Menurut Shah, letak Nepal yang ada di dekat Pegunungan Himalaya meningkatkan risiko bencana banjir dan longsor. Kondisi ini, kata dia, juga diperburuk oleh perubahan iklim yang membuat cuaca menjadi tidak menentu. Perubahan iklim ini membuat gletser-gletser yang ada di Pegunungan Himalaya mencair dan berpotensi menyebabkan banjir dan tanah longsor seperti yang sudah terjadi.
Usai Dilanda Banjir, PM Nepal Sebut Negaranya Rentan Bencana

- PM Nepal Balendra Shah menyebut banjir dan longsor di Sungai Bhotekoshi sebagai salah satu bencana terbesar, dipicu longsoran gletser di Himalaya dan risiko perubahan iklim.
- Korban tewas banjir di perbatasan Nepal-Tibet mencapai 955 orang, sementara 4.471 orang masih hilang. Pemerintah melakukan penguburan massal bagi jenazah yang tidak teridentifikasi.
- Bantuan internasional berupa pangan, minuman, obat-obatan, dan dana mulai tiba. WHO mencairkan 150 ribu dolar AS, sementara Pemerintah AS sebelumnya memberikan 3,6 juta dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Nepal, Balendra Shah, buka suara soal bencana banjir yang menerjang perbatasan negaranya dengan Tibet, China, pada 26 Agustus pekan lalu. Dalam pernyataannya pada Senin (31/8/2026), Shah mengaku negaranya memang rentan terkena bencana seperti banjir dan tanah longsor. Sebab, letak geografis Nepal berada di dekat Pegunungan Himalaya.
1. PM Nepal sebut banjir dan longsor pekan lalu jadi bencana terbesar di negaranya

ilustrasi banjir lumpur (pexels.com/Павел Хлыстунов) Dalam pernyataannya, Shah mengatakan bahwa banjir dan longsor yang terjadi pekan lalu menjadi salah satu bencana terbesar yang pernah terjadi di Nepal. Oleh karena itu, ia berjanji akan melakukan langkah mitigasi untuk mengantisipasi bencana serupa pada kemudian hari.
“Banjir di Sungai Bhotekoshi di Rasuwa bukanlah banjir biasa. Ini adalah salah satu bencana terbesar di wilayah ini yang dipicu oleh longsoran gletser yang melibatkan es dan batu di daerah Himalaya. Risiko yang kita hadapi di wilayah Himalaya meningkat seiring dengan perubahan iklim,” kata Shah, seperti dikutip CNN pada Selasa (1/9/2026).
2. Korban tewas banjir Nepal bertambah jadi 955 orang

ilustrasi korban tewas (pexels.com/Mario Wallner) Saat ini, korban tewas imbas banjir di perbatasan Nepal dan Tibet sudah mencapai 955 orang. Sementara itu, 4.471 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Para petugas penyelamat dari Nepal dan dari negara sahabat saat ini masih berupaya melakukan pencarian semua korban yang hilang.
Pekan lalu, Pemerintah Nepal sudah melakukan penguburan massal untuk para korban yang tidak bisa diidentifikasi identitasnya. Hal ini karena jenazah korban sudah membusuk. Hal ini membuat DNA jenazah rusak sehingga petugas forensik jadi sulit mengetahui identitasnya.
3. Bantuan internasional untuk Nepal mulai berdatangan

ilustrasi bantuan kemanusiaan internasional (pexels.com/RDNE Stock project) Di tengah kondisi pascabencana, bantuan internasional untuk Nepal kini mulai berdatangan. Bantuan tersebut terdiri dari makanan, minuman, hingga pasokan medis, seperti obat-obatan. Pasokan medis sangat dibutuhkan para petugas kesehatan untuk merawat korban banjir di Nepal yang berhasil diselamatkan.
Selain itu, bantuan juga datang dalam bentuk uang tunai. Pada Minggu (30/8/2026), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengabarkan pihaknya telah mencairkan dana sebesar 150 ribu dolar Amerika Serikat (AS) atau Rp2,6 miliar untuk membantu penanganan banjir di perbatasan Nepal dan Tibet. Sebelumnya, bantuan uang tunai sebesar 3,6 juta dolar AS atau Rp64 miliar juga sudah diberikan oleh Pemerintah AS untuk penanganan banjir di Nepal.





















