Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Netanyahu Blak-blakan Bahas Penyingkiran Rezim Iran Bersama Trump

4 min read
Netanyahu Blak-blakan Bahas Penyingkiran Rezim Iran Bersama Trump
Presiden AS Donald Trump (kanan) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) bersalaman saat menggelar konferensi pers bersama di East Room, Gedung Putih, Washington, D.C., pada 15 Februari 2017. (The White House from Washington, DC, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Netanyahu menyatakan telah berulang kali membahas penyingkiran rezim Iran dengan Trump, yang ia kaitkan dengan perdamaian Lebanon, pelemahan Hezbollah, dan pencegahan program nuklir militer Iran.
  • Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengunjungi Pangkalan Udara Ovda untuk membahas ancaman regional serta koordinasi pertahanan Israel-AS, menjelang pemilihan parlemen Israel pada 27 Oktober 2026.
  • Iran meningkatkan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz, sementara Teheran dan Moskwa memperluas kerja sama ekonomi-nuklir di tengah konflik regional yang mendorong harga minyak melampaui 100 dolar AS per barel.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan bahwa dirinya telah berulang kali membicarakan rencana penyingkiran rezim Iran dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Pembahasan tersebut kembali dilakukan pada Minggu (18/10/2026), sebagaimana disampaikan melalui pernyataan resmi kantor Netanyahu.

Netanyahu menyatakan bahwa upaya menggulingkan pemerintahan Iran menjadi bagian dari agenda yang telah dibicarakannya bersama Trump dalam beberapa kesempatan.

“Kami berkomitmen untuk menyelesaikan eliminasi rezim Iran. Saya telah membahas ini dengan Trump berkali-kali, termasuk sehari sebelum kemarin,” kata Netanyahu, dikutip Daily Sabah.

Netanyahu menilai tercapainya perdamaian dengan Lebanon berkaitan erat dengan penyingkiran kelompok Hezbollah dan penggulingan rezim Iran. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dilaporkan telah melancarkan operasi terhadap pasukan elite Radwan milik Hezbollah serta menghancurkan infrastruktur teroris untuk mencegah Teheran menghidupkan kembali program nuklir militer.

  1. 1. Hegseth mengunjungi Israel untuk membahas kerja sama pertahanan

    Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth
    Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth (U.S. Department of Defense, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth melakukan kunjungan tanpa pengumuman sebelumnya ke Pangkalan Udara Ovda di Gurun Negev pada Senin (19/10/2026). Menurut laporan Axios, pangkalan tersebut menjadi lokasi pengerahan pesawat pengisi bahan bakar dan jet tempur, sekaligus tempat ribuan personel militer AS ditempatkan sejak pertempuran meluas pada Februari.

    Hegseth turut mengunggah informasi kunjungannya di platform X dengan menyebut pertemuannya bersama personel Komando Pusat AS di pangkalan tersebut. Kunjungan itu berlangsung delapan hari sebelum pemilihan parlemen Israel yang dijadwalkan pada 27 Oktober 2026.

    Kedatangan Hegseth berlangsung setelah Trump secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Netanyahu menjelang pemilihan tersebut. Keduanya juga sempat berbicara melalui sambungan telepon, dengan Trump menyampaikan pujian kepada pemimpin Israel itu.

    “Kami akan menyelesaikannya, dan tidak ada orang lain yang akan melakukannya. Kamu seorang pejuang… Dan saya pikir kamu luar biasa, Bibi. Saya pikir kamu akan memenangkan kemenangan besar, sebenarnya,” ujar Trump, dikutip i24News.

    Juru Bicara PM Israel, Doron Spielman, mengonfirmasi adanya pertemuan di Pangkalan Udara Ovda yang membahas ancaman regional serta kemitraan ofensif dan defensif kedua negara. Reuters melaporkan bahwa pertemuan tersebut berfokus pada koordinasi keamanan Israel dan AS.

    Sementara itu, CNN mengklarifikasi laporan sebelumnya dengan memastikan bahwa tak ada pejabat Uni Emirat Arab (UEA) yang menghadiri pembicaraan antara Hegseth, Netanyahu, dan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz.

  2. 2. Iran meningkatkan serangan terhadap kapal di Selat Hormuz

    Penampakan Selat Hormuz dari satelit
    Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Iran meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menjelang pemilihan paruh waktu AS. Berdasarkan laporan The Washington Post yang mengutip pejabat Iran dan diplomat kawasan, langkah tersebut dilakukan dengan harapan Trump menjadi kurang peka terhadap perubahan harga energi setelah pemungutan suara.

    Penasihat Keamanan Nasional Iran Mohsen Rezaei menyebut pihaknya menargetkan lima hingga enam kapal setiap malam. Ia juga menyampaikan keinginan untuk menghukum Trump melalui pemilihan paruh waktu, dengan menyinggung krisis penyanderaan yang merugikan mantan Presiden AS Jimmy Carter pada 1980.

    Lembaga UK Maritime Trade Operations (UKMTO) mencatat lebih dari 20 kapal menjadi sasaran serangan Iran sepanjang bulan ini, termasuk satu kapal yang tenggelam. Angka tersebut muncul setelah lembaga itu mencatat rata-rata 30 serangan setiap minggu sepanjang September.

    Seorang pejabat Barat dan diplomat Arab menilai Teheran meyakini strategi tersebut dapat melemahkan posisi Trump hingga berujung pada jatuhnya kepresidenan AS. Penilaian itu muncul di tengah meningkatnya gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz.

  3. 3. Iran memperkuat kerja sama ekonomi dan nuklir dengan Rusia

    potret bendera Rusia
    potret bendera Rusia (unsplash.com/Egor Filin)

    Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi menerima kunjungan Menlu Rusia Sergei Lavrov di Teheran untuk membahas perluasan kerja sama ekonomi dan nuklir kedua negara. Pertemuan tersebut turut mencakup isu Eropa dan Asia Barat, termasuk perkembangan di Lebanon, Palestina, Ukraina, serta Yaman.

    Araghchi menggambarkan hubungan bilateral Iran dan Rusia sebagai kemitraan yang semakin erat.

    “Tak pernah dalam sejarah Iran dan Rusia bekerja sedekat sekarang,” tegas Araghchi.

    Trump memberikan tanggapan positif terhadap hubungan diplomatik kedua negara saat berbicara di halaman Gedung Putih. Ia menilai Rusia dan China sejauh ini hanya memberikan sedikit bantuan kepada Iran.

    Perang yang meluas sejak akhir Februari menyusul serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran turut memicu ketidakpastian geopolitik. Konflik yang berlanjut dan serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi juga mendorong harga minyak mentah melampaui 100 dolar AS per barel (setara Rp1,79 juta).

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More