Dua Tahun Prabowo-Gibran, Menkes Laporkan CKG Jangkau 109 Juta Orang

- Kemenkes mencatat 109,3 juta orang menjalani Cek Kesehatan Gratis sepanjang 2026, dari 116,3 juta pendaftar, mendekati target 130,3 juta pemeriksaan hingga akhir tahun.
- Program CKG ditujukan mendeteksi obesitas, hipertensi, gula darah tinggi, dan kolesterol tinggi guna menekan risiko penyakit jantung, stroke, serta gangguan ginjal.
- Dari 7,135 juta warga terdeteksi hipertensi tahun lalu, 755.907 telah diobati; Kemenkes menargetkan 80 persen mendapat terapi dan kondisi kesehatannya dipantau berkala.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 109.300.240 orang telah menjalani pemeriksaan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang 2026. Jumlah tersebut mendekati target 130.344.650 orang yang ditetapkan hingga akhir tahun.
Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, jumlah masyarakat yang telah mendaftar CKG mencapai 116.313.018 orang. Namun, tidak semua pendaftar langsung menjalani pemeriksaan karena sebagian masih menunggu jadwal layanan.
"Tahun ini targetnya kita 130 juta dan sudah bisa kita capai sampai 109 juta. Sisanya harusnya bisa kita kejar sampai akhir tahun," ujar Budi dalam konferensi pers "2 Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo-Gibrandi Kantor Kemenkes, Kamis (22/10/2026).
1. Deteksi faktor risiko

Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam konpers pencapaian 2 tahun pemerintahanPrabowo-Gibran di Gedung Kemenkes, Kamis (22/10/2026) / IDN Times Dini Suciatiningrum Budi menjelaskan, CKG merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan rata-rata angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun.
Menurut dia, pemeriksaan kesehatan perlu dilakukan untuk mendeteksi faktor risiko penyakit yang dapat menyebabkan kematian pada usia lebih muda, terutama stroke, penyakit jantung, dan gangguan ginjal.
"Kalau kita bisa mengukur keempat faktor risiko tadi, obesitas, tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, sama kolesterol tinggi kita bisa menurunkan sampai 80 persen dari kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular seperi penyakit jantung, pembuluh darah, stroke, serangan jantung, dan masalah ginjal," ujar Budi.
2. Kemenkes lakukan tindak lanjut bagi warga yang terdeteksi faktor risiko

Ratusan perempuan mengikuti skrining kanker payudara dan cek kesehatan gratis (CKG) di Balai Kota Semarang, 10-12 Agustus 2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Kemenkes mulai mendorong tindak lanjut berupa pengobatan bagi warga yang terdeteksi memiliki faktor risiko penyakit. Dia mencontohkan, dari sekitar 7,135 juta orang yang terdeteksi mengalami hipertensi dalam pemeriksaan tahun lalu, sebanyak 755.907 orang telah mendapatkan pengobatan.
Jumlah tersebut masih jauh dari target pemerintah. Kemenkes menargetkan 80 persen masyarakat yang terdeteksi hipertensi mendapat pengobatan, atau sekitar 5,6 juta orang.
"Jadi tahun lalu di-screening 73 juta, yang ketemu hipertensi itu 7 juta. Hipertensi ini kemudian dikasih obat yang dia harus minum setiap hari. Yang diobati adalah 755 ribu, masih kecil," kata Budi.
3. Lakukan pemantauan kasus

Ratusan perempuan mengikuti skrining kanker payudara dan cek kesehatan gratis (CKG) di Balai Kota Semarang, 10-12 Agustus 2026). (IDN Times/Anggun Puspitoningrum) Kemenkes juga tengah mengumpulkan data lanjutan untuk mengetahui perkembangan kondisi pasien setelah menjalani pengobatan. Pemantauan tersebut dilakukan untuk melihat apakah tekanan darah dan indikator kesehatan lainnya telah kembali ke kategori normal atau terkendali.
Budi mengatakan, pasien hipertensi perlu menjalani pemeriksaan tekanan darah secara berkala, termasuk setiap bulan selama proses pemantauan pengobatan.
"Targetnya kita bukan hanya screening-nya, bukan hanya dikasih obatnya, tapi memastikan bahwa semua masyarakat kita tuh sehat. Atau indikator kesehatannya hijau," kata dia.























