AHY Cek Renovasi MTsN 1 Kota Bogor, Pastikan Fasilitas Pendidikan Layak

- Menko AHY meninjau progres renovasi MTsN 1 Kota Bogor yang telah mencapai 95 persen sebagai bagian dari program quick wins untuk memastikan keamanan fasilitas pendidikan.
- Program rehabilitasi ini mencakup 1.397 madrasah di seluruh Indonesia dengan total anggaran Rp4 triliun, dilaksanakan dalam dua tahap sesuai Inpres Nomor 7 Tahun 2025.
- Pemerintah memprioritaskan perbaikan sarana pendidikan di wilayah 3T, termasuk peningkatan ketahanan bangunan dan penyediaan fasilitas sanitasi dasar bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan.
Bogor, IDN Times – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meninjau langsung progres pengerjaan rehabilitasi dan renovasi bangunan di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Kota Bogor, Jumat (19/6/2026).
Proyek yang dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bersama Kementerian Agama (Kemenag) ini ditargetkan segera tuntas dalam waktu dekat.
Dalam kunjungan tersebut, Menko AHY didampingi oleh Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, Direktur Prasarana Strategis Ditjen Cipta Karya Kementerian PU, perwakilan Kanwil Kemenag Jawa Barat, serta Kepala MTsN Kota Bogor.
AHY mengungkapkan bahwa proyek ini merupakan bagian dari program hasil terbaik cepat (quick wins) prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan keselamatan dan kelayakan fasilitas pendidikan nasional.
1. Progres renovasi fisik bangunan di MTsN 1 Kota Bogor sudah 95 persen

AHY mengungkapkan, proyek renovasi di MTsN 1 Kota Bogor kini sudah hampir selesai sepenuhnya dengan capaian fisik yang sangat signifikan. Madrasah ini merupakan satu dari 127 institusi keagamaan di wilayah Provinsi Jawa Barat yang tengah diperbaiki.
"Progres rehabilitasi dan renovasi di MTsN Kota Bogor ini sudah mencapai 95 persen, sebentar lagi akan tuntas sepenuhnya. Langkah ini merupakan respons cepat pemerintah terhadap insiden pilu tahun lalu di Sidoarjo, di mana ada bangunan pondok pesantren yang roboh hingga mengakibatkan korban jiwa. Kami berkomitmen memastikan seluruh bangunan fasilitas pendidikan di Indonesia aman dan layak," ujar Menko AHY.
2. Program sasar 1.397 madrasah dengan total anggaran Rp4 triliun

AHY menegaskan, pelaksanaan proyek strategis berskala nasional ini mengacu pada amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2025 tentang Percepatan Peningkatan Sarana Prasarana Pendidikan.
Ruang lingkup renovasi mencakup institusi di bawah Kemendikdasmen dan Kemenag dari tingkat PAUD, pendidikan dasar, hingga pendidikan menengah dengan pembagian dua tahap pengerjaan.
Berdasarkan data agregat nasional yang tertuang dalam Inpres Nomor 7 Tahun 2025, postur anggaran proyek terbagi atas dua tahapan dengan total 1.397 madrasah di seluruh Indonesia masuk dalam skema rehabilitasi dengan alokasi anggaran total sebesar Rp4 triliun.
AHY menjelaskan, pada tahap pertama di tahun 2025, program menyasar 548 madrasah menggunakan skema kontrak tahun tunggal (single-year contract) dengan serapan anggaran sekitar Rp1,3 triliun. Di tahap kedua, terdapat 13 madrasah di Kalimantan Barat dengan skema single-year yang memakan anggaran sebesar Rp60 miIiar, dan 836 madrasah menggunakan skema kontrak tahun jamak (2025-2026) multi-year contract dengan alokasi dana Rp2,35 triliun.
"Progresnya secara umum telah menyentuh angka 62 persen, dan khusus madrasah ini (MTs Negeri 1 Bogor) telah mencapai 95 persen," ungkap dia.
3. Skala prioritas difokuskan ke wilayah 3T dan ekosistem sanitasi dasar

AHY memastikan, bahwa pemerintah saat ini tengah memprioritaskan daerah-daerah dalam kategori 3T. Ia menegaskan, prioritas utama mencakup perbaikan struktur bangunan dari segi ketahanan, kelayakan fasilitas sekolah seperti ruang kelas dan laboratorium, serta ketersediaan kamar mandi atau toilet.
"Gambaran besar prioritas utama anggaran akan difokuskan untuk intervensi ke daerah-daerah yang paling membutuhkan, khususnya wilayah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal) dan kawasan perbatasan negara. Banyak sekolah di daerah yang tidak memiliki toilet layak, kasihan siswa-siswi kita. Berbicara tentang sekolah, kita tidak bisa hanya membangun fisiknya saja, melainkan harus membangun kesatuan ekosistem pendukungnya secara utuh," pungkas dia.
















