Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harunya Dany Bertemu Sang Istri Setelah 4 Hari Terpisah di Tanah Suci

Harunya Dany Bertemu Sang Istri Setelah 4 Hari Terpisah di Tanah Suci
Dani saat bertemu dengan istrinya, Rusnayah setelah empat hari terpisah. IDN Times/Faiz Nashrillah

Makkah, IDN Times - Dany Abasdin menyesap rokoknya dalam-dalam. Kopi yang tinggal separuh cangkir ia habiskan sekalian.

"Kopinya terlalu manis," ucap kakek 66 tahun itu, Minggu, 26 Mei 2024 pagi.

Bukan perkara susah bagi Dany menilai cita rasa kopi. Sejak pensiun dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Kabupaten Lampung Utara, alumnus Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) ini, memang menyibukkan diri dengan berkebun kopi di kampung halamannya.

"Tapi momong cucu juga," ujarnya. 

Dany dan empat orang lainnya baru saja sampai di kantor Daerah Kerja Haji Indonesia di Makkah. Ia datang memakai ihram. Sejak empat hari yang lalu, mereka sebenarnya sudah mengambil miqot atau niat umrah. Namun, kelimanya tak bisa langsung menunaikan umrah wajib.

Jemaah haji ini terpisah dari rombongan ketika masih di Madinah. Sejak itu pula, Dany tak bertemu dengan sang istri, Rusnayah. Ia belum pula berhubungan langsung dengan pujaan hatinya itu.

Yang ia dengar, sang istri yang berusia 64 tahun itu sedang sakit karena memikirkannya, dan kini berada di salah satu hotel di Makkah.

Danysaat bertemu dengan istrinya, Rusnayah setelah empat hari terpisah. IDN Times/Faiz Nashrillah
Danysaat bertemu dengan istrinya, Rusnayah setelah empat hari terpisah. IDN Times/Faiz Nashrillah

Selama berbincang, Dany tak menceritakan soal kegelisahannya itu. Ia adalah gambaran pria Lampung yang tangguh, pandai menyimpan resah. Dani justru lebih banyak berkisah tentang masa mudanya.

"Saya dulu pernah ditawarin jadi camat sama senior saya. Senior saya di APDN dulu wakil bupati Way Kanan di Lampung. Saya gak mau, saya pilih jadi Satpol PP saja," katanya. 

Pria dua anak ini juga nyaris tak mengeluh soal mengapa ia akhirnya terpisah dari rombongan. Dany lebih pusing karena kehabisan rokok. "Saya ini tak bawa apa-apa. Ini rokok tinggal dua bungkus, itu juga dikasih orang," katanya.

Segera setelah kopi dan rokoknya habis, beberapa anggota Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), termasuk jurnalis dari Media Center Haji, memintanya masuk mobil untuk berangkat umrah wajib ke Masjidil Haram.

"Sudah siap. Pokoknya sudah kopi, sudah rokok. Sarapan juga tadi sudah dikasih petugas (PPIH)," jawabnya.

Di mobil, ponsel jadulnya tak berhenti berdering. Telepon dari kerabat di Lampung bergantian masuk. Dany memang baru bisa terhubung dengan keluarga, karena baterai ponselnya habis. Untungnya, di kantor Daerah Kerja Makkah ia dibantu petugas untuk mengisi ulang daya.

"Ah, tidak apa-apa aku. Ini sudah diantar sama jurnalis. Mau ke ka'bah. Masuk tivi nanti aku," ujarnya menjawab pertanyaan anaknya di ujung telepon.

Kepada petugas, sesekali Dany bertanya tentang tempat-tempat di jalanan Makkah. Rupanya Dany cukup antusiasme dengan pemandangan di kota agung ini. 

 

Dany saat bertemu dengan istrinya, Rusnayah setelah empat hari terpisah. IDN Times/Faiz Nashrillah
Dany saat bertemu dengan istrinya, Rusnayah setelah empat hari terpisah. IDN Times/Faiz Nashrillah

Setengah jam berlalu, mobil yang membawa Dany tiba di terminal Ajyad, Makkah. Setapak turun dari mobil, Dany langsung melempar pertanyaan.

"Mana ka'bahnya?" ujarnya.

Rasa penasaran Dany membuat langkahnya menuju Masjidil Haram menjadi ringan. Padahal, jarak dari terminal menuju Masjidil Haram lebih dari 500 meter. Belum lagi, suhu di Makkah sedang tinggi-tingginya, 41 derajat celcius. 

Sepanjang perjalanan ke ka'bah, ia bercerita tentang keinginannya berhaji. Dany mengaku sudah menantikan momen ini selama 12 tahun. Menyisihkan pendapatannya demi bisa berangkat bareng dengan istri. 

