Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Angka Kematian Akibat Virus Corona di Italia dan Iran Naik Drastis

Angka Kematian Akibat Virus Corona di Italia dan Iran Naik Drastis
Petugas memantau suhu tubuh penumpang menggunakan alat pemindai suhu tubuh yang dipasang di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Senin (2/3/2020) (ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/ama)
Share Article

Surabaya, IDN Times - Pasien meninggal dunia akibat terpapar virus corona di dua negara, Italia dan Iran, naik drastis pada Rabu (4/3). Bahkan angka korban jiwa di Italia melampaui Iran yang sebelumnya di nomor urut kedua. Di Italia, data yang meninggal menjadi 79 orang. Sehari sebelumnya data masih mencatat 52 orang.

Sedangkan di Iran, angkanya naik dari 66 orang pada Selasa (3/3) menjadi 77 orang. Negara lain di luar Tiongkok yang mencatat angka kematian tertinggi adalah Korea Selatan, sebanyak 28 orang.

Data ini diambil dari Center for Systems Science and Engineering (CSSE) John Hopkins University, Amerika Serikat. Dari data tersebut total yang meninggal dunia mencapai 3.160 orang. Sedangkan yang positif terinfeksi sebanyak 92.828 orang.

Meski jumlah yang terinfeksi terus meningkat, tetapi orang yang sembuh akibat virus corona juga terus naik. Lebih separuh penderita, yakni 48.229 orang berhasil disembuhkan.

  1. 1. Virus corona menyebar di 79 negara

    Peta penyebaran virus Corona/CSSE John Hopkins University
    Peta penyebaran virus Corona/CSSE John Hopkins University

    Virus corona sendiri telah menyebar di 79 negara di dunia, yakni:

    Tiongkok
    Korea Selatan
    Italia
    Iran
    Jepang
    Prancis
    Jerman
    Spanyol
    Amerika Serikat
    Singapura
    Hong Kong
    Kuwait
    Swiss
    Inggris
    Bahrain
    Thailand
    Taiwan
    Australia
    Malaysia
    Norwegia
    Irak
    Canada
    Uni Emirat Arab
    Belanda
    Swedia
    Austria
    Vietnam
    Belgia
    Lebanon
    Israel
    Oman
    Iceland
    San Marino
    Macau
    Kroasia
    Qatar
    Ekuador
    Yunani
    Denmark
    Finlandia
    Republik Czechnya
    Algeria
    India
    Pakistan
    Meksiko
    Georgia
    Filipina
    Rusia
    Rumania
    Azerbaijan
    Indonesia
    Brazil
    Portugal
    Mesir
    Afghanistan
    Lithuania
    Nepal
    Luxembourg
    Andorra
    Saudi Arabia
    Irlandia
    Armenia
    Argentina
    Nigeria
    Senegal
    Yordania
    Chile
    Republik Dominica
    Ukraina
    Estonia
    North Macedonia
    Maroko
    Kamboja
    Monaco
    Belarus
    Selandia Baru
    Liechtenstein
    Latvia
    Sri Lanka

  2. 2. Indonesia masuk peta penyebaran virus corona setelah ada dua warga yang terpapar

    Suasana RSPI Sulianti Saroso (IDN Times/Gregorius Aryodamar P.)
    Suasana RSPI Sulianti Saroso (IDN Times/Gregorius Aryodamar P.)

    Indonesia termasuk dalam salah satu negara dalam peta penyebaran virus corona yang di CSSE John Hopkins University menyusul terdeteksinya dua warga Depok Jawa Barat. Terpaparnya penderita di Indonesia disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada Senin (2/3).

    Dua pasien tersebut kini tengah diisolasi di RSPI Sulianti Saroso dan dinyatakan dalam kondisi stabil. Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso, Mohammad Syahril, memastikan, dua pasien terinfeksi virus corona  sudah tidak demam dan sesak napas. "Tinggal batuk-batuk yang sedikit. Tidak sesak napas," kata Syahril.

    Meski dalam kondisi baik, rumah sakit masih tidak mengizinkan kerabat pasien menjenguk. Sebab, ruang isolasi merupakan zona merah yang tak dapat dimasuki sembarang orang. "Kami pun yang masuk harus pakai alat," ujar Syahril.

    Meski tak bisa dijenguk, Syahril mengatakan, pasien bisa komunikasi lewat telepon. Sebab, walau sedang diisolasi pasien masih diizinkan komunikasi via telepon. "Di sana dia bisa ber-WA, telepon, video call," kata Syahril.

  3. 3. Masker menjadi langka di pasaran

    Ilustrasi masker (IDN Times/Sunariyah)
    Ilustrasi masker (IDN Times/Sunariyah)

    Pengumuman pasien positif terpapar virus corona sempat membuat masyarakat panic buying. Aprindo mencatat sedikitnya warga di enam kota besar di Indonesia menyerbu pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan pokok, termasuk masker dan hand sanitizer. Serbuan warga ini membuat harga kebutuhan bahan pokok meningkat 10-15 persen.

    "Lebih kurang 5-6 kota yang terjadi gejolak ini. Tapi kita dengan seluruh deputi kabupaten kota berupaya untuk menenangkan masyarakat bahwa tidak perlu panic buying," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Roy N Mandey dalam konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (3/3).

    Tak hanya kebutuhan pokok, warga juga berburu masker. Tingginya permintaan membuat masker langka di pasaran, sehingga harga melonjak tajam. Pantauan IDN Times di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, harga masker isi 50 lembar yang dalam kondisi normal dijual Rp40 ribu kini naik 10 kali lipat menjadi Rp400 ribu.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More