Pusat Budaya Iran di Ekuador Diserang usai Serangan AS ke Iran

- Pusat Kebudayaan Iran di Quito, Ekuador diserang sekelompok orang setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran, menyebabkan satu korban luka dan peningkatan pengamanan polisi.
- Saksi menyebut pelaku dalam kondisi mabuk menyerang dengan gas air mata dan benda tumpul, sementara Partai Komunis Ekuador mengecam aksi tersebut sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keberagaman.
- Hubungan Ekuador-Iran memburuk sejak Presiden Daniel Noboa menetapkan IRGC, Hamas, dan Hizbollah sebagai organisasi teroris pada 2025, keputusan yang didukung oleh Israel.
Jakarta, IDN Times - Sekelompok orang di Ekuador melancarkan serangan ke Pusat Kebudayaan Iran di ibu kota Quito pada Minggu (1/3/2026). Peristiwa ini terjadi menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran.
Dilansir Devdiscourse, polisi Ekuador menyebut setidaknya ada satu orang yang terluka dalam insiden serangan ini. Korban tersebut sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.
Sejumlah aparat kepolisian Ekuador sudah disiagakan di sekitar Pusat Kebudayaan Iran di Quito. Penerjunan ini untuk mencegah serangan lanjutan ke gedung tersebut.
1. Sejarawan mengaku berada dalam situasi menegangkan
Sejarawan di Pusat Kebudayaan Iran, Mauricio Galindo, menyebut bahwa serangan tersebut mengejutkan dan menegangkan. Sebab, pelaku serangan memaksa membuka pintu dan melemparkan gas air mata, meski tahu ada anak kecil di dalam.
Dikutip El Universo, Galindo mengatakan bahwa pelaku serangan dalam kondisi mabuk dan mengendarai mobil mewah. Mereka bahkan sudah menyerangnya dengan batu dan alat pemukul hingga mengenai dada dan lengannya.
2. Partai Komunis Ekuador kecam serangan ke Pusat Kebudayaan Iran
Partai Komunis Ekuador (PCE) mengatakan bahwa serangan ini mengancam perdamaian dan keharmonisan dari perbedaan. Menurutnya, terdapat ancaman dari kelompok sayap kanan ekstrem di Ekuador.
“Kami menolak penggunaan simbolisme fasis dan zionis dalam serangan tersebut. Emblem tersebut tidak hanya merepresentasikan ideologi kebencian dan eksklusivitas, tapi juga mengancam Ekuador dan negara lain di kawasan Amerika Latin,” terangnya, dikutip dari Telesur.
Pada saat yang sama, Kementerian Luar Negeri Ekuador mengungkapkan kekhawatiran soal merembetnya perang di Timur Tengah. Namun, Ekuador tidak menyatakan kecaman atas serangan AS dan Israel ke Iran.
3. Hubungan Ekuador dan Iran merenggang
Pada September 2025, Presiden Ekuador, Daniel Noboa, sudah menetapkan Pasukan Garda Revolunioner Islam Iran (IRGC), Hamas, dan Hizbollah sebagai organisasi teroris. Keputusan itu membuat hubungan antara Ekuador dan Iran memanas.
Dilansir Iran International, Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar menyambut baik keputusan Ekuador ini. Menurutnya, langkah Ekuador sudah tepat untuk memperkuat keamanan global dan melawan jaringan terorisme asal Iran.










.jpg)






