Demo Besar Kembali Pecah di Prancis, Toko Dijarah dan Mobil Dibakar

Gelombang demo di Prancis menuntut penurunan biaya hidup dan berlangsung di sejumlah kota besar.
Aksi diwarnai pembakaran, perusakan, bentrokan, serta penangkapan ratusan pengunjuk rasa.
Kenaikan harga kebutuhan, dukungan serikat buruh, dan gerakan pelajar menjadi pemicu aksi.
Jakarta, IDN Times – Gelombang unjuk rasa berskala nasional kembali mengguncang Prancis pada hari Sabtu (17/10/2026). Aksi demo yang menuntut penurunan biaya hidup ini diwarnai dengan aksi kekerasan, pembakaran, hingga bentrokan antara pengunjuk rasa dan petugas kepolisian di berbagai kota besar.
Dikutip dari NPR, aksi pengunjuk rasa yang bertindak anarkis membuat situasi di ibu kota Paris memanas. Sebuah mobil dan kios koran dibakar, sementara kelompok orang mengenakan penutup kepala serta masker melemparkan kembang api dan benda-benda lain ke arah petugas di Place de la République.
1. Polisi antihuru-hara dikerahkan

ilustrasi protes di Paris, Prancis. (unsplash.com/Hendrik Schuette) Menanggapi tindakan tersebut, kepolisian pengerahkan personel antihuru-hara, gas air mata, hingga meriam air untuk memukul mundur massa. Guna mencegah pengunjuk rasa berkumpul di dekat gedung-gedung pemerintah, stasiun metro di sekitar Champs-Élysées, istana kepresidenan, parlemen, serta kantor pemerintah ditutup atas permintaan polisi.
Meski demikian, sebagian besar pengunjuk rasa tetap melakukan pawai secara damai menuju barat laut Paris sambil mengibarkan bendera nasional serta menyanyikan lagu kebangsaan yang diiringi terompet dan biola.
2. Aksi kekerasan dan perusakan meluas ke kota-kota besar lainnya

ilustrasi protes di Paris, Prancis. (unsplash.com/Norbu GYACHUNG) Tidak hanya di Paris, gelombang kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok bertopeng juga terjadi di Lyon, Marseille, Rennes, Toulouse, Montpellier, Grenoble, dan kota-kota lainnya.
Kebakaran sempat terjadi di dalam sebuah kantor pariwisata di Lyon hingga asap dan kobaran api membubung tinggi. Di kota terbesar ketiga di Prancis ini, sekitar 20.000 orang turun ke jalan.
Sementara itu, di Marseille Sejumlah toko dan kantor polisi kota mengalami kerusakan. Beberapa demonstran bahkan sempat menerobos masuk ke lobi Balai Kota. Wali Kota Marseille, Benoît Payan, menyebut perusakan tersebut tidak dapat diterima meskipun tingkat kerusakannya tak parah.
Menurut laporan Kantor Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez, terdapat 272 pengunjuk rasa yang ditangkap karena diduga terlibat penjarahan atau percobaan penjarahan toko, serta perusakan fasilitas umum.
3. Dipicu melonjaknya harga kebutuhan dan gerakan pelajar

Gas air mata ditembakkan aparat di demo pelajar Prancis. (AFP/Romeo Boetzle) Unjuk rasa ini dipicu oleh akumulasi rasa frustrasi masyarakat terhadap pemerintah akibat melonjaknya harga bensin, energi, dan bahan pangan dalam beberapa bulan terakhir. Para demonstran menanggapi seruan di media sosial untuk menghidupkan kembali gerakan “yellow vest" atau rompi kuning yang pernah muncul pada 2018 lalu.
Selain masalah ekonomi, aksi ini didukung oleh serikat buruh utama CGT serta kelompok-kelompok pelajar yang telah melakukan aksi blokade sekolah sejak pertengahan September:
Demonstran menuntut upah dan pensiun yang lebih tinggi, harga kebutuhan yang lebih rendah, serta perlindungan terhadap layanan publik.
Akibat aksi ini terdapat ratusan korban luka, dan sejumlah sekolah dibakar, hingga memengaruhi kampanye pemilihan presiden serta menarik perhatian internasional.



















