Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Setengah Gen Z Perkotaan Pilih Hemat demi Kesehatan Mental

Screenshot 2025-08-26 230810.jpg
Meningkatnya konsumsi yang sadar dan berbasis nilai. (Dok/IMGR 2026).
Intinya sih...
  • Sebanyak 36 persen Gen Z batalkan penggunaan layanan digital.
  • Konsumsi rumah tangga masih dominan penyumbang ekonomi RI.
  • Rincian komponen lainnya penyumbang ekonomi RI.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Hampir setengah dari Gen Z yang tinggal di perkotaan di Indonesia kini mengurangi pengeluaran mereka, bukan hanya demi menabung, tetapi tetapi juga untuk membuat pikiran mereka lebih tenang. Dalam hal ini, menahan diri bukan dianggap sebagai kekurangan, tetapi sebagai cara untuk mengendalikan diri dan hidup lebih teratur di dunia yang serba cepat.

Hal ini terungkap dari laporan terbaru Indonesia Millenial and Gen Z Report 2026 by IDN Research Institute, dengan penjelasan sebanyak 49 persen Gen Z perkotaan dengan sengaja mengatur ulang pola konsumsi mereka dan menjadi sinyal kuat adanya pergeseran besar dalam memaknai berbelanja di kalangan anak muda.

"Mengurangi pengeluaran bukan berarti pelit, tapi cara untuk menjaga kesehatan mental dan tetap merasa punya kendali atas hidup sendiri," tulis laporan tersebut yang dikutip, Selasa (26/8/2025).

1. Sebanyak 36 persen Gen Z batalkan penggunaan layanan digital

ilustrasi belanja (pexels.com/MaxFischer)
ilustrasi belanja (pexels.com/MaxFischer)

Kesadaran yang kini terbangun di kalangan Gen Z ini bukan cuma soal pakai aplikasi keuangan atau cek saldo. Sekitar 36 persen Gen Z bilang mereka membatalkan langganan (seperti Netflix, Spotify, dan lainnya) atau melakukan digital detox (mengurangi penggunaan media sosial dan gadget) sebagai bagian dari cara mereka mengatur keuangan.

Mereka secara jelas menghubungkan kesehatan mental dengan cara mereka membelanjakan uang. Ini bukan tindakan sekali-sekali, tapi sudah jadi kebiasaan rutin untuk menjaga kejernihan pikiran. Bagi Gen Z, hidup minimalis adalah bentuk perlawanan yang tenang tapi kuat, sebagai cara untuk melawan kebisingan, gaya hidup yang berlebihan, dan kelelahan emosional akibat konsumsi tanpa sadar.

"Hidup minimalis itu bukan soal punya barang lebih sedikit, tapi soal memberi ruang untuk hal-hal yang benar-benar penting. Setiap keputusan keuangan mencerminkan nilai dan hal-hal yang kita anggap paling penting," ungkap Praktisi Gaya Hidup Minimalis dan Pendukung Keberlanjutan, Cynthia Suci Lestari.

2. Konsumsi rumah tangga masih dominan penyumbang ekonomi RI

ilustrasi konsumsi rumah tangga (freepik.com)
ilustrasi konsumsi rumah tangga (freepik.com)

Bila mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi rumah tangga mampu tumbuh sebesar 4.97 persen secara tahunan pada kuartal II 2025.

Bahkan kategori ini berkontribusi 54,25 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan memiliki andil 2,64 persen dari total pertumbuhan ekonomi kuartal II 2025 sebesar 5,12 persen. Kontribusi yang masih cukup dominan dalam struktur ekonomi pun menandakan sisi permintaan masyarakat masih meningkat.

3. Rincian komponen lainnya penyumbang ekonomi RI

Ilustrasi investasi (freepik.com)
Ilustrasi investasi (freepik.com)

Bila dirinci lebih lanjut, komponen pengeluaran lainnya yang memberikan kontribusi besar terhadap PBD adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,99 persen year on year. PMTB berkontribusi sebesar 27,83 persen terhadap PDB dan memiliki andil 2,06 persen dari total pertumbuhan ekonomi.

Selanjutnya sisi pengeluaran mengalami pertumbuhan positif kecuali konsumsi pemerintah yang terkontraksi 0,33 persen secara tahunan. Adapun konsumsi LNPRT tumbuh 7,82 persen, sedangkan ekspor barang dan jasa tumbuh 10,76 persen. Kemudian, komponen impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang dalam PDB tumbuh 11,65 persen.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us