Sekjen ASEAN Tetap Optimis CoC Bisa Selesai Tahun Ini

- Sekjen ASEAN Kao Kim Hourn optimistis Code of Conduct Laut China Selatan antara ASEAN dan China dapat rampung pada 2026, didukung komitmen politik dan intensitas negosiasi yang meningkat.
- Sejak Januari, ASEAN dan China menggelar perundingan CoC setiap bulan, bukan hanya beberapa kali setahun, serta menaikkan pembahasan dari tingkat teknis ke tingkat lebih tinggi.
- Pengalaman menyepakati DOC pada 2002 dan sekitar 65 mekanisme kerja sama ASEAN-China menjadi modal untuk menghasilkan CoC yang substantif dan efektif.
Manila, IDN Times - Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn optimistis perundingan Code of Conduct(CoC) Laut China Selatan antara ASEAN dan China dapat diselesaikan tahun ini. Optimisme tersebut didasarkan pada meningkatnya intensitas negosiasi dan komitmen politik kedua belah pihak untuk mempercepat penyelesaian perundingan.
Menurut Kao, komitmen untuk menyelesaikan CoC sebenarnya telah disepakati sejak Keketuaan ASEAN Indonesia pada 2023. Sejak saat itu, ASEAN dan China terus menegaskan kembali target penyelesaian CoC dalam berbagai kesempatan.
Memasuki tahun ini, kedua pihak sepakat mempercepat proses perundingan dengan meningkatkan frekuensi pertemuan para negosiator dan melibatkan pembahasan di tingkat yang lebih tinggi.
“Saya sangat optimistis. Selama ASEAN dan China terus melakukan pertemuan secara rutin serta memantau setiap perkembangan, kami terus berupaya mempersempit berbagai perbedaan yang masih ada,” kata Kao Kim Hourn dalam ASEAN Media Forum (AMF) di Manila, Filipina, Rabu (29/7/2026).
1. Negosiasi CoC kini digelar setiap bulan

Kao menjelaskan percepatan negosiasi menjadi salah satu perkembangan paling signifikan dalam proses penyusunan CoC. Jika sebelumnya pertemuan hanya dilakukan beberapa kali dalam setahun, kini ASEAN dan China menggelar perundingan setiap bulan untuk mempercepat penyelesaian dokumen tersebut.
“Sejak Januari tahun ini, kedua pihak sepakat mengintensifkan negosiasi. Artinya, jika sebelumnya hanya bertemu beberapa kali dalam setahun, sekarang pertemuan dilakukan setiap bulan,” ujarnya.
Ia menambahkan pembahasan juga tidak lagi hanya dilakukan di tingkat teknis, tetapi mulai dibawa ke tingkat yang lebih tinggi agar proses penyelesaian berjalan lebih cepat.
2. Komitmen ASEAN dan China dinilai tetap kuat

Menurut Kao, optimisme penyelesaian CoC bukan hanya didasarkan pada meningkatnya frekuensi perundingan, tetapi juga karena komitmen politik kedua belah pihak tetap terjaga. Ia mengatakan semangat kerja sama antara ASEAN dan China masih menjadi modal utama dalam menyelesaikan berbagai isu yang masih dinegosiasikan.
“Saya percaya momentumnya ada, komitmennya juga ada, begitu pula semangat kerja samanya. Saya berharap kedua pihak dapat menyelesaikan pekerjaan ini tahun ini,” katanya.
Kao menegaskan target tersebut tetap mengarah pada lahirnya CoC yang memiliki substansi kuat dan dapat diterapkan secara efektif.
3. Pengalaman DOC jadi modal penyelesaian CoC

Kao mengingatkan, ASEAN dan China memiliki pengalaman panjang dalam menyusun instrumen pengelolaan Laut China Selatan. Ia mencontohkan keberhasilan kedua pihak menyepakati Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea (DOC) pada 2002 setelah melalui proses negosiasi yang panjang.
“Kerja sama ASEAN dan China bukan hal baru. Setelah bertahun-tahun berunding, kita berhasil menandatangani Declaration on the Conduct of Parties (DOC) pada 2002. Kita memiliki pengalaman dan komitmen itu,” ujarnya.
Selain itu, Kao menyebut hubungan ASEAN dan China saat ini didukung sekitar 65 mekanisme kerja sama di berbagai sektor, jumlah terbanyak dibandingkan kemitraan ASEAN dengan mitra eksternal lainnya.
“Kita harus memanfaatkan peluang ini. Saya berharap ASEAN dan China dapat menggunakan setiap kesempatan untuk menghasilkan CoC yang substantif dan efektif berdasarkan komitmen serta semangat kerja sama kedua belah pihak,” tutupnya.
















