Hasil Survei: Elektabilitas Capres 03 Unggul Tipis, Pilpres 2 Putaran

Jakarta, IDN Times - Lembaga Indonesia Data Insight (Id-Insight) menemukan bahwa elektabilitas paslon nomor urut 03, Ganjar Pranowo-Mahfud MD unggul tipis dari paslon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Sementara itu, paslon nomor urut 01, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar berada di posisi terendah.
"John mencatat elektabilitas tertutup Ganjar-Mahfud jika (pemilu) dilakukan hari ini sebesar 35,6 persen. Sementara itu, Prabowo-Gibran di angka 33,8 persen, dan Anies--Muhaimin 26 persen," Kata Direktur Eksekutif sekaligus peneliti senior Id-Insight, John Muhammad, di Jakarta, Sabtu (10/2/2024).
Sementara itu, dalam simulasi kertas suara, Ganjar-Mahfud memperoleh 36,8 persen. Prabowo-Gibran mampu memperoleh 33,8 persen, dan Anies-Muhaimin 25,1 persen.
1. Simulasi head to head kandidat

Ilustrasi survei (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Dalam simulasi head to head, Ganjar-Mahfud menang dengan angka 53,8 persen saat melawan Prabowo-Gibran yang hanya meraup 41,1 persen.
Sementara, Ganjar-Mahfud menang jauh dengan angka 61 persen saat melawan Anies-Muhaimin yang hanya memperoleh 36 persen. Lalu, Prabowo-Gibran menang tipis dengan angka 48,4 persen dari Anies-Muhaimin yang memperoleh 47,5 persen.
2. Survei tangkap persepsi masyarakat ke Jokowi buruk

Presiden Joko Widodo (dok. Sekretariat Presiden) Dalam hasil survei, mereka juga mencatat sejumlah ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan Jokowi-Maruf Amin. Sekitar 42,12 persen responden menilai presiden gagal menciptakan lapangan kerja; 21,21 persen menilai presiden terlibat praktik putusan MK yang menyebabkan Gibran maju sebagai cawapres; 10,52 persen menilai presiden kurang tegas dalam pemberantasan korupsi; 6,92 persen responden tidak suka presiden karena tidak konsisten antara pernyataan dan perbuatan; lain-lain sebesar 8,46 persen dan ketidakpuasan penuh 10,77 persen.
Selain itu, responden meyakini bahwa Presiden tidak netral dan berpihak sebesar 67,2 persen, sementara yang yakin tidak berpihak 24,5 persen.
Kemudian, 63,3 persen responden tidak tahu program makan siang dan susu gratis untuk anak dan 36,7 persen responden tahu program tersebut. Dari data responden tersebut, sekitar 57 persen setuju program tersebut dan 37 persen tidak setuju program tersebut.
Sementara itu, sekitar 42,9 persen tahu program kartu sakti, dan 57,1 persen tidak tahu program kartu sakti. Sekitar 72,3 persen setuju dengan program kartu sakti, sementara 19,1 persen tidak setuju program kartu sakti.
Adapun survei itu digelar pada periode 1 sampai 8 Februari 2024 dengan melibatkan 1.200 responden, dan margin of error 2,83 persen.
3. Pilpres kemungkinan berlangsung dua putaran

Ilustrasi pemimpin (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa) Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Skala Data Indonesia, Arif Nurul Imam menilai, survei tersebut menguatkan pemilu tidak akan berjalan satu putaran.
"Ada satu persamaan bahwa pilpres ini terbuka lebar 2 putaran," ujar dia.
Arif juga menyampaikan terkait penurunan kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi. Temuan ini diyakini akan pararel dengan paslon yang didukung Jokowi. Saat ini, publik mempersepsikan Prabowo-Gibran sebagai capres yang didukung Jokowi.
Meski tidak berkampanye, persepsi publik bahwa Jokowi mendukung Prabowo-Gibran cukup kuat. Hal itu berimbas kepada penurunan elektabilitas.
"Kenapa ini menjadi penting? Karena antara kepuasan publik dan tingkat elektabilitas langsung atau tidak itu berkaitan erat di mana capres yang diendorse atau didukung presiden ketika tinggi maka elektabilitas potensial naik, tapi ketika tren kepercayaan publik menurun juga potensi elektabilitas turun," ucap Imam.
"Dampaknya adalah apakah pilpres 1 putaran atau 2 putaran itu salah satu faktornya. Kalau kemudian ini dibaca oleh publik bahwa peluang pilpres masih dua putaran, tentu ini akan menarik," imbuhnya.




















