Jakarta, IDN Times - Badan amal internasional bernama Plan International menyebut dampak dari banjir bandang yang terjadi di Nepal pada 26 Agustus pekan lalu bisa bertahan lebih lama dari yang diperkirakan. Bahkan, dampaknya bisa lebih dari hanya sekadar beberapa minggu atau beberapa bulan.
NGO Sebut Dampak Banjir di Nepal Bisa Bertahan Lebih Lama

- Plan International menilai dampak banjir bandang Nepal pada 26 Agustus dapat berlangsung lama akibat kerusakan parah dan banyaknya korban hilang yang masih dievakuasi.
- Organisasi itu mengerahkan personel untuk membantu pencarian dan evakuasi, sementara anak-anak penyintas mengalami trauma, diam, tidak bermain, serta berduka atas kematian orang tua.
- Pengungsi mulai terserang penyakit, terutama diare akibat makanan tidak higienis dan keterbatasan kebutuhan dasar; bantuan internasional berupa pasokan medis telah mulai tiba di Nepal.
Direktur Plan International cabang Nepal, Srijana Gurung, dalam pernyataannya pada Senin (31/8/2026) mengatakan, hal ini karena bencana tersebut menimbulkan kerusakan yang cukup parah. Belum lagi jumlah korban hilang saat ini masih banyak sehingga proses evakuasi tentu akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
1. Plan International berkomitmen memberi bantuan penuh untuk korban banjir Nepal

ilustrasi banjir lumpur (pexels.com/Павел Хлыстунов) Oleh karena itu, Gurung mengatakan bahwa Plan International akan berkomitmen untuk memberi bantuan penuh kepada para korban banjir di Nepal. Ia mengatakan, sejumlah personel Plan International saat ini juga sudah diterjunkan ke lapangan agar bisa membantu petugas penyelamat untuk mencari dan mengevakuasi para korban, terutama yang masih dinyatakan hilang hingga saat ini.
"Hal yang kami sadari sekarang adalah dampak dari banjir besar ini bukan hanya untuk beberapa minggu atau bulan. Namun, dampaknya akan bertahan lebih lama," kata Gurung dalam pernyataannya kepada BBC.
2. Banjir di Nepal mulai memengaruhi kondisi mental anak-anak
Dampak pascabanjir yang terjadi di Nepal saat ini juga mulai dirasakan oleh anak-anak yang selamat. Saat ini, kondisi mental mereka mulai terganggu karena masih syok usai wilayah tempat tinggalnya dilanda banjir pada pekan lalu. Selain itu, mereka juga masih merasakan kesedihan yang mendalam karena orangtuanya dinyatakan tewas dalam bencana katastropik tersebut.
“Anak-anak ini tidak berbicara. Mereka menjadi sangat pendiam, mereka tidak bermain atau berlarian, dan mereka masih trauma,” kata salah satu relawan Nepal yang membantu penanganan pascabanjir, Rosnee Bhattarai, saat diwawancara oleh BBC melalui sambungan telepon.
3. Korban banjir yang selamat mulai terserang berbagai penyakit
Bhattarai menambahkan, sejumlah korban selamat yang ada di pengungsian saat ini juga mulai diserang berbagai penyakit. Salah satunya adalah diare. Banyak korban di pengungsian yang terkena penyakit pencernaan tersebut karena mengonsumsi makanan yang tidak higienis.
"Ada bayi yang tidak memakai popok dan wanita yang tidak memiliki pembalut. Diare adalah masalah," lanjut Bhattarai.
Beruntungnya, bantuan internasional saat ini sudah mulai berdatangan ke Nepal. Salah satu bantuan internasional yang dikirim ke sana adalah pasokan medis seperti obat-obatan. Obat-obatan ini sangat berguna bagi para korban untuk menyembuhkan mereka yang sedang terserang penyakit.

















