Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Demo Bakar Ban di Tugu Kujang, Presma: Asap Kecil Saja Bikin Sesak

2 min read
Demo Bakar Ban di Tugu Kujang, Presma: Asap Kecil Saja Bikin Sesak
Demo mahasiswa Bogor di warnai dengan aksi bakar ban. IDN Times/Linna Susanti
  • Puluhan mahasiswa Unpak berdemo berpakaian hitam dan membakar ban di Tugu Kujang, Bogor, untuk mengevaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran serta menyoroti dampak Karhutla.

  • Mahasiswa menjadikan asap ban sebagai simbol penderitaan korban Karhutla, sambil menilai pemerintah lambat menangani kabut asap di Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

  • Aksi juga menyoroti penurunan anggaran penanggulangan bencana APBN 2026 menjadi Rp491 miliar, serta membawa tuntutan pendidikan, penghentian kriminalisasi aktivis, dan pertanggungjawaban pemerintah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bogor, IDN Times — Puluhan mahasiswa Universitas Pakuan (Unpak) menggelar aksi demonstrasi mengenakan busana serba hitam di kawasan Tugu Kujang, Kota Bogor, Selasa (20/10/2026) sore.

Aksi yang diwarnai dengan pembakaran ban bekas tersebut digelar untuk mengevaluasi dua tahun masa kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, sekaligus menyuarakan penderitaan korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Pembakaran ban ini ada maksudnya. Sekecil-kecilnya kebakaran atau dibakarnya ban, ternyata asapnya membuat napas kita sesak dan mata terganggu," tegas Presiden Mahasiswa (Presma) Unpak, Galuh, di lokasi aksi.

  1. 1. Aksi bakar ban jadi simbol penderitaan korban Karhutla

    Kepulan asap tebal membumbung di sekitar Tugu Kujang, Bogor, saat berlangsung aksi demonstrasi di lokasi tersebut.
    Kepulan asap membumbung saat alsi demo di Tugu Kujang Bogor. Istimewa

    Massa aksi menegaskan, kepulan asap dari pembakaran ban bekas bukan sekadar pemicu riuh di jalanan, melainkan gambaran nyata dari penderitaan warga yang terdampak bencana asap karhutla di berbagai daerah.

    "Inilah jadi momentum bersama untuk refleksi bahwasannya sekecil-kecilnya asap bisa memberikan dampak. Karena pada akhirnya mereka yang tertawa, kita yang menderita," tutur Galuh.

    Galuh yang mewakili mahasiswa, menilai pemerintah abai dan lambat dalam menangani karhutla di Sumatra, Kalimantan, hingga Papua yang kabut asapnya kini sudah menyeberang dan dikomplain oleh negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, hingga Filipina.

    "Hari ini pemerintah seakan-akan masih sanggup, padahal nyatanya pemerintah tidak berani dan tidak mau menetapkan karhutla sebagai bencana nasional," tambah dia.

  2. 2. Demo untuk peringati 2 tahun Prabowo-Gibran

    IMG-20261020-WA0129.jpg
    Spanduk berisikan tulisan Gulingkan Pemerintah Presiden. IDN Times/Linna Susanti

    Di tengah kepungan asap karhutla, mahasiswa menyesalkan alokasi dana penanggulangan bencana dalam APBN 2026 yang anjlok drastis menjadi Rp491 miliar (turun sekitar 75,62 persen dibanding tahun 2025 sebesar Rp2,01 triliun dan tahun 2024 sebesar Rp4,92 triliun).

    "Untuk aksi demonstrasi pada hari ini, karena kita paham dan kita mengetahui bahwasannya Prabowo-Gibran per tanggal 20 Oktober dinyatakan sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Hari ini kita menyatakan sikap untuk menolak dan mendesak dari program, agenda, dan tindakan yang hari ini menjadi point of view masyarakat," kata Galuh.

    Aksi demo tidak hanya dilakukan di Kota Bogor, tapi juga di kota besar lainnya seperti Jakarta hingga Bandung.

  3. 3. Bawa 5 tuntutan utama dan ancam aksi susulan yang berlipat ganda

    Massa demonstran berkumpul di depan Tugu Kujang, Kota Bogor, saat menggelar aksi unjuk rasa di ruang publik.
    Massa demo di depan Tigu Kujang Kota Bogor. IDN Times/Linna Susanti

    Selain isu karhutla dan evaluasi APBN, mahasiswa merumuskan tuntutan jaminan pendidikan, penghentian kriminalisasi aktivis, serta pertanggungjawaban Prabowo-Gibran atas kondisi bangsa. Aksi di Tugu Kujang ini dipastikan sebagai awal dari gelombang perlawanan.

    "Kita pastikan aksi pada hari ini akan berkelanjutan dan akan berlipat ganda. Gerakan-gerakan organik bersama masyarakat akan terus berjalan dan api-api perjuangan akan terus diperjuangkan. Jangan diam, lawan impunitas," pungkas Galuh.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More