Awalnya, pemilu regional di Kashmir hanya akan dilakukan satu putaran. Namun, akibat bentrokan tadi, otoritas Kashmir mengubah mekanisme pemilu menjadi tiga putaran. Langkah ini dilakukan demi alasan keamanan. Pemilu putaran ke-2 dan ke-3 dikabarkan akan digelar pada 2 dan 10 Agustus mendatang.
Pemilu Regional di Pakistan Berujung Ricuh, Lebih dari 30 Orang Tewas

- Pemilu regional Kashmir, Pakistan, pada 27 Juli 2026 memicu bentrokan warga dan aparat yang menewaskan lebih dari 30 orang, serta mengganggu akses bank dan internet.
- PML-N memenangkan 9 dari 13 kursi parlemen, tetapi PTI menuding pemilu curang dan memboikot hasilnya; protes kemudian berkembang menjadi bentrokan dengan aparat.
- Demi keamanan, pemilu diubah dari satu menjadi tiga putaran, dengan putaran berikutnya dijadwalkan 2 dan 10 Agustus; satu petugas tewas dan lima terluka.
Jakarta, IDN Times - Pemilihan umum (pemilu) regional di Negara Bagian Kashmir, Pakistan, berujung ricuh. Bentrokan antara warga Kashmir dan petugas keamanan terjadi saat pemilu dihelat pada Senin (27/7/2026) lalu. Otoritas Kashmir pada Rabu (29/7/2026) melaporkan, bentrokan ini telah menewaskan lebih dari 30 orang.
1. Bentrokan dipicu oleh hasil pemilu yang dianggap tidak adil

Bentrokan yang terjadi antara warga Kashmir dan pihak keamanan tadi terjadi saat mereka melayangkan protes terhadap hasil pemilu. Jadi, dalam pemilu pada Senin, partai penguasa utama di Pakistan, Pakistan Muslim League Nawaz (PML-N), berhasil memenangi pemilu di Kashmir. Mereka berhasil mendapatkan 9 dari 13 kursi yang ada di parlemen.
Di sisi lain, Partai Imran Khan-founded Pakistan Tehreek-e-Insaf (PTI) tidak setuju dengan kemenangan PML-N. Mereka menganggap pemilu berjalan curang dan hanya menguntungkan PML-N saja. Oleh karena itu, PTI memboikot hasil pemilu regional yang menyatakan PML-N sebagai pemenangnya. Hal inilah yang akhirnya memicu demo dari para pendukung PML-N. Demo tersebut lantas berujung bentrokan antara demonstran dan petugas keamanan Pakistan yang sedang berjaga di sekitar lokasi pemilu. Peristiwa ini membuat akses bank dan internet di Kashmir jadi terganggu.
2. Satu petugas keamanan tewas dan lima lainnya terluka dalam bentrokan

Otoritas Kashmir mengatakan, satu petugas keamanan yang bentrok dengan pendemo dilaporkan tewas. Sementara itu, lima petugas keamanan lainnya terluka. Mereka kini sudah dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif.
"Seluruh pemilihan itu adalah penipuan," kata Fazal Mahmood Baig, seorang warga Muzaffarabad, Kashmir, pada Rabu (29/7/2026). Warga Kashmir lainnya menambahkan mereka ingin masalah pemilu ini segera diselesaikan pihak berwenang agar tidak terjadi kericuhan lebih lanjut.
3. Kericuhan di Kashmir sudah sering terjadi

Sebagai informasi, Kashmir merupakan wilayah semiotonom yang ada di Pakistan. Mereka punya pemerintahan dan perdana menterinya sendiri. Perdana Menteri Kashmir saat ini dijabat oleh Faisal Mumtaz Rathore. Ia terpilih menjadi PM pada 17 November 2025 lalu.
Bentrokan di Kashmir sering terjadi ketika musim pemilu datang. Sebab, para warga di sana kerap menilai pemilu berlangsung tidak adil. Mereka menuduh pemerintah pusat Pakistan yang berpusat di Islamabad telah mengintervensi pemilu tersebut dengan cara memenangkan para pejabat yang mereka dukung untuk mengontrol wilayah Kashmir.



















