Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Yaman Membara, Ribuan Ibu Hamil Terjebak Gelombang Pengungsi

4 min read
Yaman Membara, Ribuan Ibu Hamil Terjebak Gelombang Pengungsi
ilustrasi tenda pengungsian (pexels.com/Hosny salah)
  • Pertempuran pemerintah Yaman dan Houthi sejak Agustus memaksa lebih dari 290 ribu orang mengungsi, menambah krisis internal 5,2 juta jiwa; 6.100 ibu hamil turut terdampak.
  • PBB mengerahkan tim kesehatan, bidan, pangan, perlengkapan kebersihan, dan bantuan tunai yang telah menjangkau hampir 249 ribu pengungsi, sambil mendesak jalur kemanusiaan aman dibuka.
  • Serangan rudal, blokade Taiz, dan operasi militer memperburuk krisis sipil; konflik juga meluas ke Saudi melalui insiden pesawat nirawak yang dicegat di wilayah Riyadh.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Gelombang pengungsian massal kembali terjadi di Yaman setelah pertempuran antara pasukan pemerintah dan kelompok pemberontak Houthi pecah. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat lebih dari 290 ribu orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka sejak perang kembali berkobar pada Agustus.

Jumlah tersebut menambah beban krisis pengungsian internal yang sebelumnya sudah mencapai lebih dari 5,2 juta jiwa. Ribuan warga lainnya bahkan harus melintasi perbatasan menuju Djibouti untuk mencari perlindungan.

Dilansir Al Jazeera, bentrokan melibatkan pasukan pemerintah Yaman yang mendapat pengakuan internasional dengan kelompok Houthi. Pertempuran terkonsentrasi di wilayah Gubernuran Taiz dan sejumlah kawasan pesisir.

Laporan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (OCHA) pada Jumat (30/10/2026) juga mengungkapkan bahwa terdapat 6.100 ibu hamil dalam gelombang pengungsian terbaru. Sebanyak 600 di antaranya diperkirakan akan menjalani persalinan dalam dua minggu mendatang.

  1. 1. PBB mengerahkan bantuan kesehatan bagi pengungsi

    ilustrasi bantuan (pexels.com/RDNE Stock project)
    ilustrasi bantuan (pexels.com/RDNE Stock project)

    Mengutip Arab News, Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengungkapkan bahwa Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA) telah mengirimkan tim kesehatan keliling beserta bidan ke sejumlah lokasi pengungsian. Mereka bertugas menyediakan layanan kesehatan dan mendistribusikan perlengkapan khusus bagi ibu hamil.

    Hingga saat ini, berbagai mitra kemanusiaan telah menjangkau hampir 249 ribu pengungsi. Bantuan yang diberikan mencakup kebutuhan pangan, perlengkapan kebersihan, serta uang tunai untuk memenuhi kebutuhan mendesak.

    Di sisi lain, Badan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) memperingatkan bahwa lebih dari 65 ribu pengungsi dan pencari suaka yang berada di Yaman menghadapi kondisi yang semakin memburuk. Gangguan terhadap layanan esensial serta kenaikan harga pangan dan bahan bakar turut memperberat kehidupan mereka.

    Meski penyaluran bantuan masih terkendala keterbatasan akses, lebih dari 600 pengungsi asal Somalia telah memperoleh bantuan untuk kembali ke negara asal secara sukarela sejak Agustus. PBB juga mendesak seluruh pihak yang terlibat dalam konflik agar menjamin keselamatan warga sipil beserta fasilitas infrastruktur sipil.

    Selain perlindungan terhadap masyarakat, PBB meminta semua pihak mematuhi ketentuan hukum humaniter internasional. Organisasi tersebut turut menuntut pembukaan jalur kemanusiaan yang aman, berkelanjutan, dan bebas hambatan agar bantuan bisa menjangkau masyarakat terdampak.

  2. 2. Houthi melancarkan serangan rudal ke Aden

    ilustrasi peluncuran rudal
    ilustrasi peluncuran rudal (pexels.com/Forest Katsch)

    Situasi keamanan Yaman semakin memburuk setelah pemerintah yang berkedudukan di ibu kota sementara Aden melaporkan adanya serangan rudal balistik. Kelompok Houthi dituding meluncurkan tiga rudal yang diarahkan ke Istana Kepresidenan Maashiq dan Bandara Internasional Aden.

