Spesifikasi KRI Canopus-936, Bisa Intip Dasar Laut Hingga 11.000 Meter

- KRI Canopus-936 resmi bergabung dengan armada TNI AL sebagai kapal survei canggih yang mampu menjelajah hingga kedalaman 11 ribu meter dan beroperasi nonstop selama 60 hari.
- Kapal hasil kolaborasi Indonesia-Jerman ini disiapkan menjadi kapal penyelamat kapal selam pertama RI, dilengkapi sistem Submarine Rescue Vehicle yang akan tiba dari Inggris pada 2027.
- Awak KRI Canopus-936 telah menjalani pelatihan di Jerman dan Prancis, dengan tingkat komponen dalam negeri mencapai 60 persen sebagai langkah menuju kemandirian industri maritim nasional.
Jakarta, IDN Times - Dentuman langkah modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) TNI kembali terdengar dari Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (11/5/2026).
Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto bersama Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Muhammad Ali, menyambut kedatangan KRI Canopus-936, kapal survei canggih yang digadang-gadang menjadi “mata bawah laut” terbaru milik Indonesia.
Kapal sepanjang 105 meter itu bukan sekadar kapal riset biasa. Di balik tubuh baja raksasanya, KRI Canopus-936 membawa teknologi mutakhir yang mampu “mengintip” dasar laut hingga kedalaman 11 ribu meter. Kemampuan tersebut menjadikan Canopus sebagai salah satu kapal survei paling modern yang pernah dimiliki TNI AL.
1. Disiapkan jadi kapal penyelamat kapal selam pertama RI

Tak hanya untuk riset dan pemetaan laut, kapal buatan kerja sama Indonesia-Jerman ini juga dipersiapkan menjadi kapal submarine rescue pertama Indonesia. Artinya, Canopus nantinya bisa menjadi tumpuan operasi penyelamatan kapal selam jika terjadi keadaan darurat di bawah laut.
KSAL mengatakan, KRI Canopus-936 akan menjadi bagian penting dalam sistem pencarian dan pertolongan kapal selam Indonesia. Nantinya, kapal ini bakal dipasangi Submarine Rescue Vehicle (SRV) yang saat ini sedang dibangun di Inggris.
“Jadi ini nanti merupakan kapal submarine rescue pertama yang kita miliki,” kata Ali di lokasi, Senin.
Ali menjelaskan, KRI Canopus-936 akan dilengkapi dengan kapal selam penyelamat yang diproyeksikan tiba pada Juni 2027 dari Inggris. Dengan sistem itu, kapal dapat melakukan operasi penyelamatan terhadap kapal selam yang mengalami gangguan atau disable di bawah laut.
Ali menjelaskan, selama ini Indonesia memang belum memiliki kapal penyelamat kapal selam khusus. Kehadiran Canopus menjadi lompatan besar dalam memperkuat kemampuan SAR bawah laut TNI AL.
“Selain berfungsi sebagai survei hidrografi, dia juga bisa melaksanakan pertolongan terhadap kapal selam apabila mengalami disable,” ujar dia.
2. Bisa operasi 60 hari dan “mengintai” dasar laut 11 ribu meter

KRI Canopus-936 datang membawa sederet teknologi canggih yang membuatnya berbeda dari kapal survei sebelumnya. Kapal ini mampu beroperasi hingga 60 hari nonstop di laut, serta melakukan survei mulai dari perairan dangkal hingga laut dalam berkedalaman 11 ribu meter.
Kemampuan itu ditopang berbagai sensor bawah air berteknologi tinggi asal Eropa. Di antaranya Remotely Operated Vehicle (ROV), Autonomous Underwater Vehicle (AUV), Unmanned Underwater Vehicle (UUV), hingga drone permukaan laut dan sensor sonar generasi terbaru. Kapal ini juga dilengkapi dua kapal kecil untuk melakukan survei ke daratan dan wilayah pesisir.
“Jadi kapal ini cukup canggih, dilengkapi peralatan sensor-sensor bawah air yang sangat berteknologi tinggi,” ujar Ali.
Selain untuk pemetaan laut dan survei hidrografi, teknologi tersebut memungkinkan KRI Canopus-936 mendeteksi ranjau laut, memetakan jalur kapal selam, hingga mendukung operasi intelijen maritim. Kapal ini juga mampu mendeteksi sinyal darurat dan mencari objek di dasar laut dalam misi kemanusiaan.
Tak cuma itu, Canopus turut dilengkapi Hydrographic Survey Launcher (HSL) dan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) untuk mendukung survei wilayah pesisir hingga laut lepas dengan akurasi tinggi.
3. Awak dilatih di Jerman, TKDN tembus 60 persen

Kecanggihan KRI Canopus-936 turut dibarengi kesiapan sumber daya manusia. KSAL memastikan para operator kapal sudah menjalani pelatihan intensif selama tujuh bulan di Jerman. Sebagian personel juga mendapat pendidikan tambahan di Prancis dan Indonesia.
“Kita sudah ada sekolah hidrografi. Bahkan ada siswa asing yang sekolah di Indonesia,” ujar Ali.
KRI Canopus-936 sendiri memiliki kapasitas hingga 100 awak. Kapal itu nantinya berada di bawah komando Pushidrosal dan bakal digunakan untuk mendukung survei di seluruh wilayah perairan Indonesia, termasuk Ekspedisi Jala Citra.
Menariknya, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) kapal ini diklaim mencapai 60 persen. TNI AL berharap, pengalaman pembangunan Canopus bisa menjadi pijakan menuju kemandirian industri kapal survei nasional.
“Mudah-mudahan berikutnya kita akan bisa membangun secara mandiri sepenuhnya di Indonesia,” kata Ali.



















