Weerdt menjelaskan, hal ini disebabkan karena banyak fasilitas kesehatan di Gaza yang rusak akibat diserang oleh pasukan militer Israel (IDF). Menurut media Palestina, Wafa News Agency, ada lebih dari 1.800 fasilitas kesehatan di Gaza yang rusak akibat terkena serangan IDF. Dari jumlah tersebut, ada yang rusak parah dan ada juga yang rusak ringan.
WHO: Rekonstruksi Fasilitas Kesehatan Gaza Butuh Biaya Rp172 Triliun

- WHO menyebut rekonstruksi fasilitas kesehatan di Gaza butuh dana sekitar Rp172 triliun karena lebih dari 1.800 fasilitas rusak akibat serangan militer Israel.
- Serangan terhadap rumah sakit dan konvoi medis membuat pasokan obat terhambat, menyebabkan penyebaran penyakit menular di lokasi pengungsian yang dipenuhi tikus dan hama.
- PBB menyerukan peningkatan perlindungan bagi tenaga serta fasilitas kesehatan di Gaza dan mendesak Israel menghentikan serangan terhadap pengiriman bantuan medis.
Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut rekonstruksi fasilitas kesehatan di Jalur Gaza membutuhkan biaya yang cukup besar. Perwakilan WHO yang bertugas di Gaza, Reinhilde Van de Weerdt, pada Jumat (24/4/2026) mengatakan, butuh dana sebesar 10 miliar dolar Amerika Serikat atau Rp172 triliun untuk membangun kembali fasilitas kesehatan di sana.
1. Israel kerap menyerang fasilitas kesehatan di Gaza

Sejak melakukan agresi militer terhadap Palestina pada 7 Oktober 2023, Israel memang kerap menyerang banyak fasilitas kesehatan yang ada di Gaza. Beberapa di antaranya, seperti rumah sakit, klinik, apotek, dan laboratorium medis. Selain itu, mereka juga kerap menyandera dan membunuh tenaga kesehatan yang bertugas di sana.
Tidak hanya itu. Israel juga kerap menyerang konvoi-konvoi bantuan kemanusiaan yang mengirim obat-obatan ke Gaza. Data terbaru dari The New Arab menunjukkan bahwa sekitar 70 persen pasokan medis gagal dikirim ke Gaza akibat diserang oleh Israel. Hal ini membuat banyak rumah sakit di Gaza kini kekurangan obat-obatan.
2. Banyak orang di Gaza yang terjangkit penyakit menular

Kurangnya pasokan obat ini membuat orang-orang di Gaza banyak yang terjangkit penyakit menular, terutama yang disebabkan oleh hewan pengerat. Banyak juga dari mereka yang akhirnya tewas akibat penyakit-penyakit tersebut. Padahal, mereka bisa saja sembuh jika ditangani dengan cepat dan tepat.
“Bangunan yang hancur dan tumpukan sampah telah menciptakan lahan perkembangbiakan yang ideal bagi tikus dan hama. Sebanyak 80 persen dari 1.600 lokasi pengungsian memiliki kehadiran tikus dan hama yang sering dan terlihat; lebih dari 80% dari lokasi pengungsian ini melaporkan infeksi kulit, seperti rabies, kutu, dan kutu kasur,” jelas Weerdt.
3. PBB ingin perlindungan fasilitas dan tenaga kesehatan di Gaza ditingkatkan

Oleh karena itu, Weerdt mengatakan PBB ingin perlindungan fasilitas dan tenaga kesehatan di Gaza ditingkatkan. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa PBB ingin Israel untuk berhenti menyerang konvoi yang mengirim pasokan medis ke Gaza. Langkah ini bertujuan agar warga di sana bisa diselamatkan dari penyakit menular yang seharusnya bisa disembuhkan.
“Namun, agar upaya penyelamatan nyawa berdampak, kesehatan dan para pekerja perawatan kesehatan perlu dilindungi. Selain itu, obat-obatan dan perlengkapan penting harus masuk ke Gaza, termasuk dengan penghapusan proses birokrasi dan pembatasan akses terhadap obat-obatan dan perlengkapan penting yang diakui secara global,” tegas Weerdt.


















