Kapabilitas Keuangan: Melindungi Generasi Muda RI dari Kerentanan

- Generasi muda Indonesia mengalami kesenjangan antara peluang dan kapabilitas dalam pengelolaan keuangan digital.
- Kapabilitas Keuangan Digital (DFC) diperlukan untuk mengatasi kesenjangan finansial jangka panjang di kalangan generasi muda.
- Lingkungan digital yang mempengaruhi keputusan keuangan generasi muda menuntut integrasi Kapabilitas Keuangan Digital secara sistematis dalam pendidikan dan kebijakan publik.
Artikel ini ditules oleh Angelique Timmer, Direktur Regional Asia Tenggara, Women’s World Banking
Sebagai moderator pada diskusi bersama Yang Mulia Ratu Máxima dari Belanda, dalam kapasitasnya sebagai United Nations Secretary-General’s Special Advocate for Financial Health (UNSGSA) pada 25 November 2025, kami di Women’s World Banking (WWB) memperoleh gambaran langsung tentang bagaimana generasi muda Indonesia. Mereka secara terbuka berbagi pengalaman mereka dalam mengelola keuangan di tengah ekonomi yang semakin terdigitalisasi.
Meski akses terhadap layanan keuangan digital berkembang pesat, banyak dari mereka mengungkapkan kekhawatiran terkait kemampuan menggunakan berbagai instrumen tersebut secara aman dan percaya diri. Diskusi ini menyoroti adanya kesenjangan yang kian melebar antara peluang dan kapabilitas, sebuah kondisi yang kini berpotensi menjadi risiko ekonomi nasional, sekaligus menegaskan mengapa Kapabilitas Keuangan Digital (Digital Financial Capability/DFC) harus menjadi prioritas strategis.
Studi kami menunjukkan bahwa meskipun akses terhadap layanan keuangan digital di Indonesia berkembang dengan sangat pesat, banyak kelompok dewasa muda masih menghadapi kesulitan dalam menguasai keterampilan perilaku dan praktis yang dibutuhkan untuk menggunakan layanan tersebut secara aman. Data yang kami himpun mengungkapkan bahwa: 40 persen mahasiswa mengaku menyalahgunakan dana darurat untuk belanja impulsif atau kebutuhan non-esensial; 20 persen menjadikan TikTok atau YouTube sebagai sumber utama pembelajaran keuangan1; dan tidak sedikit yang memanfaatkan kredit digital tanpa pemahaman yang memadai mengenai risiko dan kewajiban pembayaran kembali.
Pertanyaannya sederhana namun krusial: akankah generasi muda Indonesia tumbuh menjadi pengambil keputusan keuangan yang kompeten dan tangguh, atau justru terjebak dalam siklus utang, salah perhitungan, dan kerentanan jangka panjang?
Untuk menjadi pengambil keputusan keuangan yang kompeten dan tangguh, generasi muda membutuhkan Kapabilitas Keuangan Digital yang kuat. Kapabilitas Keuangan Digital merujuk pada kemampuan individu dalam mengambil keputusan keuangan yang tepat saat menggunakan berbagai instrumen digital, seperti mobile banking, dompet elektronik, kredit digital, hingga platform investasi.
Berbeda dengan literasi keuangan yang lebih menekankan pada pengetahuan tentang pengelolaan uang, Kapabilitas Keuangan Digital berfokus pada keterampilan praktis untuk menerapkan pengetahuan tersebut secara aman dan percaya diri dalam sistem keuangan yang terdigitalisasi. Kapabilitas ini merupakan fondasi penting bagi kesehatan finansial jangka panjang.
Oleh karena itu, Kapabilitas Keuangan Digital harus diintegrasikan secara sistematis ke dalam pendidikan, kebijakan publik, serta praktik di sektor keuangan. Kapabilitas Keuangan Digital tidak dapat diserahkan semata-mata pada pembelajaran informal atau proses coba-coba secara mandiri, terutama ketika lanskap keuangan berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan sebagian besar generasi muda untuk mengikutinya.
Diperlukan pendekatan yang terstruktur dan menyeluruh agar setiap anak muda Indonesia memiliki keterampilan praktis, kesiapan perilaku, serta kepercayaan diri untuk menavigasi layanan keuangan digital secara aman.
Bagaimana Generasi Muda Indonesia Mengambil Keputusan Keuangan di Era Digital
Sejumlah peserta dalam Youth Financial Health Discussion bersama Ratu Máxima mengungkapkan bahwa mereka kerap merasa seolah-olah dituntut untuk memahami keuangan pribadi hanya karena seluruh proses kini telah berbasis digital, padahal sangat sedikit di antara mereka yang pernah
mendapatkan pembelajaran terstruktur mengenai pengelolaan keuangan. Banyak peserta juga berbagi pengalaman bahwa mereka mengambil berbagai keputusan keuangan secara mandiri, dengan mengandalkan proses coba-coba.
