BRIN Gandeng Rusia untuk Kebut Pembangunan Bandar Antariksa di Biak

- BRIN bekerja sama dengan Roscosmos Rusia untuk mempercepat pembangunan bandar antariksa nasional di Biak, Papua, yang ditargetkan menjadi pelabuhan antariksa pertama di Asia Tenggara.
- Pemerintah tengah menyiapkan kerangka hukum khusus seperti lisensi peluncuran roket dan izin operator agar proyek bandar antariksa Biak dapat berjalan sesuai regulasi internasional.
- Indonesia berencana meluncurkan kembali mikrosatelit pada tahun 2026 untuk mendukung penginderaan jauh dan telekomunikasi, dengan kemungkinan peluncuran dilakukan dari India.
Jakarta, IDN Times - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggandeng perusahaan antariksa asal Rusia, Roscosmos, untuk mempercepat pembangunan bandar antaraiksa nasional di Pulau Biak, Papua. Sebagai langkah awal, Kepala BRIN, Arif Satria berkunjung ke markas Roscosmos di Rusia pada Rabu (8/4/2026) lalu. Indonesia, kata Arif, bercita-cita memiliki pelabuhan antariksa pertama di Asia Tenggara.
"Sekarang kami berencana membangun bandar antariksa di Pulau Biak, Papua. Tentu saja teknologi ruang angkasa terbaik salah satunya dari Rusia. Rusia adalah salah satu mitra kami dalam mengembangkan ekosistem antariksa," ujar Arif di dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Rabu (22/4/2026).
Ia menambahkan saat berkunjung ke Roscosmos, mantan rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) itu turut menyambangi anak perusahaannya yakni Glavkosmos. Ia ingin menjajaki peluang kerja sama lebih lanjut, khususnya dalam aspek komersialisasi layanan antariksa. Dalam pandangannya, pembangunan bandar antariksa membutuhkan kolaborasi global, terutama dengan negara yang memiliki pengalaman dan teknologi maju di sektor antariksa.
Arif turut menjelaskan Biak dipilih sebagai lokasi untuk pembangunan pelabuhan antariksa karena letaknya dekat dengan garis ekuator. Hal itu memberikan keunggulan teknis dan efisiensi energi dalam peluncuran roket ke berbagai jenis orbit satelit.
1. Biak juga sudah punya infrastruktur awal untuk stasiun bandar antariksa

Lebih lanjut, Arif mengatakan Biak juga mempunyai ruang terbuka di Laut Pasifik sehingga roket tingkat awal bisa jatuh di laut lepas. Infrastruktur pendukung pun sudah tersedia di Pulau Biak seperti pelabuhan dan bandara. Hal itu menyebabkan Biak memiliki keunggulan tersendiri karena memudahkan distribusi dan transportasi komponen roket yang diproduksi di lokasi lain.
Arif pun optimis kemitraan dengan Roscosmos dapat mempercepat pewujudan cita-cita Indonesia untuk memiliki pelabuhan antariksa pertama di kawasan Asia Tenggara.
"Kami percaya bahwa Rusia dengan pengalaman dan teknologi canggih barunya dapat membantu Indonesia dalam mencapai impian kami untuk menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang memiliki pelabuhan antariksa," tutur dia.
2. Kerangka hukum pembangunan bandar antariksa sedang disiapkan

Arif juga mengatakan saat ini pihaknya masih terus mengkaji kerangka hukum untuk bisa dilakukan pembangunan bandar antariksa di Biak. Indonesia sesungguhnya telah memiliki aturan seperti Undang-Undang nomor 21 tahun 2013 mengenai keantariksaan hingga Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 2023 mengenai penguasaan teknologi keantariksaan. Tetapi, Indonesia belum memiliki aturan rinci seperti Spaceport Act yang berlaku di Amerika Serikat (AS).
Selain itu, Indonesia juga membutuhkan sistem untuk lisensi peluncuran roket, sertifikasi wahana, audit keselamatan, izin operator roket hingga izin perusahaan asing.
"Kami sekarang sedang proses untuk (pembuatan) kerangka hukumnya seperti apa dan setelah itu baru kami akan masuk pada tataran yang lebih teknis lagi," ujar Arif kepada IDN Times di area Senayan, Jakarta Selatan pada Selasa (21/4/2026).
Ia juga menegaskan pembangunan bandar antariksa bukan semata proyek infrastruktur, tetapi bagian dari strategi besar membangun ekosistem antariksa nasional yang berdampak pada ekonomi.
"Karena ekosistem ruang angkasa sangat penting, ketika kita berbicara tentang ekosistem ruang angkasa, kita tidak hanya berbicara tentang roket. Tetapi ekosistem meningkatkan perekonomian, jadi bukan hanya fasilitas umum, tetapi juga untuk kegiatan ekonomi," katanya.
3. Indonesia segera luncurkan kembali mikrosatelit

Arif juga menyebut pada tahun 2026, Indonesia akan kembali meluncurkan mikrosatelit. Teknologi itu berfungsi tidak saja untuk penginderaan jarak jauh tetapi dapat dimanfaatkan demi kebutuhan telekomunikasi di masa depan.
"Kita kan masih di tahap baru mampu membuat mikrosatelit yang mana tahun ini akan kita luncurkan lagi," ujar Arif kepada IDN Times.
Ia pun membocorkan mikrosatelit itu kemungkinan akan diluncurkan dari India. "Kemungkinan (mikrosatelit diluncurkan) dari India, tahun ini," tutur dia.


















