Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Wanti-wanti PM Singapura, Dunia Makin Tak Stabil dan Berbahaya

Wanti-wanti PM Singapura, Dunia Makin Tak Stabil dan Berbahaya
Joint press statement Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri (PM) Singapura, Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7/2026) (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
  • Lawrence Wong menilai dunia kini lebih tidak stabil dan berbahaya akibat konflik, persaingan kekuatan besar, serta gangguan rantai pasok.
  • Gangguan pelayaran di Selat Hormuz disebut memperlihatkan kerentanan pasokan energi, pangan, dan kebutuhan penting dunia.
  • Singapura akan menghadapi kondisi ini sebagai normal baru sambil memperdalam hubungan dan koneksi dengan berbagai negara.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Haruskah Singapura memperdalam koneksi global?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong memperingatkan dunia kini menghadapi situasi yang lebih tidak stabil dan berbahaya dibandingkan sebelumnya. Konflik di Eropa dan Timur Tengah, persaingan kekuatan besar, hingga gangguan rantai pasok disebut semakin meningkatkan risiko terhadap ekonomi global.

Dalam pidato National Day Rally 2026, Minggu (23/8/2026), Wong mengatakan dampak berbagai konflik tersebut tidak selalu berhenti di wilayah tempat konflik berlangsung. Negara lain dapat ikut terdampak karena aliansi, kepentingan ekonomi, maupun perkembangan situasi yang memaksa mereka mengambil tindakan.

Menurut Wong, kondisi tersebut membuat Singapura harus bersiap menghadapi perubahan jangka panjang. Ia menilai, berbagai gangguan yang terjadi saat ini bukan sekadar fenomena sementara.

  1. 1. Konflik Timur Tengah ganggu perdagangan dunia

    Konflik di Timur Tengah.
    ilustrasi konflik di Timur Tengah (pexels.com/Ahmed akacha)

    Wong menyoroti krisis yang sedang berlangsung di Timur Tengah sebagai salah satu faktor yang memperlihatkan kerentanan perdagangan dan rantai pasok dunia. Gangguan pelayaran melalui Selat Hormuz, menurutnya, telah memperlihatkan risiko terhadap pasokan energi, pangan, dan kebutuhan penting lainnya.

    “Krisis di Timur Tengah telah menjadi krisis besar. Pelayaran melalui Selat Hormuz telah terganggu. Hal ini memperlihatkan kerentanan dalam pasokan energi, pangan, dan pasokan penting lainnya,” kata Wong, dikutip dari pidato tersebut, Selasa (25/8/2026).

    Menurut Wong, sejumlah krisis dalam beberapa tahun terakhir membuat negara-negara belajar untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemasok tertentu. Keamanan kini semakin diperhitungkan dalam keputusan ekonomi.

    Pemerintah di berbagai negara, lanjut Wong, semakin menggunakan perdagangan, teknologi, dan investasi untuk mencapai tujuan strategis sekaligus keamanan mereka.

  2. 2. Risiko konflik bisa meluas

    Kondisi minyak mentah dunia
    Ilustrasi harga minyak mentah dunia yang melonjak akibat konflik Timur Tengah. (Pixabay.com/Michelle_Pitzel)

    Wong mengatakan, tarif hanyalah salah satu gejala dari ketegangan yang lebih besar di dunia. Persaingan antarnegara besar semakin meningkat, sementara konflik besar terjadi di Eropa dan Timur Tengah. Ia memperingatkan bahwa perkembangan teknologi juga meningkatkan risiko. Teknologi seperti drone murah kini dapat menyebabkan kerusakan serius, bahkan terhadap kekuatan yang jauh lebih besar.

    “Risiko salah perhitungan dan eskalasi jauh lebih tinggi. Konflik regional dapat dengan cepat berubah menjadi sesuatu yang lebih besar,” ujar Wong.

    Menurutnya, satu tindakan dapat memicu respons dari pihak lain. Masing-masing pihak mungkin merasa sedang bertindak secara defensif, tetapi rangkaian respons tersebut dapat membuat konflik berkembang jauh melampaui tujuan awal.

    Wong juga menyinggung ancaman di bawah ambang perang terbuka, seperti tekanan ekonomi, campur tangan asing, kampanye disinformasi, dan serangan siber terhadap infrastruktur penting.

  3. 3. Singapura harus hadapi normal baru

    IMG_0554.jpeg
    Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong. (AFP/Yasuyoshi Chiba)

    Wong menggambarkan kondisi dunia saat ini sebagai lebih penuh persaingan, tidak stabil, dan berbahaya. Menurutnya, Singapura tidak dapat menganggap berbagai gangguan tersebut sebagai sesuatu yang akan segera berakhir.

    “Ini bukan gangguan sementara. Ini adalah normal baru yang harus dihadapi dan dijalani Singapura selama bertahun-tahun ke depan,” kata Wong.

    Meski demikian, Wong menegaskan, respons Singapura bukan dengan menarik diri dari dunia internasional. Menurutnya, keberhasilan Singapura selama ini dibangun melalui keterhubungan dengan dunia serta perannya dalam rantai pasok global.

    Ia mengatakan, kepercayaan menjadi salah satu kekuatan utama Singapura. Negara lain, perusahaan, dan investor mempercayai Singapura karena adanya supremasi hukum, institusi yang kuat, serta komitmen untuk memenuhi kontrak dan janji.

    Karena itu, Singapura akan memperdalam hubungan dengan berbagai negara dan membangun lebih banyak koneksi. Wong mengatakan, negara tersebut akan menjangkau lebih banyak mitra dan menciptakan lebih banyak peluang bagi warga Singapura.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More