Peserta lainnya menyoroti bagaimana ekosistem keuangan yang mereka hadapi terasa tidak saling terhubung. Alih-alih menjadi satu sistem yang terpadu dan mendukung aktivitas menabung, perencanaan, serta pembelajaran keuangan, mereka justru berhadapan dengan berbagai platform yang tersebar dan produk-produk yang tidak saling terhubung. Kondisi ini membuat pembentukan kebiasaan keuangan yang konsisten menjadi lebih sulit, sekaligus melemahkan kepercayaan terhadap instrumen yang tersedia.
Keputusan Keuangan Dibentuk oleh Lingkungan Digital
Kisah-kisah tersebut menegaskan satu hal: tantangan yang dihadapi generasi muda bukan semata-mata persoalan individu, melainkan cerminan dari persoalan sistemik yang lebih luas. Masalahnya bukan karena generasi muda ceroboh atau tidak disiplin, melainkan karena ekosistem digital itu sendiri turut membentuk, bahkan mempengaruhi cara mereka mengambil keputusan.
Kredit digital kini sangat mudah diakses, namun hanya 11 persen kelompok dewasa muda yang pernah menerima pendidikan formal mengenai praktik berhutang secara bertanggung jawab.3 Berutang memang mudah, tetapi berutang secara sadar dan terinformasi masih menjadi pengecualian. Sebanyak 93 persen pinjaman digunakan untuk konsumsi gaya hidup, bukan untuk kebutuhan produktif.
Berbagai fitur seperti paylater, iklan yang disesuaikan dengan pengguna, algoritma platform, promosi yang berlangsung terus-menerus, serta dorongan dari media sosial semakin memperkuat perilaku impulsif. Dalam konteks ini, pilihan-pilihan keuangan tidak terjadi begitu saja, melainkan dibentuk oleh lingkungan digital yang mengutamakan kecepatan dan menjadikan aktivitas belanja nyaris tanpa hambatan.
Jika tren ini terus berlanjut tanpa pengendalian yang memadai, Indonesia berisiko melahirkan satu generasi yang secara struktural rentan terhadap guncangan keuangan. Dampak yang ditimbulkan tidak terbatas pada kesulitan individu semata, melainkan mencakup penurunan produktivitas akibat tekanan finansial yang berkepanjangan, peningkatan utang rumah tangga, melemahnya kepercayaan terhadap layanan keuangan digital, serta rapuhnya fondasi ketahanan ekonomi jangka panjang.
Kapabilitas Keuangan Digital sebagai Kunci Menutup Kesenjangan
Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, penguatan kapabilitas keuangan digital harus menjadi strategi utama, bukan sekadar aspirasi kebijakan. Riset kami menyoroti tiga prioritas penting: pembelajaran keuangan perlu bersifat praktis dan berpijak pada realitas digital; penguatan kapabilitas harus terintegrasi secara konsisten lintas institusi, bukan disampaikan melalui seminar atau pelatihan yang bersifat satu kali; serta keberhasilan perlu diukur melalui perubahan perilaku, bukan semata-mata dari tingkat kehadiran peserta.
Menutup kesenjangan ini tidak hanya membutuhkan peningkatan kesadaran, namun diperlukannya juga akuntabilitas struktural. Saat ini, berbagai celah sistemik masih terjadi, mulai dari belum adanya standar nasional kapabilitas keuangan digital, pembelajaran keuangan yang masih terlalu teoritis, perlindungan konsumen yang belum memadai, hingga desain produk keuangan yang belum berorientasi pada kebutuhan generasi muda. Kondisi tersebut terus menempatkan anak muda pada posisi rentan di tengah lingkungan digital yang kian kompleks.
Para pembuat kebijakan perlu mengintegrasikan DFC ke dalam strategi nasional sebagai elemen inti pemberdayaan generasi muda dan pertumbuhan ekonomi digital. Institusi pendidikan harus membekali peserta didik dengan kesiapan mengambil keputusan keuangan di dunia nyata. Sementara itu, lembaga keuangan perlu bergeser dari pendekatan yang berfokus pada penjualan produk menuju pengalaman digital yang lebih aman dan transparan, sekaligus secara aktif membangun kapabilitas keuangan generasi muda.
WWB siap berkolaborasi untuk memastikan bahwa perempuan muda dan seluruh generasi muda Indonesia dapat berpartisipasi secara penuh dalam ekonomi digital, sekaligus memiliki kapabilitas untuk tumbuh dan berhasil di dalamnya.
Generasi muda Indonesia merupakan salah satu kekuatan strategis terbesar bangsa. Dengan berinvestasi pada Kapabilitas Keuangan Digital mereka sejak hari ini, Indonesia tidak hanya memperkuat ketahanan ekonomi, tetapi juga meletakkan fondasi bagi masa depan digital yang lebih inklusif, percaya diri, dan berdaya saing.


