Raut muka gembira sekaligus haru terpancar dari wajahnya saat pertama kali melihat ka'bah. Dipandu petugas haji dari layanan bimbingan ibadah, Dany mantap melangkah untuk menuaikan thawaf. Tiga putaran pertama ia jalani dengan khusyu. Dany marapal doa-doa sepanjang lingkaran mataf atau tempat thawaf.

Namun, pada putaran keempat ia terlihat mulai gusar. Tapi lagi-lagi ia tak mau bercerita. Dany memilih fokus merampungkan putaran thawaf yang tersisa. 

Usai rehat sejenak, Dany dan rombongan lain bergegas menuju mas'a atau tempat sa'i. Namun, pegal mulai menghinggapi kaki tuanya. Dany memilih sa'i dengan layanan kursi roda. Tujuh kali ia mondar mandir dari bukit Shafa ke bukit Marwa. Setelahnya ia tunaikan salat zuhur.

Dany usai salat di Masjidil Haram. IDN Times/Faiz Nashrillah
Dany usai salat di Masjidil Haram. IDN Times/Faiz Nashrillah

Usai salat, raut wajah gelisah tak bisa lagi ia sembunyikan. Beberapa kali ia mencoba menelepon kerabatnya, namun tak satu pun tersambung. Ia kemudian menyerah, meminta bantuan petugas haji yang mendampinginya.

''Carikan nomor Wahyudi, orang KBIH. Saya ingin telepon istri saya. Istri saya tak bawa HP,'' ujarnya, sambil memberikan ponsel miliknya kepada petugas.

''Atau ini anak saya, Citra. HP saya tak bisa buat telepon,'' imbuhnya. 

Melalui ponsel petugas haji, Dany pun mengabarkan kepada sang anak bahwa ia sudah selesai melakukan umrah wajib. Tapi Dany belum lega. Ia kembali meminta petugas menghubungkannya dengan Wayudi. Dari Wahyudi inilah petugas mendapat nomor telepon Surpiyatno, jemaah lain yang sedang bersama Rusnayah. 

Tangisnya langsung pecah, saat pertama mendengar suara sang istri. Ia tersedu sambil menyeka air mata menggunakan kain ihram. Suaranya tercekat saat mengabarkan kepada Rusnayah tentang kondisinya. Ia lalu balik bertanya tentang kabar sang istri. Percakapan mereka tak lama, tapi cukup membuat haru. 

Sembari mengelap sisa air mata, Dany lalu bercerita tentang betapa Rusnayah adalah sosok perempuan yang begitu ia cintai. Kesan gagah sebelum berangkat umrah, runtuh di bukit Shafa. 

Dany lalu bercerita tentang awal mula pertemuannya dengan Rusnayah. Mereka pertama bersua dalam sebuah kesempatan pada 1983. Kala itu, Dany baru saja diterima sebagai salah satu petugas Satpol PP di Kecamatan Bukit Kemuning, Kabupaten Lampung Utara. Sementara Rusnayah adalah guru di tempat yang sama.

Cinta mereka sederhana. Hanya butuh dua tahun bagi Dany meminang gadis pujaan hatinya itu. Kini, setelah 39 tahun membina rumah tangga, Dany sampai pada satu titik kesimpulan. ''Kalau sudah pensiun itu kayak orang gak berguna. Apa-apa sekarang semua demi istri. Jadi makin sayang sama istri kalau sudah pensiun gini. Kamu nanti akan merasakan sendiri," ujarnya, berpesan.

Setelah rampung menunaikan umrah, Dany mendapat konfirmasi dari petugas haji tentang posisi rombongan sang istri menginap. Didampingi para petugas ia pun menuju ke hotel tersebut. Setibanya di lobi, dia terus menanyakan keberadaan sang istri. Dany mengira Rusnayah akan menyambutnya. Begitu tahu sang istri tak bisa turun, Dany segera mencari lift. Ia meminta petugas mengantarkan ke kamar sang istri. 

Setelah penantian panjang, akhirnya Dany tiba di lantai delapan, tempat istrinya menginap. Rekan satu rombongannya menyambut. Sebagian menangis, yang lain meneriakkan namanya. Di ujung lorong, tepatnya di kamar 818, beberapa orang berkumpul. Di sanalah Rusnayah terbaring. 

Pertemuan mereka berlangsung haru. Mulanya mereka hanya saling tatap tanpa berucap. Dengan mata basah, Rusnayah kemudian mencium tangan dan pipi Dany Mereka saling berpelukan sesaat, lalu beradu tangis. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
IDN Times Hyperlocal
3+
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya
Follow Us

Related Articles

See More

Empat Pria Divonis Bersalah di AS atas Pembunuhan Presiden Haiti

12 Mei 2026, 04:09 WIBNews