam selama penahanan, termasuk kekerasan fisik dan pelecehan.
Para pegiat HAM internasional dan organisasi setempat menyatakan bahwa meskipun ada pembebasan massal, situasi tetap berbahaya bagi kebebasan berpendapat dan oposisi di negara itu.
3. Taktik rezim untuk memperbaiki citra di mata dunia
Kelompok pembela HAM menganggap pembebasan massal semacam ini sebagai taktik rezim untuk memperbaiki citra di mata dunia, tanpa menghentikan praktik represif secara mendasar.
“Meskipun ada pelepasan, praktik seseorang bisa ditahan lagi atau disiksa tetap berlangsung,” kata seorang aktivis yang menolak menyebut nama, dilansir ThePrint.
Organisasi pengawas HAM menyerukan pembebasan tanpa syarat terhadap semua tahanan politik, serta penghentian penangkapan sewenang-wenang terhadap warga yang menyuarakan kritik atau berbeda pendapat.
Sejumlah pengamat internasional memperingatkan bahwa pembebasan ini tidak boleh dianggap sebagai akhir dari represi. Pengawasan terhadap kebebasan sipil dan politik di Nikaragua harus tetap ditingkatkan agar hak asasi manusia dihormati.



