    Bandara tersebut menjadi salah satu sasaran meski baru kembali beroperasi setelah menjalani perbaikan akibat kerusakan dari serangan sebelumnya. Kabinet pemerintah mengecam tindakan itu karena dinilai sebagai serangan langsung yang merugikan kepentingan masyarakat luas.

    Juru Bicara Pasukan Pemerintah Yaman Majed Abdullah al-Nuzaili menyampaikan bahwa operasi militernya berhasil melumpuhkan sekitar 336 petempur dan komandan Houthi. Pasukan pemerintah juga menghancurkan 112 kendaraan beserta sejumlah persenjataan di garis depan Taiz, Marib, al-Jawf, dan al-Bayda.

    Dalam operasi tersebut, pasukan pemerintah mengerahkan pesawat tempur, pesawat nirawak, artileri, hingga peluncur roket untuk menyerang pusat komando dan jalur pasokan kelompok Houthi. Sementara itu, kelompok pemberontak justru memperketat pengepungan Kota Taiz setelah menguasai sejumlah wilayah di bagian selatan, termasuk al-Turbah.

    Blokade jalan membuat sekitar dua juta penduduk terisolasi dari pasokan pangan, obat-obatan, bahan bakar, dan air bersih. Akibatnya, kondisi kemanusiaan di dalam kota semakin memburuk.

    Kantor berita Saba yang berpihak kepada pemerintah melaporkan satu warga tewas dan lima lainnya terluka, termasuk anak-anak, dalam serangan di Taiz. Salah satu korban meninggal merupakan perempuan yang terkena tembakan, sementara PBB telah memverifikasi 270 korban sipil sejak Agustus, termasuk 68 orang tewas yang separuhnya merupakan anak-anak.

    Sementara itu, Jaringan Yaman untuk Hak dan Kebebasan mencatat 189 warga sipil tewas sepanjang periode 1 September 2026 hingga 29 Oktober 2026. Jumlah tersebut mencakup 38 anak-anak, 27 perempuan, 23 kasus eksekusi lapangan, serta lebih dari 300 kasus penculikan.

  3. 3. Koalisi Saudi mencegat pesawat nirawak di Riyadh

    ilustrasi bendera Arab Saudi (pexels.com/Engin Akyurt)
    ilustrasi bendera Arab Saudi (pexels.com/Engin Akyurt)

    Konflik Yaman juga merembet ke wilayah Arab Saudi setelah koalisi pimpinan Riyadh mengumumkan keberhasilannya mencegat sebuah pesawat nirawak di wilayah udara ibu kota. Peristiwa tersebut menjadi insiden pencegatan kedua dalam dua hari berturut-turut.

    Sebelumnya, pesawat nirawak lain dilaporkan berhasil ditembak jatuh di sekitar Mekkah, Madinah, dan Riyadh, bersamaan dengan peluncuran rudal Houthi yang mengarah ke wilayah selatan kerajaan. Namun, Juru Bicara Militer Houthi Yahya Saree membantah kelompoknya terlibat dalam pengiriman pesawat nirawak ke wilayah Saudi dan menyebut tuduhan tersebut sebagai kebohongan besar.

    Houthi menyatakan tidak pernah menjadikan dua kota suci umat Islam sebagai sasaran serangan. Meski demikian, kelompok tersebut secara terbuka mengakui telah melancarkan serangan terhadap ibu kota, bandara, dan infrastruktur minyak Saudi, termasuk Bandara Internasional King Khalid di Riyadh yang diklaim menewaskan sedikitnya 13 orang.

    Juru Bicara Koalisi Turki al-Malki menjelaskan bahwa otoritas terkait masih melakukan pemeriksaan menyeluruh di lokasi kejadian. Ia juga memastikan tidak ada korban jiwa akibat proses pencegatan pesawat nirawak tersebut.

    Dalam jalur diplomasi, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud turut membahas perkembangan konflik Yaman saat menghadiri pertemuan Menteri Luar Negeri Kelompok Dua Puluh (G20) di Atlanta, Georgia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More