WHO: Harapan Hidup Global Hampir Kembali ke Level Pra-COVID

- WHO mencatat harapan hidup global mencapai 73,3 tahun pada 2023, hampir menyamai 73,4 tahun sebelum pandemi, tetapi harapan hidup sehat masih tertinggal 0,4 tahun.
- Penyakit tidak menular menyumbang 74 persen kematian dunia pada 2023; penyakit jantung iskemik memimpin dengan 9,5 juta kematian, diikuti stroke dan penyakit paru obstruktif kronik.
- COVID-19 turun ke peringkat ke-14 penyebab kematian global, sementara kematian akibat HIV/AIDS dan prematuritas menurun; disabilitas terkait depresi serta kecemasan justru meningkat.
Jakarta, IDN Times – Angka harapan hidup masyarakat dunia hampir kembali ke level sebelum pandemi COVID-19 setelah sempat turun tajam pada 2021. Laporan Global Health Estimates dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang rilis pada Jumat (2/10/2026) mencatat harapan hidup global mencapai 73,3 tahun pada 2023, mendekati 73,4 tahun pada 2019.
Pemulihan harapan hidup sehat berlangsung lebih lambat karena angkanya baru mencapai 62,8 tahun pada 2023. Angka tersebut masih 0,4 tahun di bawah capaian pada 2019.
Direktur Departemen Data, Alain Labrique, Kesehatan Digital, Analitik, dan Kecerdasan Buatan di WHO, menyebut umur panjang sebagai salah satu pencapaian penting dalam kesehatan masyarakat.
“Hidup lebih lama adalah salah satu pencapaian besar kesehatan masyarakat,” kata Labrique, dikutip France 24.
1. Penyakit tidak menular mendominasi kematian global

ilustrasi makam (pexels.com/RDNE Stock project) Perubahan pola penyakit dunia turut terlihat dari anjloknya angka kematian akibat COVID-19 hingga keluar dari 10 besar penyebab kematian. COVID-19 yang menjadi penyebab kematian nomor tiga pada 2020 dengan 5,3 juta jiwa, naik ke posisi pertama pada 2021 dengan 9,4 juta jiwa, lalu turun ke urutan ke-14 pada 2023 dengan 900 ribu jiwa.
Labrique menyebut tantangan selanjutnya adalah memastikan tambahan usia tersebut tetap dijalani dalam kondisi sehat. Sistem kesehatan juga perlu beradaptasi dengan perubahan kebutuhan populasi, sementara penyakit tak menular semakin mendominasi tren kesehatan global.
Sebanyak delapan dari 10 penyebab utama kematian pada 2023 berasal dari kelompok penyakit tak menular dan menyumbang 74 persen seluruh kematian dunia. Porsinya meningkat dari 58 persen pada 2000, sementara penyakit menular untuk pertama kalinya menyumbang kurang dari separuh total kematian di negara berpendapatan rendah.
2. Penyakit jantung memimpin penyebab kematian

ilustrasi penyakit jantung (pexels.com/Towfiqu barbhuiya) Dari 61 juta kematian di seluruh dunia pada 2023, sebanyak 33 juta kasus berasal dari 10 penyebab utama. Penyakit jantung iskemik berada di posisi teratas dengan 9,5 juta kematian atau 16 persen dari seluruh kasus, naik dari 3,0 juta pada 2000.
Stroke menyumbang 11 persen kematian dan berada di peringkat kedua. Penyakit paru obstruktif kronik menempati posisi ketiga dengan enam persen, sedangkan infeksi saluran pernapasan bawah menjadi penyakit menular paling mematikan di urutan keempat.
Kelompok penyakit degeneratif dan kronis juga mengalami peningkatan kematian. Alzheimer dan demensia lainnya berada di posisi kelima dengan 2,1 juta kematian setelah jumlahnya meningkat tiga kali lipat sejak 2000.
Kematian akibat diabetes meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi dua juta jiwa. Kanker trakea, bronkus, dan paru mencapai 1,8 juta kematian, sedangkan penyakit ginjal naik dari posisi ke-17 menjadi urutan kesembilan dengan peningkatan 86 persen.
3. Penyakit menular menurun gangguan kesehatan jiwa meningkat

ilustrasi warga di tengah jalan (pexels.com/Garrison Gao) Penurunan kematian akibat sejumlah penyakit menular dan komplikasi medis menjadi salah satu perubahan dalam data tersebut. Kematian akibat HIV dan acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) turun 62 persen, dari posisi ketujuh pada 2000 menjadi urutan ke-22 pada 2023.
Kematian akibat komplikasi kelahiran prematur juga berhasil ditekan hingga turun 30 persen. Sementara itu, beban gangguan kesehatan jiwa mengalami peningkatan yang sangat tajam.
Pada 2023, kematian dini dan kondisi disabilitas menyebabkan hilangnya 2,9 miliar tahun hidup sehat. Sepanjang periode 2019 hingga 2023, tahun hidup dengan disabilitas naik sekitar 20 persen untuk kasus depresi dan hampir 45 persen untuk kecemasan, dengan akumulasi 110 juta tahun hilang pada 2023.
Sumber referensi:
https://www.france24.com/en/live-news/20261002-life-expectancy-almost-back-to-pre-covid-levels-says-who
https://www.democrata.es/en/health/the-global-life-expectancy-approaches-levels-prior-to-the-pandemic-and-covid-is-no-longer-among-the-top-ten-causes-of-death/amp/


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















